Anak Berkebutuhan Khusus (Special Needs Children)

Tiga tahun yang lalu tidak pernah terpikirkan bahwa saya akan bekerja di bidang ini. Autisme, hanya sedikit yang saya tahu tentang kata itu. Pada akhirnya datang tawaran dari sebuah sekolah swasta di Jakarta sebagai asisten pengajar di bagian special education. Saya pun menerima tawaran tersebut. Semenjak itu hari-hari saya dipenuhi dengan berbagai hal dan pengalaman yang belum pernah saya temui. Awalnya banyak hal yang sangat asing bagi saya, tapi seiring waktu saya pun bisa beradaptasi dan bahkan saya merasa inilah yang saya cari. Selama saya bekerja dengan mereka begitu banyak hal yang saya pelajari dan dapati, baik itu dari segi akademik ataupun non akademik. “Kesabaran“ merupakan subjek yang sangat berharga bagi saya.

Special kids, saya lebih suka menggunakan istilah tersebut untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Pada dasarnya mereka sama dengan anak-anak pada umumnya, mereka mempunyai kemauan dan kebutuhan yang sama, hanya saja mereka punya cara tersendiri untuk mendapatkan ataupun melakukannya. Cara mereka itulah yang memang untuk orang awam mungkin terlihat unik dan “berbeda”.

Disini mereka juga belajar akademik seperti anak sekolah pada umumnya, hanya saja dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Mereka belajar menulis, membaca dan berhitung. Cara pengajarannya memang agak sedikit berbeda denga cara mengajar anak pada umumnya. Selain itu mereka juga mempelajari kemampuan non akademik, seperti : Life skill, terapi fisik, table manner bahkan business skill. Semua itu mereka pelajari dengan tujuan agar nanti ketika mereka besar dan dewasa mereka bisa berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain, singkat kata mereka bisa mandiri.

Disini saya belajar dan berusaha bagaimana meningkatkan keterbatasan yang ada pada anak special, begitu banyak hal yang harus mereka pelajari. Memang tidak gampang melakukan hal ini tapi dengan kerja keras dan ketekunan maka hal itu bukan menjadi sesuatu yang mustahil, dan akan menjadi hal yang sangat menggembirakan ketika anak-anak dapat mengembangkan keterbatasan yang ada.

Melalui tulisan ini juga aku ingin menshare sedikit tentang tanda-tanda yang sering terlihat pada penderita autisme:

1.    Menghindari kontak mata
2.    Lack of communication and initiative
3.    Cuek
4.    Kesulitan dalam bermain dengan teman sebaya
5.    Menyendiri – asik dengan diri sendiri
6.    Suka mengulang kata-kata – echolalia
7.    Tidak sadar akan bahaya
8.    Sering melakukan hal yang berulang-ulang (repetitive action)
9.    Jalan jinjit
10.    Tertawa/gigle yang berlebihan
11.    Kaku (Rigidness) dalam segala hal (schedule atau rutinitas)
12.    Terkadang tidak suka disentuh atau dipeluk
13.    Menangis, tantrum tanpa sebab yang jelas
14.    Senang bermain dengan benda yang berputar
15.    Hyperactive / extreme passivity
16.    Behaviour yang tidak biasa/ gerakan yang tidak biasa (Flapping hand or rocking and jumping)
17.    Tidak ada respon pada metode pengajaran biasa
18.    Hypo sensitivitas dan Sensitivitas yang berlebihan, contohnya terhadap sentuhan, suara, cahaya, dll.

Satu hal yang ingin sekali saya bagikan dengan sahabat, jangan pernah menganggap mereka itu lemah, tidak tahu apa-apa atau tidak dapat melakukan apa-apa dan juga jangan menaruh rasa iba atau kasian kepada mereka. Karena kasih sayang dan protective yang terlalu berlebihan akan berdampak tidak baik pada perkembangan mereka terutama psikologis mereka. Mereka akan cenderung lebih manja dan begantung (dependent) pada orang lain.  Perlakuan yang sewajarnya akan lebih membantu mereka untuk tumbuh.
Semoga informasi ini dapat membantu dan memberikan informasi bagi para sahabat.

Salam sahabat,
Rani Yacob
Special Educator
Founder of Kumpul Bocah Holiday Fun programme for Special Kids

Iklan

About Sahabat Anak

Sahabat Anak is a non-profit organisation that provides quality education and children’s rights advocacy in an effort to encourage and inspire Jakarta’s street children to escape urban poverty. The movement began in 1997 after a group of university students made a commitment to make a difference in the lives of Indonesia's street children. As a volunteer-based organisation, Sahabat Anak aims to involve as many members of the community as possible to help improve the lives of street children.

Posted on 08/07/2012, in Bahasa Indonesia, Opini, Pengalaman and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: