Monthly Archives: Mei 2013

Learning The Art of Batik

Belajar Membatik diatas kain

Sahabat Anak has recently formed a new partnership that will produce benefits for everyone involved.

We all see the street children of Jakarta begging on median strips to earn a few rupiah a day. The reliance on these handouts becomes deeply entrenched and doesn’t give the children any skills for a different future. There is every possibility that they will remain in this cycle. Learning new skills can be the first step on the path to a brighter future.

Elsewhere, batik, part of Indonesia’s cultural heritage is at risk of being lost because of the making-a-quick-rupiah mentality in our fast-paced society.

Traditional batik takes time to produce, each piece is an individual work of art; each piece is hand crafted and unique.

Over the years the rise in machine printed batik has overshadowed the market, it being one of the shortcuts in our fast-paced our society.Skills and patience are needed to produce traditional batik which means it is at risk of becoming a dying artform if these skills aren’t passed on.

Alat membatik

The partnership between Sahabat Anak and Batik Semar, two of the organizations involved, is unique because it is giving marginalized children a new skill but also an opportunity to preserve part of their cultural heritage.

A third partner, Jakarta’s Textile Museum is providing the venue for the ongoing 40 week program.

Twenty three marginalized children had their introduction to the program on Sunday 19 May, 2013. Their program will be intense covering design, history, wax and dyes.

Mempelajari Seni Membatik

Sahabat Anak baru saja membentuk sebuah kerjasama yang akan mendatangkan keuntungan bagi semua pihak  yang terlibat.

Belajar Membatik diatas kain

Kita semua melihat betapa banyaknya anak jalanan di Jakarta yang mengemis untuk mendapatkan beberapa rupiah setiap harinya.  Ketergantungan ini telah tertanam cukup dalam, walaupun mereka tidak akan mendapatkan keterampilan baru apapun yang mampu mengubah masa depan mereka. Kemungkinan bagi mereka untuk terus berada dalam lingkaran tersebut sangatlah besar. Karena itu, mempelajari keterampilan baru dapat menjadi langkah pertama di jalan menuju masa depan yang lebih baik.

Di sisi lain, batik merupakan bagian dari warisan budaya Indonesia yang kelestariannya sedang berada di ujung tanduk. Hal ini terjadi karena di dalam masyarakat kita yang serba cepat seperti sekarang ini, terdapat banyak kecenderungan untuk mendapatkan uang secara instan.

Untuk memproduksi batik tradisional, dibutuhkan banyak waktu, dan kesabaran, karena masing-masing merupakan karya seni unik yang dibuat secara langsung dengan tangan.

Dari tahun ketahun, batik modern yang diproduksi oleh mesin telah mendominasi pasar, karena mereka telah menjadi pilihan praktis dari gaya hidup masyarakat kita saat ini. Sangatlah dibutuhkan keterampilan dan kesabaran untuk memproduksi sebuah batik tradisional, dan gawatnya keterampilan ini dapat hilang sepenuhnya  jika tidak  diturunkan ke generasi penerus.

Alat membatik

Kerjasama antara Sahabat Anak dan Batik Semar, dua organisasi yang terlibat, sangatlah unik karena kerjasama tersebut memberikan anak-anak marjinal sebuah keterampilan baru dan juga kesempatan untuk ikut melestarikan warisan budaya Indonesia.

Museum Tekstil Jakarta sebagai mitra ketiga, ikut membantu dengan menyediakan tempat untuk program yang akan berjalan selama  40 minggu ini.

Dua puluh tiga anak marjinal yang berpartisipasi telah memulai program ini pada Minggu, 19 Mei 2013. Program ini akan secara menyeluruh mengupas desain, sejarah, lilin dan pewarnaan batik.

KADO – And They Are Off and Creating

The 250 volunteers along with the 500 marginalized children in project KADO met for the first time last Sunday.

KADO - 1

During each of the two hour sessions, Disi and Samuel, the hosts for the day, got everyone excited in the courtyard of Museum Mandiri. There were sounds of dancing and singing and then the quiet of concentration as the groups thought about their project and what they can create.

KADO - 2

The project aim is to create a product, a service or a display that can benefit their environment. The project is about encouraging the children to learn self-development skills they can use to bring their own dreams to fruition.

This phase of the project goes for the next two months. Each group will focus on creating something they can sell. The final stage of the project will be held at this year’s Sahabat Anak Jamboree, on 24-25 August.

The concept for this project came from last year’s Sahabat Anak Jamboree. 1000 marginalized children were surveyed to find out what they dreamed of. Over half of the children dreamed of a good job and a better future.

Ralph Emerson said, “Dare to live the life you have dreamed for yourself. Go forward and make your dreams come true.”

KADO – Bergegaslah untuk berkarya

Pertemuan pertama antara 250 voluntir pendamping dengan 500 adik dalam acara KADO telah diselenggarakan pada hari minggu, 28 April 2013.

KADO - 1

 

Dalam sesi yang berlangsung selama dua jam, Disi dan Samuel, pembawa acara KADO, berhasil membawa suasana ceria di halaman Museum Mandiri. Terdengar suara nyanyian, tarian, dan juga keheningan ketika para peserta acara merenungkan esensi KADO dan dampak positif yang dapat mereka hasilkan.

KADO - 2

Proyek KADO bertujuan untuk menciptakan sebuah produk atau jasa yang dapat berguna bagi lingkungan dan masyarakat. Proyek ini juga bertujuan untuk mendorong anak-anak agar dapat mempelajari keahlian dalam berswasembada dan berwiraswasta, yang mana keahlian ini akan sangat berguna dalam mewujudkan impian mereka.

Tahap ini akan berlangsung selama dua bulan ke depan. Masing-masing kelompok akan memfokuskan diri dalam menciptakan sesuatu hal yang bernilai untuk dijual. Tahap terakhir dari projek KADO akan digelar pada Jambore Sahabat Anak 2013, yang akan diadakan pada tanggal 24-25 Agustus.

Konsep awal dari projek ini berawal dari Jambore Sahabat Anak 2012, dimana 1000 anak marjinal telah disurvey untuk mengetahui apa impian mereka. Sebagian besar dari mereka mendambakan perkerjaan layak dan masa depan yang lebih baik.

Jadilah berani untuk meraih hidup yang telah kau impikan, Majulah dan jadikan mimpimu nyata” – Ralph Emerson

%d blogger menyukai ini: