Ratusan Ribu Anak Hidup Di Jalan, Apakah Pilihanmu?

Dian memberikan sharing di acara Grand Opening Rumah Sahabat.

Dalam hidup, kita tidak bisa lepas dari pilihan. Sejak bangun tidur, kita sudah dihadapkan pada berbagai pilihan: Baju mana yang akan kita pakai, apa makan pagi hari ini, jalan mana yang harus dilewati, dll. Ada masa dimana saya tidak yakin apakah saya memilih hal yang benar, bahkan ada kalanya saya menyesali pilihan yang sudah saya tentukan. Tapi satu pilihan yang saya yakini kebenarannya dan tidak saya sesali adalah pilihan untuk menjadi relawan di Sahabat Anak.

Di masa-masa awal memulai perjalanan hidup saya dengan Sahabat Anak, saya punya mimpi agar kehadiran saya dapat mengubah anak-anak jalanan menjadi lebih baik. Di setiap kesempatan bertemu dengan mereka, saya ingin ada hal baik yang dapat saya tinggalkan bagi mereka. Tahun berlalu,  lebih 10 tahun terlewati.  Saya tidak tahu seberapa besar mimpi saya itu terwujud, dan saya  juga tidak mengerti bagaimana mengukurnya. Saya tidak tahu seberapa banyak kehadiran saya membawa perubahan bagi anak-anak itu, hal baik apa yang telah saya tinggalkan bagi mereka. Tapi yang dapat saya pastikan, MEREKA TELAH MERUBAH SAYA.

Ini kenyataan, banyak sekali paradigma saya yang berubah sejak saya mengenal anak-anak itu sebagai SESEORANG, bukan SESUATU. Dulu saya melihat mereka dengan hati iba yang penuh rasa kasihan, memandang anak-anak jalanan sebagai sosok lemah yang tidak berdaya, mungkin sepertinya memang begitu. Tetapi saya salah, mereka adalah anak-anak yang sama dengan anak-anak lain di seluruh dunia, mereka juga punya talenta, mereka punya kelebihan, mereka punya kekuatan. Cobalah sekali-sekali berkunjung ke rumah belajar Prumpung dan lihat hasil lukisan anak-anak di sana. Saya yakin karya mereka tidak kalah dengan anak-anak yang ada di sekolah-sekolah favorit. Datanglah ke acara-acara pentas seni yang diadakan untuk menampilkan bakat-bakat mereka, tidak percaya rasanya anak-anak yang tampil dalam tarian, teater, maupun bentuk seni lainnya adalah anak-anak yang biasa berkeliaran di jalan untuk mengamen atau menadahkan tangan mereka untuk meminta-minta. Belum lagi beberapa anak yang berprestasi di sekolah saat mereka mendapat kesempatan kembali ke sekolah formal.

Lukisan karya anak binaan SA Prumpung

Otak saya pun berevolusi, pola pikir saya diubahkan. Saat saya mengasihani mereka, yang saya lihat adalah anak-anak jalanan lemah yang tidak berdaya, tetapi saat saya menghargai mereka, saya bisa melihat mereka sebagai anak-anak yang memiliki potensi.

Pelajaran hidup adalah hal berharga yang saya dapatkan dari mereka. Saya belajar berbagi dari seorang anak jalanan berusia 10 tahun. Suatu hari saya membelikan makanan bagi anak tersebut, saya belikan si anak 1 paket makanan siap saji yang terdiri dari 2 potong ayam dan 1 porsi nasi. Anak itu makan dengan lahapnya, saya juga makan bersama dengan dia. Tetapi akhirnya saya menemukan bahwa anak itu hanya memakan sepotong ayam dan setengah porsi nasinya. Saya tanya kenapa makanannya tidak dihabiskan? Dia menjawab: “Untuk emak, kak.” Benar-benar berasa ditampar rasanya. Baru-baru ini di salah satu acara kampanye “Suarakan Impianmu”, saya menemukan seorang anak berharap suatu saat nanti dia bisa menyenangkan hati orang tuanya, membuat mereka bangga. Yang membuat saya tidak habis pikir, bagaimana mungkin anak-anak yang seringkali  dijadikan “sumber ekonomi” keluarga itu, justru punya keinginan untuk membahagiakan orang tua mereka. Sungguh pelajaran hidup yang tidak ternilai buat saya.

Oh ya, ceritanya memang tidak selalu manis. Tidak sedikit dari anak-anak itu yang kembali putus sekolah, balik  ke jalan, bahkan menghilang. Tetap saja saya belajar dari mereka, belajar bagaimana kuatnya mereka hidup di tengah kehidupan yang keras. Mereka yang jauh lebih muda dari saya, jauh lebih kecil, jauh dari kenyamanan, tetapi mereka bertahan.

Bimbel Sahabat Anak Kota Tua

Di kemudian hari, akhirnya saya memang lebih banyak bersentuhan dengan para relawan dibandingkan bertemu langsung dengan anak-anak, sehubungan dengan tugas saya di Divisi Capacity Building. Divisi Capacity Building bertugas untuk memenuhi kebutuhan relawan dan memperlengkapi mereka dengan pelatihan-pelatihan yang dibutuhkan sebagai relawan, seperti pelatihan cara mengajar, cara berkomunikasi dengan anak, wawasan akan hak-hak anak, dll.
Dalam berhubungan dengan para relawan, saya juga belajar banyak hal. Saya selalu terkagum-kagum saat mendapatkan ratusan orang merespon positif dengan memberikan diri menjadi sahabat bagi anak-anak tersebut dalam setiap acara, saya sangat menghargai teman-teman saya yang selama bertahun-tahun hadir langsung bagi anak-anak, menjadi sahabat di setiap waktu di tengah kesibukan kuliah atau pekerjaan mereka, tanpa dibayar, bermodalkan hati dan kesetiaan.

Saya melihat orang-orang datang dan pergi. Pada akhirnya yang bertahan sebagai relawan adalah mereka yang tidak datang sebagai pahlawan dengan kekuatan super, tetapi mereka yang mau berbagi hidup, yang memandang anak-anak itu setara dengan mereka, yang melihat anak-anak jalanan sebagai manusia berharga, dan mau belajar dari mereka.

Dian bersama voluntir dari Sahabat Anak.

Kita diperhadapkan pada banyak pilihan. Sahabat Anak bukan satu-satunya pilihan. Ratusan ribu anak jalanan di berbagai tempat membutuhkan sahabat yang mau berbagi hidup dengan mereka. Atau bahkan mungkin kita yang membutuhkan mereka.

Apakah pilihanmu?

– Dian Novita Elfrida –

Iklan

About Sahabat Anak

Sahabat Anak is a non-profit organisation that provides quality education and children’s rights advocacy in an effort to encourage and inspire Jakarta’s street children to escape urban poverty. The movement began in 1997 after a group of university students made a commitment to make a difference in the lives of Indonesia's street children. As a volunteer-based organisation, Sahabat Anak aims to involve as many members of the community as possible to help improve the lives of street children.

Posted on 04/13/2012, in Bahasa Indonesia, Volunteers and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: