“Orangtuaku”: Siapakah Gerangan?

Oleh: Irwanto
Guru Besar Psikologi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta; Senior advisor Center for HIV-AIDS Research Atma Jaya Catholic University; Co-director, Center on Child Protection, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Indonesia.

Baik anak maupun orangtua secara biologis tidak dapat memilih siapa orangtua atau anak mereka. Situasi yang demikian membuat kita berpikir, atas dasar apa hubungan anak dan orangtua itu diatur sehingga masing-masing lolos kualifikasi sebagai “anak” dan sebagai “orangtua”. Hubungan biologis, dianggap sebagai kriteria utama dalam hubungan antara anak dan orangtuanya. Hal ini terutama ketika dimaknai bahwa hubungan biologis itu (kopulasi seksual) disertai niat atau keinginan untuk mewujudkan hak dan kewajiban manusia untuk melanjutkan proses prokreasi, sehingga manusia sebagai spesies tidak lenyap dari muka bumi.

Meskipun demikian, hubungan antara anakdan orangtua secara biologis menjadi problematik ketika kelahirannya tidak direncanakan atau bahkan tidak diinginkan.  Hal ini terjadi karena kelalaian kedua pasangan untuk menjaga kehamilan atau karena adanya paksaan dan kekerasan dalam hubungan tersebut. Walau secara biologis dia adalah anak dari seorang pemerkosa, apakah dengan serta merta laki-laki yang memberikan spermanya itu disebut sebagai “ayah” atau orangtua anak? Bagaimana dengan status perempuan yang mempertahankan kehamilannya karena “terpaksa”. Dapatkah dia disebut sebagai Ibu dari anaknya?  Kalau hubungan “anak” dan “orangtua” hanya sebatas “biologis”, maka banyak sekali anak-anak yang bernasib malang.

Menjadi orangtua anak harus memenuhi beberapa kriteria yang menunjang kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak. Hubungan biologis tidak serta merta menjamin hal ini. Dalam hal seperti ini, maka kriterianya lebih bersifat sosial dan moral. Menjadi orangtua memerlukan rasa tanggung jawab terhadap pihak yang disebut anak dan komitmen terhadap tanggung jawab tersebut. Tanggung jawab itu banyak wujudnya. Memberikan kasih sayang, melindungi bahkan berkorban untuk anak, memastikan anak untuk memperoleh sandang-pangan-papan terbaik, memastikan anak dapat belajar secara formal maupun informal, memastikan anak dihargai pendapatnya dan diberi kesempatan untuk mandiri, dan lain-lain. Landasan moral bagi tanggung jawab seperti itu dapat dipetik dari kepercayaan atau agama yang menyebutkan anak adalah titipan dari Sang Pencipta yang Maha Kuasa, atau berdasar moralitas berbuat baik bagi sesama orang akan menciptakan dunia yang baik bagi semua orang.

Lagi-lagi tidak semua “orangtua” mampu menghayati dan mengimplementasikan komitmen terhadap tanggung jawab itu secara konsisten. Banyak orangtua yang berubah di tengah jalan, baik karena faktor eksternal, internal keluarga, maupun personal. Dunia yang makin dinamis ini dengan mudah dapat melempar komunitas yang hidup damai sejahtera dalam sekejab menjadi porak-poranda dan mencerai-beraikan keluarga. Kondisi ekonomi-politik di Indonesia yang masih tidak stabil dapat memicu konflik interpersonal atau komunal yang berakibat buruk bagi keluarga. Untuk itulah harus adasemacam safety net. Suatu sistem yang ditata oleh Negara untuk memitigasi dampak terburuk dari situasi-situasi yang dapat mengguncang bahkan meruntuhkan keutuhan keluarga.

Dalam konsep safety net, maka Negara hadir sebagai “Orangtua” atau Parens Patriae (parents for her country). Istilah ini banyak digunakan dalam Common Law di Inggris yang maknanya adalah Negara bertindak sebagai pelindung dan pengasuh warga negaranya yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dan melindungi diri mereka sendiri[1]. Negara bukan saja sebagai institusi, tetapi juga sebagai agregasi perwujudan tanggung jawab moral bagi setiap warganegara terhadap warganegara yang lain. Di Indonesia, prinsip ini dituangkan dalam pasal 34 UUD tahun 1945.

Mengapa prinsip Parens Patriae ini perlu diwujudkan dalam wacana publik? Karena alasan bernegara adalah untuk hidup bersama dalam sebuah wilayah yang sama dengan mengatur sumberdaya yang ada seadil-adilnya dengan mandiri. Hidup bersama itu tidak mungkin terwujud jika ada di antara warga Negara yang terlantar, terpinggirkan, bahkan terlupakan di antara warga Negara lain yang hidup berlebih bahkan berkelimpahan. Kenyataan inilah yang dijadikan dasar dalam Sustainable Development Goals (SDGs).  Jika kita mau hidup bersama di bawah satu atap langit yang sama, maka tidak boleh ada satu manusiapun yang tertinggal dalam menikmati hasil-hasil pembangunan. SDGs menyatakan bahwa dalam setiap tujuan yang hendak dicapai disepakati bahwa jika ada satu manusia yang terlupakan, maka tujuan itu tidak dapat dicapai. Oleh karena itulah, dalam kesepakatan global ini komitmen pemerintah dan penerapan instrumen HAMdiperkuat.

Apa maksud dari tulisan ini?

Mengingatkan setiap orangtua akan tanggung jawab mereka terhadap anak itu penting. Tetapi tugas dan tanggung jawab para aktivis perlindungan anak bukan hanya sebatas itu. Kita harus realistis bahwa tidak semua orangtua sanggup menjalankan tangung jawab dan komitmennya pada anak-anak mereka. Tugas dan tanggung jawab yang lebih besar adalah memperjuangkan keadilan sosial dengan memastikan bahwa Negara hadir sebagai “Orangtua” anak-anak di seluruh wilayah negeri ini tanpa pandang bulu. Dengan demikian, tidak ada seorang anakpun tertinggal dalam menikmati hak-hak hidup dan tumbuh kembangnya di Nusantara yang indah ini.

 

                                                                                                                                                                           Bintaro, 12 Februari 2017
                                                                                                                       Ditulis dalam rangka peluncuran Kampanye Tahun 2017
                                                                                                               “KELUARGAKU PELINDUNGKU” oleh Yayasan Sahabat Anak
                                                                                                                                                  pada Hari Sahabat Anak 17 Februari 2017.
[1] Terjemahan bebas dari definisi yang diunduh dari Legal Information Institute (LII), Cornell University – https://www.law.cornell.edu/wex/parens_patriae

Memberdayakan Volunter Sebagai Ujung Tombak Pemenuhan Hak-Hak Anak Marginal

Sahabat Anak merupakan organisasi sosial yang digerakkan oleh volunteer untuk memperjuangkan hak-hak anak, khususnya anak marginal (anak jalanan, anak terlantar dan anak miskin total). Dengan semakin ditegaskannya hal ini dalam strategic plan untuk lima tahun ke depan, pelibatan volunter menjadi fokus utama untuk mencapai tujuan tersebut.

Mengapa? Dalam konteks Sahabat Anak sebagai komunitas,volunter menjadi ujung tombak dalam pemenuhan hak-hak anak marginal. Dalam implementasinya, volunter yang berhadapan langsung dengan dik-adik, berinteraksi dengan mereka, mengajar, dan bermain bersama.

Peran volunter sangatlah berarti bagi anak-anak. Seperti yang diungkapkan oleh Bang Alles Saragi, Direktur Operasional Sahabat Anak, bahwa dengan menjadi volunter yang dekat dengan anak kita bisa menghargai pendapat anak dan memberi mereka ruang untuk menentukan pilihan, serta menginspirasi anak-anak dalam mengembangkan karakter yang baik.

Dalam pengalaman di SahabatAnak, kakak-kakak volunter  yang datang pasti disambut hangat oleh adik-adik. Jika kakak volunter tidak datang, mereka pasti juga dicari oleh adiknya. Tidak bisa dipungkiri bahwa adik-adik banyak terinspirasi oleh kakak-kakak pembinanya, terbukti saat ini ada beberapa adik yang telah menjadi kakak volunter bahkan menjadi coordinator di salah satu area yang dulu membinanya, dan saat ini siap untuk menjadi Pembina bagi adik-adiknya. Mereka menggantikan kakak volunter menjadi role model bagi adiknya sebagai mana dulu dia menjadikan kakak volunter sebagai role modelnya.

Dalam kerja sosial volunter ini, bukan hanya adik-adik  yang terinspirasi dari kakak volunter, tetapi volunternya pun mendapat pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga dari kehidupan adik-adik. Mereka belajar tentang perjuangan hidup, rasa kekeluargaan yang kuat, dan penghormatan kepada orang tua. Mereka semakin mensyukuri hidup, dan berusaha untuk memberi dampak yang lebih baik.

Seperti kata Kak Tio, salah satu volunter Sahabat Anak Cijantung  yang telah menemukan serunya menjadi volunter dan bisa bersentuhan dengan anak-anak;

“Menjadi volunter di Sahabat Anak merupakan pengalaman baru dan akan menjadi cerita dari bagian hidup saya, semakin lama terlibat, semakin nemuin seru dan asiknya, ternyata masih banyak anak-anak yang kurang beruntung apalagi bersentuhan langsung dengan mereka.”

Kebayangkan betapa sinergisnya relasi antara kakak volunter dan adik? Maka dari itu, nggak perlu jauh-jauh untuk mikirin bagaimana caranya bisa berkontribusi dalam pemenuhan dan perlindungan hak-hak anak.

Menjadi volunter bisa menjadi salah satu cara untuk terlibat dalam perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak. Dan kuncinya adalah dengan menyadari bahwa semua anak termasuk juga anak-anak marginal adalah ciptaan Tuhan yang berharga dan berhak untuk dilindungi dan terpenuhi hak-haknya.

Selamat Hari Volunter Internasional!

                                                                                                                                     

                                                                                                                                                                         Penulis: Ardina Wulantami
                                                                                                                                                                        Editor: Walter Simbolon


 

 

National Teacher’s Day 2016

Happy Teacher's Day.png

Did you know that National Teacher’s Day in Indonesia is as old as World Teacher’s Day?

World Teacher’s Day was proclaimed on October 5th 1994 by UNESCO to celebrate teachers around the world. A month later in the same year, on the anniversary of PGRI (Republic of Indonesia’s Teachers Union), a presidential decree was issued to commemorate the day as National Teacher’s Day.

Below are some quotes in appreciation of teachers who have shaped our minds and lives.

 

“If you are planning for a year, sow rice; if you are planning for a decade, plant trees; if you are planning for a lifetime, educate people.” ― Chinese Proverb

“Those who know, do. Those that understand, teach.” ― Aristotle

“A good teacher is like candle – it consumes itself to light the way for others.” ― Mustafa Kemal Atatürk

“One child, one teacher, one book, one pen can change the world.” ― Malala Yousafzai

“Teach the children so it will not be necessary to teach the adults.” ― Abraham Lincoln

“Share your knowledge. It is a way to achieve immortality.” ― Dalai Lama XIV

“The mediocre teacher tells. The good teacher explains. The superior teacher demonstrates. The great teacher inspires.” ― William Arthur Ward

 

Our gratitude to the heroes without medal. Happy National Teacher’s Day!

Hari Guru Nasional 2016

selamat-hari-guru

Tahukah Sahabat bahwa Hari Guru di Indonesia sama usianya dengan Hari Guru Internasional?

Hari Guru Internasional (World Teacher’s Day) ditetapkan pada tanggal 5 Oktober 1994 oleh UNESCO untuk merayakan para pendidik di seluruh dunia. Sebulan kemudian di tahun yang sama, bertepatan dengan ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Keputusan Presiden menetapkan tanggal 25 November sebagai Hari Guru.

Berikut adalah kata-kata mutiara untuk menghargai jasa guru yang telah membentuk pikiran dan hidup kita.

“Jika kamu berencana untuk setahun ke depan, tanamlah padi; jika berencana untuk sepuluh tahun, tanamlah pohon; jika untuk seumur hidup, didiklah orang-orang” ― Peribahasa Cina

“Mereka yang tahu, melakukan. Mereka yang mengerti, mengajar.” ― Aristoteles

“Guru yang baik itu ibarat lilin – membakar dirinya sendiri demi menerangi jalan orang lain.” ― Mustafa Kemal Atatürk

“Satu anak, satu guru, satu buku, satu pena dapat mengubah dunia” ― Malala Yousafzai

“Didiklah anak-anak agar nantinya orang dewasa tidak perlu dididik.” ― Abraham Lincoln

“Bagikan ilmumu. Itulah cara mencapai keabadian.” ― Dalai Lama XIV

“Guru yang biasa memberi tahu. Guru yang baik memberi penjelasan. Guru yang ulung menunjukkan. Guru yang hebat mengobarkan hati.” ― William Arthur Ward

Terima kasih kami kepada para pahlawan tanpa tanda jasa. Selamat Hari Guru Nasional!

Nutrition, Happy, Gambir

Perut kenyang, hati senang” (When stomach is full, so is heart). We often hear the expression, and sometimes experience it ourselves. For instance, when we were in the office and it was lunch time, our stomachs growled because it was hungry. And then, by 3 p.m. we started to look for snacks. If we, as adults, are very careful of what we eat, what about our children?

The theme raised on the 7th day of Sahabat Anak’s Day Campaign Road Show was “Gizi Untuk Prestasi” (Nutrition for Achievement). The road show on that day was held in Gambir, and the team socialized the information about healthy food. The slogan was 4B: Bergizi, Berimbang, Beragam and Bersih (Nutritious, Balanced, Various, and Hygienic). The slogan was recited with moves and songs to help the children get interested and remember easily.

The game played in the road show was a giant Ular Tangga (Snakes and Ladders), with a giant dice. The children were divided into groups and each group had their own representative as a pawn. They were challenged with questions and then they had to sing the 4B song, did squat-jumps together, named protein sources, gave examples of healthy snacks and so on. Through the game, the kids became more enthusiastic and it was easier for them to absorb the information. There were 60 kids from Gambir and Pejambon participated in this event.

In the parental session, the event was equally hype. We realize that a mother’s role in a family is essential because they control the family’s meal and instruct the children to avoid unhealthy food. Food is served not only for pleasure, but we also need to consider the balance and sufficiency of its nutrition, such as carbohydrate, protein, fat, vitamin, and fiber. However, the menu should also have enough variety of food to prevent boredom.

Ibu Suratinah, one of the participating parents in Gambir, told her story. In their home, because the parents were often off to work hurriedly; they chose to give the children money to buy snacks or food from warung (small store). She was happy because during the session they were reminded that preparing and cooking their own meal was also quick and inexpensive. Also, even though they give money to their children to buy food, as parents they need to educate the children to buy healthy snacks.

At the end of the event, all the participants and volunteers were given packed of healthy meal: cooked rice, tofu nugget, cooked vegetable, and a banana.

We would like to thank PT. Kalbe Nutritionals (Fitbar) for the support. Thanks to Miranti and friends for the lunchboxes and drinks for the children. Also, we would like to thank all the sponsors and donors, and chaperone volunteers who were always in their full spirit to conduct the event.

This week, the children are in their preparation for Ujian Nasional (National Examination). Let’s pray for them so they can give their best, continue to the next level, and reach their dreams. Let’s continue to support the fulfillment of their rights to nutritious and healthy food; for a better generation; for a better Indonesia!

The story of a slice of pudding

“What is this called, Kak?”

“It is called pudding, silky pudding. Try it!”

“It’s delicious. I’ve already ate it too!”

The above conversation happened at the end of a roadshow session in Sahabat Anak Cijantung after they received their goodie bags and walked to an empty land to take a picture together. On Sunday (May 22nd 2016) we held the 7th roadshow for Sahabat Anak’s Day 2016 Campaign with the theme“Gizi Untuk Prestasi” (Nutrition for Achievement). This time there were 80 children, 56 parents, and 30 volunteers participated in 2 kinds of activities in different spots at Sahabat Anak Cijantung.

During the parents’ session, Dhilla led the activities with excitement so the participants were also enthusiastic by speaking up their opinions. After Ezria and Ayu presented the 4B (Bergizi, Berimbang, Beragam, Bersih) material, all participants were divided into small groups to share their own daily menu in their family. Generally, the parents already know the importance of providing healthy food to their children, however, the issues are snacking habit and being picky with food. When the cooking demo started, the parents got excited and they started to chit-chat with Andra, the chef, so the atmosphere of the evening was fun.

On the other session, Sammy led the children with his energic and cheerful style. “Healthy food consists of rice, vegetables… oncom, orak-arik tempe…” said one of the participants. When Imelda and Dian asked the participants about their future, it seems clear that they have a dream. Therefore, eating healthy food is very important.

The interesting thing is there were a few volunteers who got involved for the first time in the roadshow, which are Miranti and her team, who not only serve as the benefactors but also as chaperonesthat evening. Here is what Miranti had to say:

We are good friends and we used to worktogether in the same company, but now we work separately. Why we want to join this campaign? Initially, we wanted to hold an event at a shelter.We made a list of shelters in Jakarta and looked up their profiles. We look for a shelter that has a clear program and well managed too. After we look up the profiles, we chose Sahabat Anak. At first we wanted to make our own program, but Sahabat Anak is already campaigning about “Gizi Untuk Prestasi” (Nutrition for Achievement). Because lacking of nutrition is one of many health issues we decided to support the campaign. When I talked to Aty (Sahabat Anak’s Public Relation) it turned out that our concept is exactly the same. We decided to support this campaign by supplying the lunchboxes and drinks, and then packing-in. We fundraised by asking our friends and our bosses who are interested in this matter, and also made a proposal, flier and spread the brochure.This is our first experience. When we spread the proposal, there were rejections, and complaints because there was very little narrative, due to our busy schedule, our proposal is very simple but in the end we were grateful that we got more than we needed.” she said.

That’s it. We feel happy if this activity could involve the society to fulfill Indonesian children’s rights,especially to havenutritious food. No matter how busy we are, there is always something we can do to help them. See you in the next  “Gizi Untuk Prestasi”roadshow at Sahabat Anak Gambir on Sunday (May 29th 2016) at 2 PM – 4 PM!!

We would like to say thank you especially to our supporter PT. Kalbe Nutritionals (Fitbar) for giving packagesof nutritious food and to Miranti and her friends for supplying the lunchboxes and drinks for Sahabat Anak Cijantung that evening.

 

 

88 Tahun Sumpah Pemuda: Mencintai Kembali Bahasa Indonesia

88-tahun-sumpah-pemuda-1

Apa hubungannya Sumpah Pemuda dengan Bulan Bahasa dan Sastra yang diadakan secara nasional? Untuk mengetahuinya kita perlu menengok sejenak ke sejarah tercetusnya Sumpah Pemuda.

Hingga periode tahun 1925, cukup banyak pemuda Indonesia yang telah mengecap pendidikan bahkan hingga tingkat pendidikan tingggi. Hal ini menyebabkan mulai terbentuknya berbagai organisasi kepemudaan, seperti Jong Java, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Soematranen Bond, Pemoeda Kaum Betawi, dan sebagainya. Namun berbagai organisasi ini sifatnya masih kedaerahan.

Kemudian, Kongres Pemuda Pertama dan Kedua diadakan di Batavia (Jakarta) pada tahun 1926 dan 1928 berdasarkan keinginan yang sama: mempersatukan berbagai organisasi kepemudaan yang ada di Indonesia karena memiliki kesamaan tujuan dan cita-cita. Di Kongres Pemuda II inilah, Sumpah Pemuda, yang menjadi tonggak sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia, diikrarkan pada tanggal 28 Oktober 1928.

Pertama:
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea:
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga:
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bah
asa Indonesia.

Ikrar yang diucapkan 88 tahun lalu ini menjadi tonggak sejarah perjuangan Indonesia, yang membawa kita ke dalam kemerdekaan 71 tahun yang lalu. Bahasa Indonesia menjadi jati diri dalam pengakuan bahwa kita bertumpah darah dan berbangsa yang satu: Indonesia. Memang benar semboyan bahwa bahasa menunjukkan bangsa. Hampir bisa dipastikan ke manapun kita bepergian di negara ini yang mencakup ribuan pulau dan ratusan bahasa daerah, kalaupun kita tidak mengerti bahasa penduduk setempat, kita masih bisa berkomunikasi dengan mereka dalam Bahasa Indonesia.

Pentingnya bahasa Indonesia sebagai identitas sekaligus pemersatu bangsa inilah mengapa setiap tahunnya sejak tahun 1980, Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan Bulan Bahasa dan Sastra menjelang dan selama bulan Oktober di berbagai wilayah di Indonesia, dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda. Puncak Bulan Bahasa dan Sastra ini akan dirayakan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober, setelah sebulan lamanya berbagai kegiatan diadakan di 30 provinsi.

Apa yang akan Sahabat lakukan di Hari Sumpah Pemuda? Teman-teman yang melakukan kegiatan sukarela mengajar bisa melakukan kegiatan semacam bulan atau minggu bahasa yang menjadi ajang berkekspresi dan berkarya, sekaligus meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia mereka. Rekan-rekan yang menjadi orang tua atau di dunia pekerjaan dapat lebih mempraktikkannya dalam keseharian, seperti ketika berkomunikasi dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan keluarga dan rekan kerja. Atau mungkin Sahabat ada yang tertarik menjadikan tanggal 28  Oktober sebagai challenge day: sebisa mungkin sepanjang hari berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar :). Kalau ada yang tertarik, bisa lho mengacu ke Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Mari kita teruskan kecintaan berbahasa Indonesia, dan turunkan juga kepada generasi penerus kita.

4B untuk Sumbawa

Roadshow Gizi Untuk Prestasi di Sumbawa.JPGBerawal dari selintas niatan untuk bergerak di bidang sosial, terutama bagi adik-adik di daerah saya yang masih kurang beruntung dalam mengakses segala fasilitas dan informasi di bidang pendidikan. Tidak lebih dari dua bulan, niat tersebut akhirnya terwujud berkat bantuan dan kerja sama dengan teman-teman di Yayasan Sahabat Anak dan Fitbar Donor Kalori.

Mengusung tema “Gizi untuk Prestasi”, saya bersama 2 teman, Kakak Diyen dan Kakak Ary, tanggal 7 Oktober 2016mengadakan penyuluhan gizi di SDN Badas Sumbawa.

Acara yang direncanakan mulai jam 9 pagi, terpaksa mundur hampir satu jam karena kendala teknis.Listrik yang kami butuhkan untuk presentasi menggunakan laptop dan proyektor, tidak dapat digunakan.Kami hampir mengganti metode presentasi mengingat waktu terus berkutat. Dengan sangat supportive-nya, para guru membantu kami untuk berpindah kelas yang dilengkapi dengan aliran listrik. Itu pun diawali dengan daya listrik yang tidak cukup. Sehingga beberapa fasilitas yang perlu listrik seperti bel sekolah, harus mengalah kala itu. Maklum, sekolah ini letaknya cukup jauh dari pusat kota, minim akan fasilitas.

Awalnya, kendala ini sempat menyurutkan semangat kami. Namun, melihat antusiasme murid SDN kelas 4 dan 5, semangat kami mulai bangkit lagi. Mereka dengan sabar menunggu kami, dengan raut mukapenasaran akan apa yang kami bagikan. Penyuluhan yang diikuti oleh 35 siswa ini akhirnya bisa dimulai sekitar pukul 09.45 WITA .

Di permulaan acara, siswa dibagi menjadi 7 kelompok. Setiap kelompok dibagikan gambar 20 jenis makanan. Tiap kelompok memilih beberapa jenis makanan yang akan mereka letakkan di satu piring makan. Sebanyak 3 kelompok maju ke depan kelas untuk mempresentasikan menu makanan tiap piringnya.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman mereka akan menu makan bergizi dan berimbang. Beberapa kelompok sudah mampu menyusun menu makanan sesuai dengan konsep menu seimbang. Walaupun masih ada kelompok yang meletakkan nasi dan mie dalam satu piring. Namun, dengan penjelasan mengenai konsep 4B -yaitu bergizi, beragam, berimbang dan bersih – anak-anak akhirnya mampu menyusun menu makan sesuai dengan konsep tersebut.

Didampingi sekitar 6 guru, acara yang kami selenggarakan berjalan cukup kondusif. Anak-anak sangat aktif dan berani menjawab beberapa pertanyaan yang kami lontarkan. Mereka juga sangat antusias memperagakan gerakan Tepuk 4B. Video yang kami putar juga sangat menarik perhatian mereka. Hingga pada akhir acara, mereka cukup paham konsep 4B.

Secara keseluruhan, acara ini mendapatrespon luar biasa baik dari anak-anak serta pihak sekolah. Para guru di SDN Badas Sumbawa berharap agar kegiatan bermanfaat ini bisa terus dilaksanakan di sekolah-sekolah lain di Sumbawa Besar.

 

Titien, volunter

%d blogger menyukai ini: