Monthly Archives: April 2013

KADO – Children And Volunteers Joining Forces To Create

100_4033

After a soft-launch on 17 February 2013, we are now ready for the next stage of the KADO project—introducing the children to their volunteer mentors and start creating Sunday, 28 April. Training for 250 volunteers was held on 13, 14, and 20 April.

Focusing on the theme ‘I’m precious, I create’ about 500 children and 250 volunteers are ready to meet up and develop something they can sell. The premise of this project is for children to be empowered through being entrepreneurs, being innovative and developing networks.

This project provides a new perspective for children. Instead of reverting to traditional means of making money, some of which aren’t healthy or safe for children, they can be inspired and driven by creating something. Whether it is a product or a service, a performance or exhibition. It starts with an idea and grows into a viable and profitable alternative.

The children will meet their volunteer mentors this weekend at Museum Mandiri in Kota Tua in a two hour session. In groups of ten children and five volunteers they will begin to develop their product or service.

Each group of children and volunteers will have Rp. 50.000,- to kickstart their operation. Part of their project will be to increase their capital investment from other sources such as sponsors.

They will need to develop and use project management skills to formulate a budget, production timeline and workplans to achieve their outcomes. Their goal will be, over the next two months, to develop a product or service for sale, a performance or exhibition, something that will benefit the community.

This activity can change mindsets and produce effective role models for entrepreneurship either through dedicated volunteers or through the children’s success in their project. It aligns with a child’s right to participate and be involved as decision-makers.

Entrepreneurship is currently a hot topic in Indonesia with mums opting to become entrepreneurs by developing home based businesses so they can still be available as their children grow up. Modeling entrepreneurship can change a work culture from one of job-seeking to job-creating. It is a valuable lesson to learn especially for Indonesia’s next generation. It is empowering knowing that you can be in charge of your own destiny. And what better place to start this lesson than with marginalized children who desperately need to break the cycle they live in.

A Chinese proverb sums up the process – Sow a thought, reap an action; sow an action, reap a habit; sow a habit, reap a character; sow a character, reap a destiny.

KADO is an Indonesian word for gift and the hopes for this project are that it will be a gift of learning and empowerment for the 500 marginalized children that will be involved.

Iklan

KADO – Taburan & Tuaian bagi Anak Indonesia

100_4033

Setelah soft-launching pada 17 Februari, kini kami masuk ke rangkaian KADO berikutnya–BAGI KADO, yakni mempertemukan adik-adik dengan kakak-kakak pendamping pada hari Minggu 28 April. Pelatihan 250 voluntir sendiri telah berlangsung 13, 14 dan 20 April lalu.

Berfokus pada tema “Aku Berharga, Aku Berkarya”, sebanyak 500 adik dan 250 voluntir siap untuk dipertemukan dan membuat sebuah Proyek Impian. Tujuannya adalah agar adik-adik yang berasal dari area jabodetabek Bandung ini dapat terlatih semangat entrepreneur, inovatif dan berjejaring.

Proyek ini memberi perspektif baru untuk adik-adik. Kontras dengan perspektif kuno bahwa menghasilkan uang itu tidak sehat dan aman bagi anak-anak, kini mereka bisa terinspirasi dengan membuat sesuatu. Apakah itu sebuah produk ataupun layanan, pertunjukan seni atau pameran bakat – hal itu dimulai dengan sebuah ide dan bertumbuh menjadi semangat dan profit (bila ada) sebagai bonus.

Setiapkelompok yang terdiri dari 10 adik dan 5 kakak pendamping, akan diberikan modal minimal yakni Rp 50 ribu untuk memulai proyeknya. Mereka akan mengembangkan dan menggunakan kemampuan manajemen proyek untuk merumuskan anggaran, membuat penjadwalan, dan waktu kerja. Tujuan yang akan mereka capai, selama dua bulan kedepan, adalah membuat sebuah produk atau jasa untuk dijual, penampilan untuk dipertunjukkan, atau sesuatu yang akan memberikan manfaat bagi komunitas/lingkungan sekitar mereka.

Ini aktifitas yang dapat mengubah pola pikir dan menghasilkan role model yang efektif untuk entrepreneurship, salah satunya melalui dedikasi kakak-kakak pendamping atau melalui diskusi adik untuk proyek mereka. Inilah realisasi dari memberi kesempatan anak berpartisipasi dan terlibat dalam pembuatan keputusan.

Entrepreneurship menjaditopikyang hangat diperbincangkan di tanah air. Awalnya ditujukan bagisekelompok ibu rumah tangga yang merintis usaha rumahan sehingga mereka tetap dapat membesarkan anak. Model entrepreneurship dapat mengubah budaya mencari pekerjaan menjadi menciptakanpekerjaan. Hal ini menjadi pelajaran yang bernilai,terutama generasi berikutnya. Adalah sesuatu hal yang menginspirasi ketika mengetahui bahwa seseorang dapat mengubah nasibnya sendiri, dan dunia anak-anak marjinal adalah tempat yang tepat untuk mempraktekkan ide ini, karena mereka sangat membutuhkan jalan keluar dari lingkaran kehidupan sekarang.

Sebait pepatah Cina berbunyi demikian:menabur pikiran menuai tindakan, menabur tindakan menuai kebiasaan, menabur kebiasaan menuai karakter, menabur karaktermenuai takdir.Karya Anak Indonesia (KADO) adalah sebuah taburan dari kami untuk menjadi tuaian bagi anak-anak Indonesia. Proyek ini akan menjadi kadopembelajaran dan pemberdayaan khususnya bagi 500 adik yang terlibat.

Satu Tindakan Sederhana Pada Hari Anak Jalanan Internasional

ISCD photo

Di berbagai belahan dunia tidak terhitung banyaknya anak yang beralamat di jalanan. Di wilayah Jakarta saja, angka pasti anak jalanan sangat beraneka tergantung dari sumber data mana yang hendak dikutip. Pada tahun 2009, dilapokan bahwa terdapat 20.000 anak jalanan di Jakarta.

Kementerian Sosial RI memperkirakan jumlah anak jalanan pada tahun 2011 mencapai angka 4.000 jiwa namun menurut perhitungan Komisi Nasional Perlindungan Anak angka anak jalanan mencapai 8.000 jiwa. Adapun perkiraan lainnya menyebutkan jumlah anak jalanan mencapai kurang lebih 12.000 jiwa.

Kenyataannya, sangatlah sulit untuk mendapatkan angka akurat. Ada hambatan untuk menghitung anak jalanan yang selalu bergerak dari lokasi satu ke lokasi lainnya sehingga perhitungan jumlah anak jalanan sukar untuk diandalkan.

Angka hanyalah angka; akan tetapi jumlah tersebut mengindikasikan besarnya persoalan anak jalanan. Permasalahan pokok dari persoalan ini adalah bukanlah mengenai angka statistik dari satu atau 20.000 anak jalanan, namun dari perlunya pihak-pihak yang menyadari dan menyumbangkan kontribusi untuk mengentaskan permasalahan ini. Selain itu, perlu ditekankan juga bahwa Indonesia, di bawah agenda Millennium Development goals, telah berkomitmen mengentaskan permasalahan anak jalanan pada tahun 2016.

Anak-anak memiliki hak-hak untuk menikmati standar kehidupan yang layak; diantaranya adalah makanan yang seimbang, layanan kesehatan dan sebuah tempat tinggal yang hangat dan bersih. Mereka memiliki hak untuk bermain dan berlajar,memiliki akses pendidikan dan tempat rekreasi yang aman. Mereka juga memiliki hak untuk bebas dari penganiayaan, pengabaian, eksploitasi, dan diskriminasi. Hak-hak tersebut merupakan hak dasar.Adalah suatu tindakan bijaksana untuk memberikan yang terbaik kepada anak dan bukan hanya hak-hak dasar saja.

Anak jalanan memiliki banyak keterkaitan dengan jalanan – mengingat banyak dari mereka tinggal di jalanan, bahkan bernafkah di jalanan. Ada juga anak jalanan yang masih memiliki keluarga, sedangkan anak jalanan yang lain terputus dari keluarganya. Terdapat banyak alasan yang menyebabkan persoalan ini terjadi, namun seringkali penyebab dari persoalan ini dapat ditelurusi  pada kemiskinan dan kekerasan.

Secara tidak resmi, semenjak tahun 2010 Hari Anak Jalanan Internasional diperingati pada tanggal 12 April setiap tahunnya.  Peringatan tersebut memberikan kesempatan bagi anak-anak jalanan dan juga kepada pihak-pihak terkait yang berjuang demi hak-hak mereka untuk menyuarakan dapat sikap dan dukungannya.

Jadilah pendukung hak-hak anak jalanan dengan menuntut agar hari anak jalanan diakui secara internasional oleh Persatuan Bangsa-Bangsa. Tunjukan dukunganmu di http://www.streetchildrenday.org/.

One Simple Thing to Do on the International Day for Street Children

ISCD photo

Around the world there are countless children who call the streets their home. In Jakarta alone, the figures vary depending on who you listen to. In 1999 it was reported that there were 20 000 in Jakarta. The Social Services Ministry estimate 4 000 street kids in 2011 but the National Commission for Child Protection said 8 000. There are estimates that say it is more like12 000.

In reality, you won’t get an accurate figure. It’s not like you can reliably count moving objects when you don’t know where to find them all.

The numbers are only numbers; they indicate the size of the problem. If it is one child or 20 000 children what really matters is that someone notices and something is being done about it. Indonesia has pledged to take its children off the streets by 2016 under its Millennium Development goals.

Children have rights – the right to an adequate standard of living which includes a balanced diet and a warm, clean bed, health care and a roof over their heads every night. They have the right to learn and play, to have access to education and safe havens for recreational activities. They have the right to be free from abuse, neglect, exploitation and discrimination. These are some of the basics rights but as anonymous said ‘mankind owes to the child the best it has to give’ not just the basics.

Street children have many connections to the street – some live on the street, some work on the street. Some street children still have family that they live with whereas others break all contact. There are a variety of reasons why but most can be traced to poverty and abuse.

Unofficially, International Day for street children is celebrated on 12 April each year and has been since 2010. This day provides an opportunity for the street children and those who champion for their rights to speak out.

Be a champion by demanding an internationally recognized day sanctioned by the United Nations. Go to http://www.streetchildrenday.org/ to lend your support.

The Theater Show by Marginalized Children Kreasi Anak Negeri 3

tiga foto 1

In Jakarta, on Sunday 17st of March 2013 Yayasan Sahabat Anak held a marginalized children theater show called “Kreasi Anak Negeri 3” (KAN). The event has been held annually for the past three years and it’s performed by one of the tutorial area of Sahabat Anak, Sahabat Anak Cijantung (SAC).

The theme of KAN 3 was “Jelajah Nusantara”. This theme was chosen by volunteers in Sahabat Anak Cijantung as they see many children who still doesn’t know about the Indonesian archipelago such as the provinces Indonesia, traditional houses, tradition tools, religions, ethnic groups, and race.

This year’s title performance of “Mustika Nusantara” included 60 kids, 10 volunteers, and 40 profesional volunteers.

The performance tells the story of three naughty boys whose punishment from Dewi Tara and Barong was to finds five Mustika Nusantara located in several regions in Indonesia, like West Sumatera, Bali, Central  Java, Maluku, and Borneo.

This Show was directed by Budi Jasin, his name is familiar in Indonesian theater and Budi Santoso has been a permanent instructor of KAN for the last years.

KAN 3 was held at Salihara Theater to introduce Sahabat Anak mission to the public. A total of 220 tickets were sold for Rp. 75.000,- and there were no empty audience seats. Many positive responses from the public were received.

The expectation from this event was to change public stereotype about street kids from an image of sloopy, uneducated, and naughty to a positively image of being valuable and talented if we give them the opportunity to develop.

See you at next performance Kreasi Anak Negeri 4

Salam Nusantara!!

Pentas Teater Anak Marjinal Kreasi Anak Negeri 3

tiga foto 1

Jakarta, Minggu 17 maret 2013 Yayasan Sahabat Anak menggelar Teater Anak Marjinal yang diberi nama Kreasi Anak Negeri. Acara yang diadakan ketiga kalinya ini dipersembahkan oleh salah satu area binaan Sahabat Anak yaitu Sahabat Anak Cijantung (SAC).


Kreasi Anak Negeri 3 Tahun ini mengangkat Tema Jelajah Nusantara, tema ini dipilih karena para sukarelawan melihat masih banyak adik-adik binaan yang kurang memahami wawasan nusantara seperti Provinsi-provinsi di Indonesia, Rumah Adat , Senjata khas Daerah, Agama, Suku dan Ras.

Acara yang menyuguhkan penampilan Teater berjudul Mustika Nusantara dimainkan oleh 60 adik binaan, dan 10 sukarelawan yang bergabung menjadi pemain drama. Acara ini melibatkan kurang lebih 40 sukarelawan professional.

Teater ini bercerita tentang Aksi 3 bocah nakal yang diberi Hukuman oleh Dewi Tara dan Barong untuk menemukan 5 Mustika Nusantara yang berada di beberapa wilayah di Indonesia, antara lain : Sumatera Barat, Bali, Jawa Tengah, Maluku, dan Kalimantan.

Pentas ini disutradarai oleh Budi Jasin, yang namanya tak asing lagi di kancah Seni Teater Indonesia serta Budi Santoso yang menjadi pelatih tetap KAN persembahan Sahabat Anak Cijantung selama tiga tahun berturut-turut..

Tahun ini penyelenggaraan KAN 3 dilakukan di Teater Salihara untuk lebih memperkenalkan misi Sahabat Anak ke masyarakat luas. Sebanyak 220 Tiket seharga Rp 75.000 terjual habis, bangku-bangku penonton pun tak bersisa. Berbagai Respon Positif dari masyarakat pun diterima.

Diharapkan penyelenggaraan KAN 3 ini  dapat mengubah stereotip anak marjinal yang urakan, tidak berpendidikan dan nakal menjadi citra yang positif, berharga dan berbakat jika diberi kesempatan untuk mengembangkan bakatnya

Sampai Berjumpa di Kreasi Anak Negeri 4…………..

Salam Nusantara !!!!!!

%d blogger menyukai ini: