Impian Peserta Jambore Sahabat Anak XVI: “Saya Tidak Mau Ngamen Lagi”

“Suarakan Impianmu!” adalah tema yang diangkat Sahabat Anak (SA) sepanjang tahun 2012, bertujuan mengkampanyekan pemenuhan Hak Anak untuk Berpartisipasi, dalam hal ini untuk mengemukakan pendapat/suaranya. Tak pelak, dua event besar SA yakni Hari Sahabat Anak (HSA) berupa roadshow yang berlangsung dari Februari – Agustus dan Jambore Sahabat Anak (JSA) pada tanggal 7-8 Juli, pun mengusung tema serupa.

Pada salah satu sesi JSA, ada kesempatan bagi seluruh peserta yang merupakan anak kaum marjinal dari 18 area di Jabodetabek untuk menuliskan harapan/impian mereka di Kapsul dan Spanduk Harapan. Meski berstatus anak jalanan, anak pemulung, anak gerobak, anak keluarga miskin, dan kaum urban – harapan mereka mengandung semangat dan optimisme.

Dari total 1.192 harapan yang masuk, kami memilahnya dalam 5 kategori, berdasarkan buku “The Pattern of Human Concerns” oleh H. Cantril, yakni:

  1. Karakter pribadi
  2. Situasi ekonomi
  3. Situasi pekerjaan
  4. Hal-hal tentang diri
  5. Hal-hal tentang keluarga

Dari semua harapan yang mereka tuliskan, ternyata aspirasi terbesar (55%) ada pada kategori ketiga Situasi Pekerjaan. Dapat diasumsikan bahwa adik-adik memiliki keinginan untuk memiliki pekerjaan yang dianggap baik oleh mereka di masa depan.

Anisah (11): Menjadi pegawai negeri, membanggakan orang tua & semua keluarga.

May (13): Ingin menjadi vokalis band.

Mery (12): Aku ingin menjadi polwan supaya warga Indonesia terhindar dari narkoba dan pencopet.

Sidik (15): Aku ingin bisa mandiri dengan sekolah sambil kerja biar gak ngerepotin orang tua.

Ridwan (10): Menjadi ustad berceramah di mana-mana, di tv, mesjid raya, mesjid Agung, Istiqlal, dll.

Arif (9): Aku ingin menjadi tentara nasional utk menjaga Indonesia agar tidak dijajah bangsa lain.

Faisal (13): Aku ingin ngojek.

Dedy (14): Ingin menjadi pemain bola karena uangnya banyak.

Vina (13): Aku ingin menjadi dokter dan menyembuhkan penyakit tetangga dan orang tua.

Ramadhan (8): Ingin menjadi polisi karena bisa membantu menangkap maling.

Pempri (12): Aku ingin menjadi tukang bajaj.

Novita Sari (10): Menjadi bidan karena bisa membantu bayi-bayi.

Wistin (7): Aku ingin menjadi dokter Jambore Sahabat Anak.

Ari (12): Bapak mendapat pekerjaan yg lebih layak dari sekarang sebagai pemulung.

Chairul (17): Ingin mendapatkan pekerjaan yg layak agar aku tidak hidup di jalanan lagi.

Impian seorang adik

Selanjutnya, mereka juga memiliki keinginan yang cukup kuat untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Hal ini diungkapkan dalam aspirasi yang bertemakan pendidikan, peningkatkan keterampilan dan kemampuan diri, serta kualitas karakter yang bertumbuh.

Wahid (10): Mau membahagiakan ibu dengan membaca Al-Quran.

Sari (8): Ingin sayang pada ibuku, ingin sayang pada ayahku.

Junia (10): Aku ingin membantu ibu mencuci piring dan baju.

Shiva (8): Ingin jalan-jalan ke Benhil dan beli baju dengan uang tabungan sendiri.

(Unknown): Aku ingin kembali ke sekolah karena aku ingin orang tuaku bahagia.

(Unknown): Setahun ke depan ingin bisa Bahasa Inggris.

(Unknown): Ingin ranking di kelas dan mengurangi waktu bermain atau nonton tv.

(Unknown): Ingin menghargai dan tidak ngomong jorok.

(Unknown): Saya tidak mau ngamen lagi karena malas.

Impian adik-adik JSA XVI

Hal yang menarik adalah di tengah marjinalitas yang mereka alami, aspirasi tentang situasi ekonomi – dalam hal ini kepemilikan barang mewah, justru menjadi aspirasi yang paling jarang muncul. Dapat diasumsikan, hal yang dianggap penting saat ini oleh peserta adalah pengembangan diri serta pekerjaan masa depan yang cerah.

Insight yang bisa kami bagikan dari hasil temuan ini:

Peserta Jambore Sahabat Anak XVI memiliki cita-cita masa depan yang ingin digapai. Ini penting! Sebuah penelitian yangdilakukan oleh McCabe & Barnett pada tahun 2000 menemukan bahwa remaja yang tidak memiliki harapan positif akan masa depan dan tidak

menyadari bahwa setiap hal yang ia lakukan sekarang berdampak pada masa depannya, memiliki lebih banyak masalah, seperti tindakan kriminal, kehamilan di luar nikah, dan lain-lain. Lebih lanjut, McCabe & Barnett menemukan bahwa anak yang memiliki tujuan masa depan yang jelas memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami mobilitas sosial yang lebih baik, seperti peningkatan standar hidup.

Pekerjaan masa depan dan karakter diri menjadi hal yang penting bagi peserta Jambore Sahabat Anak XVI yang menunjukkan bahwa mereka memiliki keinginan untuk terus mengembangkan diri. So, teruslah berusaha meskipun menemui adik-adik yang “sulit” karena sebenarnya mereka masih punya keinginan untuk berubah dan bertumbuh.

Ulasan tambahan. Dari data, rentang usia peserta JSA XVI adalah 7-17 tahun. Nah, berdasarkan tahapan karier dari Donald Super, saat ini adik-adik berada pada tahapan Pertumbuhan (0-14 tahun) dan Eksplorasi (15-24 tahun). Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu adik-adik melalui tahapan karier tersebut dengan tepat?

Berikut hal yang bisa kita lakukan untuk adik yang masih dalam Tahap Pertumbuhan:

  • Fokus pada proses pendidikan agar mereka dapat mengembangkan kemampuan kognitif, sikap kerja yang dibutuhkan pada masa kerja nantinya. Ini merupakan hal yang sedang Sahabat Anak dan mitra-mitra sejenis kerjakan. Well done!
  • Informasi tentang berbagai jenis pekerjaan, mulai dari pekerjaan orang-orang terdekatnya, misal orang tua, keluarga, tetangga, kakak voluntir, dan sebagainya. Tentunya, jenis pekerjaan yang

benar-benar sebuah pekerjaan bukan hanya mendapatkan uang (seperti mengamen, mengemis, dll). Proses ini penting untuk membantu mereka nantinya menetapkan aspirasi yang realistis.

Lalu hal lainnya yang bisa kita lakukan untuk adik dalam Tahap Eksplorasi adalah:

  • Menceritakan secara lebih spesifik tentang berbagai jenis pekerjaan: apa saja yang dikerjakan, tingkat pendidikan yang dibutuhkan, ketrampilan yang dibutuhkan, dan lain-lain.
  • Bila ada kesempatan, alangkah baiknya mereka mencoba sendiri pekerjaan tersebut, misal adik yang ingin jadi guru diminta untuk mengajarkan temannya. Untuk bisa menilai kemampuan serta minat diri secara langsung.
  • Untuk adik yang bersekolah, dorong mereka untuk mengikuti ekstrakurikuler yang mereka minati.

Hal yang paling penting lainnya setelah bermimpi adalah bangun untuk mewujudkannya. Caranya dengan membuat rencana. Nurmi seorang ilmuwan yang membahas tentang orientasi masa depan mengatakan kemampuan merencanakan masa depan mulai muncul ketika anak mencapai usia 10-11 tahun dan akan terus meningkat seiring pertambahan usia. Ini penting karena menurut Nurmi, cara seseorang memandang dan merencanakan masa depan berhubungan dengan pembentukan identitas diri serta perilaku bermasalah yang nantinya mungkin dilakukan.

Kita bisa membantu adik-adik dengan membuat rencana dari hal yang sederhana, seperti membantu membuat jadwal belajar, membuat target tabungan untuk bisa jalan-jalan dengan menuliskannya, sampai merencanakan sekolah. Keteraturan dari hal yang kecil nantinya akan membantu adik merencanakan hal yang besar dalam hidupnya.

Demikian rekapitulasi harapan-harapan dari sesi sharing di Jambore Sahabat Anak XVI. Semoga bermanfaat ya!

“Suarakan impianmu? Ya! Lalu bangunlah dan berusaha gapai mimpimu!”

 

*Tulisan ini disarikan dari pengolahan data Hanna Tresya dan Nizar Zulfikar (anggota Sie Acara Panitia JSA XVI).

Iklan

About Sahabat Anak

Sahabat Anak is a non-profit organisation that provides quality education and children’s rights advocacy in an effort to encourage and inspire Jakarta’s street children to escape urban poverty. The movement began in 1997 after a group of university students made a commitment to make a difference in the lives of Indonesia's street children. As a volunteer-based organisation, Sahabat Anak aims to involve as many members of the community as possible to help improve the lives of street children.

Posted on 11/09/2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: