Pengesahan UU SPPA – Kado Hari Anak Nasional 2012

Disahkannya UU Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) pada hari Selasa lalu tanggal 3 Juli 2012 pada Rapat Paripurna merupakan gerbang awal untuk dapat melindungi hak-hak anak yang berhadapan dengan hukum serta dapat menjamin perlindungan bagi anak dalam peradilan pidana dengan pertimbangan terbaik untuk anak. Dalam UU SPPA ini terlihat perkembangan dalam sistem hukum di Negara kita dengan masuknya Keadilan Restoratif yang akan digunakan dalam penyelesaian perkara pidana anak dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga korban/ pelaku, serta pihak lain yang terlibat untuk mencari penyelesaian dengan mempertimbangkan kepentingan terbaik bagi anak, dengan tujuan pemulihan kembali pada keadaan semula, bukan pembalasan. Selain itu dalam pendekatan keadilan restoratif ini, juga mendorong peran serta masyarakat agar terlibat dalam penyelesaian perkara anak. Tidak lagi hanya menyasar pada “anak sebagai pelaku” – sebagaimana kesan yang muncul dalam persepsi masyarakat, tetapi lebih kepada bagaimana mendidik anak agar dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan mempertimbangkan kepentingan terbaik untuk anak tentunya. Sesungguhnya yang dibutuhkan adalah bagaimana mendidik, memperbaiki kerusakan, dan memulihkan keadaan seperti semula sehingga dapat terbentuknya kedewasaan pada para pihak untuk waktu ke depannya yang lebih baik.

Sejalan dengan masuknya Keadilan Restoratif yang diperlukan bagi penyelesaian perkara pidana anak, maka diperlukan juga Diversi yang dijelaskan dalam UU SSPA dapat digunakan untuk tindak pidana yang ancamannya di bawah tujuh tahun. Diversi ini merupakan poin penting yang mempunyai tujuan untuk menjauhkan anak dari proses peradilan pidana dengan cara pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana yang dijelaskan dalam Pasal 1 ayat (7) UU ini. Dalam pelaksanaan Diversi haruslah memperhatikan beberapa hal penting yang juga dijelaskan dalam Pasal 8 ayat (3) yaitu,

1. mempertimbangkan kepentingan korban
2. kesejahteraan dan tanggung jawab anak
3. penghindaran stigma negatif
4. penghindaran pembalasan
5. keharmonisan masyarakat serta kepatutan
6. kesusilaan dan ketertiban umum

Tidak hanya terkait dengan Keadilan Restoratif dan Diversi, tapi dalam UU Sistem Peradilan Pidana Anak inipun menjelaskan secara tegas tentang tata cara dan jangka waktu penangkapan, penahanan, klasifikasi pemidanaan. Hal-hal tersebut dapat digunakan agar tidak terjadi perampasan bagi kemerdekaan anak.

Selain poin-poin positif yang ada dalam UU Sistem Peradilan Pidana Anak ini, dilihat masih ada yang diperdebatkan terkait dengan batas usia anak. Meskipun sudah mengalami peningkatan dari UU Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak sebelumnya yang mengatur bahwa batas usia anak yang dapat dipertanggungjawabkan adalah 8 tahun sedangkan dalam UU Sistem Peradilan Pidana Anak ini menjadi 12 – 18 tahun batas usia yang dapat dipertanggungjawabkan dan 14 – 18 tahun batas usia yang dapat dikenakan penahanan, akan tetapi usia ini pun dinilai belum ideal karena dilihat dari perkembangan sisi psikologis anak serta dapat dilihat juga berdasarkan data UNICEF pada tahun 2005 untuk membandingkan dengan negara-negara lain terkait dengan batas usia minimal anak yang dapat dibawa pada jalur pengadilan di antaranya, Austria (14), Belgia (18), Denmark (15), Inggris (10), Finlandia (15), Perancis (13), Jerman (14), Yunani (12), Irlandia (7), Italia (14), Luxemburg (18), Belanda (12), Irlandia Utara (8), Portugal (16), Skotlandia (8), Spanyol (16), Swedia (15). Maka tidak dapat dijadikan alasan pula bahwa dalam hal ini diputuskan batas usia yang dapat dipertanggungjawabkan adalah 12 – 18 tahun, karena sudah adanya peningkatan dari UU Pengadilan Anak yang sebelumnya 8 tahun karena lebih ideal batas usia yang dapat dipertanggungjawabkan adalah dengan usia minimum 14 tahun.

Secara keseluruhan, dengan disahkannya UU Sistem Peradilan Pidana Anak ini tidak serta merta Pemerintah telah dapat mewujudkan perlindungan bagi Anak yang Berhadapan dengan Hukum sepenuhnya. Pemerintah masih memiliki hutang-hutang untuk menjamin dalam implementasinya setiap Anak yang Berhadapan dengan Hukum wajib mendapatkan Bantuan Hukum, karena banyaknya anak-anak tersebut harus berteman dengan penjara karena pidana ringan dan mereka tidak tahu bahwa mereka mempunyai hak untuk didampingi Kuasa Hukum dan mendapatkan Bantuan Hukum. Selain itu Pemerintah juga harus segera menyiapkan pendidikan khusus terkait anak kepada aparat penegak hukum, seperti polisi, jaksa, dan hakim. Pemerintah juga harus menyiapkan lembaga-lembaga khusus yang akan digunakan bagi anak yang berhadapan dengan Hukum (ABH) selama menempuh proses penyelesaian perkara pidana. Kita sebagai masyarakat sipil juga harus berperan aktif dalam mengawal implementasi Pemerintah terhadap UU Sistem Peradilan Pidana Anak ini karena akan berdampak langsung bagi anak-anak penerus bangsa Indonesia.
Selamat Hari Anak Nasional 23 Juli 2012!

Lana Teresa
Advokasi Sahabat Anak

About Sahabat Anak

Sahabat Anak is a non-profit organisation that provides quality education and children’s rights advocacy in an effort to encourage and inspire Jakarta’s street children to escape urban poverty. The movement began in 1997 after a group of university students made a commitment to make a difference in the lives of Indonesia's street children. As a volunteer-based organisation, Sahabat Anak aims to involve as many members of the community as possible to help improve the lives of street children.

Posted on 07/23/2012, in Bahasa Indonesia, Children's Rights and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: