Kompleksitas Prumpung

Prumpung adalah satu daerah di Jakarta yang memiliki permasalahan multikompleks. Area perumahan yang rapat dan padat penduduk ini, terus bergumul dengan segala keunikannya. Rata-rata penghuninya berprofesi sebagai tukang/penjual patung di Pelabuhan Merak dan lampu merah, tukang cuci baju, pengamen, dan penjual gorengan.

Prumpung memiliki banyak anak yang putus sekolah. Entah karena alasan tidak ada biaya, tidak adanya kesadaran akan pentingnya pendidikan atau tidak adanya role model yang bisa menjadi panutan. Prumpung juga dikenal sebagai daerah lokalisasi ibukota. Tak heran bila menyebut nama Prumpung, tak sedikit orang yang berespon miring, mengaitkannya dengan dunia kemaksiatan.

Suasana Rumah Belajar Prumpung

Tahun ini adalah tahun ke-12 Sahabat Anak (SA) berada di Prumpung. Lebih dari 1 dekade, tidak serta merta menjadikan SA sebagai ahli akan kompleksitas Prumpung. Memang ada beberapa perubahan yang terjadi. Terutama pada sejumlah anak yang sedari kecil memutuskan untuk mengikuti Program Bimbingan Belajar (Bimbel) Sahabat Anak Prumpung. Anak yang tadinya berusia 7, 8 atau 9 tahun itu sekarang sudah remaja. Beberapa bahkan sudah ada yang bekerja dan kuliah. Bangga dan senang rasanya. Namun di sisi lain, masih ada keprihatinan dalam mencari cara tepat untuk mengentaskan kemalasan belajar dan mengentaskan mental tidak percaya diri di antara kanak dan remaja di sana.

Bimbel Prumpung kini diadakan 4 hari dalam seminggu, di mana tiap harinya diikuti jenjang usia dan kelompok anak yang berbeda. Berarti setiap anak hanya berkesempatan 1 kali seminggu mengikuti program belajar. Selebihnya, mereka habiskan dari sore hingga malam dengan bermain, menonton sinetron di televisi atau sekedar nongkrong dengan teman-teman untuk menjadi remaja gaul seperti yang mereka lihat di televisi atau dari lingkungan sekitar. Itulah budaya sosial yang terbentuk di sana.

Masih menjadi tantangan bagi SA untuk membangun kesadaran anak dan remajanya agar melengkapi diri mereka sendiri dengan belajar mandiri. Tanpa harus ada program bimbel, tanpa harus kakak voluntir mengingatkan.

Kami masih saja menemukan anak yang terbata-bata membaca atau kesulitan menulis, padahal usianya sudah di atas 10 tahun atau sudah duduk di bangku SD. Atas inisiatif anak binaan usia remaja SA Prumpung, muncullah Kelas Membaca yang dikelola oleh mereka sendiri.

Tahun lalu ada 2 remaja binaan SA Prumpung yang lanjut ke perguruan tinggi. Bersama dengan calon-calon mahasiswa dari area lain binaan Sahabat Anak, mereka diperlengkapi dengan Workshop Pengenalan Kampus. Mereka dibukakakan wawasan dunia kampus, SKS, peluang, dan tantangan yang ada.

Workshop Pengenalan Kampus SA 2011

Meski demikian, problema di lapangan tetap mereka hadapi. Indeks Prestasi (IP) semester pertama yang kurang dari 2, menunjukkan bahwa mereka belum bisa mengikuti semua mata kuliah terutama yang bahasa pengantarnya dalam Bahasa Inggris. Mereka juga mengalami culture shock dengan dunia kampus yang berbeda jauh dengan dunia sekolah mereka sebelumnya. Problema menonjol adalah kurangnya inisiatif untuk bertanya ke orang lain serta kurangnya rasa percaya diri bahwa mereka sama dengan mahasiswa lain terlepas dari latar belakang yang berbeda.

Tapi apapun alasannya, entah mereka belum siap menerima pelajaran di bangku kuliah, belum siap memasuki dunia kampus, atau tidak memiliki rasa percaya diri – ini merupakan PR tambahan yang masih harus dikerjakan Sahabat Anak untuk menjadikan adik-adik binaan siap hidup di manapun dan bisa bersaing di manapun. Menanamkan semangat juang untuk mereka sendiri. Serta kemampuan untuk melihat bahwa apapun latar belakang keluarga mereka atau komunitas asal mereka, mereka sama berharganya dan sama haknya dengan anak-anak lain.

Salam Sahabat,

Simsim

Iklan

About Sahabat Anak

Sahabat Anak is a non-profit organisation that provides quality education and children’s rights advocacy in an effort to encourage and inspire Jakarta’s street children to escape urban poverty. The movement began in 1997 after a group of university students made a commitment to make a difference in the lives of Indonesia's street children. As a volunteer-based organisation, Sahabat Anak aims to involve as many members of the community as possible to help improve the lives of street children.

Posted on 05/22/2012, in Bahasa Indonesia, Prumpung and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: