Monthly Archives: Juni 2013

World Day Against Child Labor Reminds Us that Children Have Rights

This week, on June 12, it was the World Day against child labor. This day has been recognized internationally since 2002 and the saddest part is that there is still a need for it.

Stories of abuse of domestic workers make their way to the media all too frequently and children are particularly vulnerable. As one example, six years ago a domestic child worker was tortured to death by her employer in Surabaya. The International Labor Organization’s child labor standards call for special attention to the situation of girls and for efforts to reach out to children at special risk.

Statistics from 2009 quoted 7% of Indonesian children between 7 and 14 years of age were classed as child workers. That was 2.3 million children. That was then.

More recently it was estimated that there are 3.2 million children between the ages of 10 – 17 years old in Indonesia engaged in employment with some involved in the worst forms of child labor.

In the cities they are more likely to be the children that stand at the street intersections trying to direct traffic for a few coins, or the children that are trying to sell cigarettes, or they are the children that knock on your car or taxi window at the traffic lights begging for money. In some city areas they are child sex workers.

In the rural areas they are working on plantations, or working on fishing boats or as domestic servants often not being paid for their labor anyway.

If each of us remembers our own childhood it seemed to disappear all too quickly. Child laborers are stripped of their rights to education, recreation, protection and physical safety. All children deserve to have their rights respected and honored.

image

Iklan

Hari Anti Pekerja Anak Sedunia: Anak Juga Memiliki Hak!

Minggu ini, tepatnya tanggal 12 Juni, kita memperingati Hari Anti Pekerja Anak Sedunia. Hari ini diperkenalkan di tingkat internasional pada tahun 2002, dan sayangnya hingga hari ini kita masih harus memperingati hari tersebut.

Begitu banyak kisah di media saat ini tentang penyiksaan tenaga kerja, dan anak merupakan pihak yang paling rentan terhadapnya. Sebagai contoh, enam tahun yang lalu seorang pekerja anak di Surabaya disiksa majikannya hingga meninggal. Pedoman pekerja anak yang dikeluarkan oleh Organisasi Buruh Internasional mencoba menarik perhatian terhadap situasi tersebut dan membentuk upaya untuk menangani anak berisiko khusus.

Statistik tahun 2009 menunjukkan bahwa 7% anak Indonesia berusia antara 7 hingga 14 tahun merupakan pekerja anak. Hal ini berarti 2,3 juta anak pada saat itu.

Kini, diperkirakan 3,2 juta anak berusia 10 hingga 17 tahun di Indonesia terlibat dalam hubungan kerja, dan banyak diantaranya yang harus mengalami pengalaman buruk sebagai pekerja anak.

Di kota besar, kebanyakan dari mereka adalah anak-anak yang berdiri di persimpangan jalan, mencoba mengatur lalu lintas untuk beberapa koin rupiah; anak yang menjual rokok; serta anak yang mengetuk jendela mobil atau taksi anda saat lampu merah, mengemis demi sepeser uang. Di beberapa kota lainnya, mereka merupakan pekerja seks.

Sedangkan di wilayah terpencil, mereka bekerja di perkebunan, di atas perahu nelayan atau sebagai pelayan yang seringkali tidak digaji. Semua karena mereka hanya dianggap sebagai buruh.

Jika mengingat masa kecil kita, masa itu sepertinya berlalu begitu cepat. Sedangkan para pekerja anak di luar sana tidak mendapatkan hak mereka untuk memperoleh pendidikan, rekreasi, perlindungan dan keamanan jasmani. Padahal, setiap anak berhak untuk dihormati dan dihargai!

image

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) untuk Anak Marjinal

Di sebuah rumah kontrakan di daerah Grogol, Rumah Karya, kami memiliki sebuah program PAUD.

Image

Anak-anak yang mengikuti program ini berusia antara lima sampai tujuh tahun, dan mereka memiliki satu persamaan: tidak memiliki akta kelahiran, seperti adik-adik di Sahabat Anak lainnya. Karena itu, mereka tidak bisa mengikuti sekolah formal.

Terdapat sebelas orang anak yang mengikuti kelas PAUD dari hari Senin sampai Jumat, dari pukul 9 hingga 11 pagi. Terkadang, beberapa mahasiswa turut hadir membantu mengajar adik-adik sebagai bagian dari program kuliah mereka. Namun jika dipandang dari sisi lain, sebenarnya anak-anak tersebut lah yang membantu para mahasiswa menyelesaikan studinya.

Sungguh ironis, anak yang tidak memiliki akses terhadap pendidikan justru membantu mereka yang memilikinya.

Program PAUD ini telah berjalan selama tiga tahun. Ketika para murid bernyanyi dan bermain seputar alfabet, ruangan belajar sontak menjadi ramai dan ceria. Selang beberapa permainan kemudian, ruangan pun menjadi sunyi setelah semua permainan selesai dimainkan. Anak-anak pun berkumpul di meja untuk belajar matematika. Sebagaimana anak-anak seusia mereka pada umumnya, mereka sangat cepat tanggap dan penuh rasa ingin tahu, karena mereka senang untuk belajar. Sayangnya, sebagai anak tanpa akta kelahiran, akses mereka terhadap pendidikan sangat terbatas, termasuk terhadap pendidikan formal.

Karena itu, mereka terkenal sebagai anak-anak yang rentan – rentan untuk menjadi anak jalanan. Untungnya,  mereka yang telah menjadi bagian dari Rumah Karya memiliki kesempatan untuk mendapatkan beasiswa ke sekolah swasta yang tidak membutuhkan akta kelahiran.

Ketika kelas berakhir, anak-anak bernyanyi sembari mengumpulkan buku sekolah mereka. Mereka mengucapkan selamat tinggal dengan mencium tangan guru mereka, dan menerima sekotak susu untuk diminum ketika mereka pergi.

Anak-anak ini masih memiliki harapan, harapan akan sebuah masa depan yang jauh dari jalanan. 

Early Childhood Education for Our Marginalized Children

In a rented house, Rumah Karya, Grogol, we run a daily early childhood education program.

Image

The children who attend are aged between five and seven. What they have in common is not having a birth certificate, like so many other children who are part of the Sahabat Anak family. For all of these children it means they can’t attend school.

Eleven children attend the classes from Monday to Friday between 9 and 11am. Occasionally university students come to help with the children as part of the course work for their degrees. But a second look shows that it is the younger children who are actually helping the university students achieve their goals.

It is ironic that the children who don’t have access to education are helping those that do.

The early childhood education program has been running for three years. The room is loud and cheerful as they sing a song and play a game that revolves around the alphabet. More games follow and then all falls quiet as the games finish. The children settle around the tables for math activities. These children are alert and bright and like all children that age, they love to learn. But their access to continue to learn is limited. It is limited to what is available to them as children without birth certificates. That limit equates to no formal education.

These children have been identified as vulnerable — vulnerable to becoming street children.  Being part of the program in Rumah Karya means they may be lucky enough to get a scholarship to go to a private school where there is no requirement for a birth certificate. 

As the class finishes for the day, each of the children sing while school books are collected. The children say their goodbyes with the touch of an adults hand to their forehead and they collect a carton of milk to drink as they leave.

For now these young lives have hope, hope for a future that keeps them from the streets. 

%d blogger menyukai ini: