Monthly Archives: Oktober 2013

Sekolah Mandiri is Open For Business

090720132631 1We have been running weekly tutorial lessons in Kota Tua with over 70 marginalized children attending sincne 2011.

Three months ago, proactive supporters of the street children of Kota Tua proposed the opening of an informal school for some of the many children who live here. After many late night meetings endorsement for a new school was given. Sahabat Anak runs an informal school in Jakarta Pusat, Pusat Karya Anak (PKA), for 25 children.

The new school, Sekolah Mandiri, was launched on 14 June. It is currently based in the Bank Mandiri Museum with two classes. Catering to 19 children the school is operational from Tuesday through to Friday for three hours each day.

It is early days yet and there is much work to be done. This positive reception the school has received means that longer term financial commitment is needed.

Sahabat Anak needs funding to continue this project and expand it. Funding is needed for resources such as pencils, chairs, tables, the provision of nutritional daily lunches, uniforms and eventually paid teachers and a permanent venue.

Volunteer teachers and tutors are welcome to contact the course coordinator Budi at if you can provide support during weekdays.

Anyone interested in making a donation, or receiving more information through a project proposal can contact for further details.


Sekolah Mandiri Sahabat Anak Kota Tua

090720132631 1Dorongan semakin kuat bagi kakak-kakak voluntir Sahabat Anak Kota Tua untuk membuka sekolah nonformal bagi adik-adik binaannya, khususnya bagi adik-adik remaja yang putus sekolah.

Proposal dan program-program telah dibentuk, juga kesiapan tenaga untuk mewujudkan sekolah nonformal telah dikerahkan. Hingga pada akhirnya, sekolah nonformal ini pun dapat terwujud.

Sekolah Mandiri, adalah nama yang disepakati untuk sekolah nonformal ini, telah dibuka pada tanggal 14 Juni 2013. Berlokasi di Museum Bank Mandiri yang dibuka dengan 2 kelas, melingkupi 19 anak dan memiliki jam operasional sekolah 3 jam per harinya yang dilaksanakan pada setiap hari Selasa hingga Jumat.

Pada awal pembentukkannya, dengan sambutan positif yang diterima, masih begitu banyak hal yang harus dilakukan.  Contohnya, adalah komitmen donasi dari segenap masyarakat yang sangat dibutuhkan untuk menunjang kebutuhan operasional Sekolah Mandiri. Kebutuhan operasional tersebut meliputi berbagai macam hal seperti alat tulis, meja dan kursi, asupan makan siang bagi anak-anak, seragam, upah pengajar, dan seluruh kebutuhan yang dapat meningkatkan produktivitas kegiatan pengajaran.

Masyarakat yang bersedia untuk menjadi tenaga pengajar dan pembimbing, khususnya yang memiliki waktu di hari kerja, sangat diharapkan untuk bersedia membantu kami dalam mengembangkan potensi anak-anak marjinal di bidang pendidikan, bisa menghubungi untuk informasi lebih lanjut.

Juga, bagi yang berminat memberikan donasi atau berkeinginan untuk mendapatkan informasi lebih detail mengenai proposal project Sekolah Mandiri ataupun kegiatan Sahabat Anak bisa mengirimkan surat ke



Birth Certificates – A Broken System and Little Changes

00 Akta Lahir 1

“Why are there are so many children, in Indonesia, who don’t have birth certificates and can’t attend school I asked? Is the system broken?  Don’t the process and the priorities of government work for the people?”

 “The system isn’t broken,” I was told. “There are regulations and requirements that have to be met.”

I need to do more research, why isn’t it working.

There is a documentary made in 2008 that stated Indonesia had 150 000 street children then. The latest reports say there are 50 million children in Indonesia without birth certificates. Other reports say between 9 and 22% of street children have birth certificates.

If there is a direct correlation between having a birth certificate and being a street child (which there is) then this increase over five years most certainly does say the system is broken.

A birth certificate not only acknowledges a child’s existence but their identity also. It recognizes their ties to other family members and the community where they are born. It is used to establish their future identity whether it is enrolling in schools, universities, getting married, getting a passport or a driver’s license. Their world can be very limited without one.

For research purposes it is an anchor used to track an individual from birth, through marriage to their death.

For governance purposes it adds to the reams of data needed to run a country efficiently because accurate data provides a clearer picture on which to base decisions. It helps the government plan for adequate education, health care, sanitation, employment and housing. It helps government divide up funds to financially support programs and to develop new ones. It establishes trends and demographic information in the country’s growth and development. Skewing that data means you are uninformed and ultimately can’t run a country as effectively as it could be.

One piece of paper can be so many things to so many people. Without it there is an immense impact.

Having a birth certificate means to the children they are counted and it recognizes their rights to be counted. This is a basic human right.

This was recognized in 1990 when the Convention on the Rights of the Child (Article 8–Preservation of Identity) was endorsed by the United Nations. Indonesia supported this recognition and created a child protection law that birth certificates would be issue and would be free. Creating this law but not enforcing it or giving it a priority has created an even bigger problem. And that problem continues to grow if there is no urgency to fix it.

It is now 2013, 23 years after this law was made and there are an estimated 50 million Indonesian children without birth certificates. Subsequent laws in Indonesia, such as the one that requires you have to have a birth certificate to go to a public school means these 50 million children are marginalized and aren’t able to access public education. There is no need to say these children are the same ones that can’t afford private education.

 Of course, there are many facets to this issue that make the waters muddy but the fact remains that millions of children are marginalized. Not one; not two; not even one hundred. Millions.

Changes to the Child Protection Law in 2002 meant birth certificate were free to get for 30 days after the birth of the child. After 30 days there are late fees, after a year you have to go to court to establish your child’s identity and this cost is more than a low-income Indonesian family can afford. So as time goes on there is a financial disincentive to register the birth of a child.

Creating and changing the law isn’t the problem; the problem lies in the implementation.  The population of Indonesia, scattered far and wide, simply have not been educated. We are 23 years down the track and there are still people in Indonesia, Indonesian citizens, who have no idea why they would need a birth certificate for themselves or their children.

Another factor that impacts on birth registration is that responsibility has been pushed to the district level of Indonesian government to do the registration. The Indonesian government handing power to its districts to manage this process has meant further obstacles have been created.

Some areas see it as a bid for revenue, they don’t recognize the importance of having this data and the cost of ‘free’ varies between districts. There are areas of no collaboration between the district department that issues the certificate and the doctor, nurse or midwife in the hospital or in the slum that delivers that child.

There is the issue of districts acting independently of national instructions. Some, deciding birth certificates aren’t necessary. This particular decision is one against human rights for all of the reasons listed.

The government of Indonesia needs to recognize this as a priority and educate not only its provinces, districts and local governments but its people as well. Having a birth certificate will slow the increasing trend of marginalization of Indonesia’s children and at the very least allow them access to education for a smarter next generation.

Michelle Unwin (Sahabat Anak’s PR)

Akta Kelahiran: Sebuah Ironi Bagi Sebagian Masyarakat Indonesia

00 Akta Lahir 1

Mengapa begitu banyak anak-anak Indonesia yang tidak bisa untuk daftar ke sekolah hanya karena tidak memiliki akta kelahiran? Apakah sistem ini begitu terpuruk? Bukankah prioritas kerja para pegawai pemerintah adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat?

Saya telah diberitahu bahwa bukanlah sistem yang terpuruk, tetapi ada peraturan dan ketentuan tertentu yang harus dipenuhi oleh masyarakat.

Dengan alasan seperti itu, saya harus melakukan sedikit research, mengapa hal tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Ada dokumen yang dibuat pada tahun 2008, dan menyatakan bahwa terdapat 150 ribu anak jalanan di Indonesia. Laporan terbaru, bahkan lebih mengejutkan lagi, ada lebih dari 50 juta anak di Indonesia lahir tanpa memiliki akta kelahiran. Laporan lain, menyatakan bahwa banya di antara 9 hingga 22 persen, anak-anak jalanan memiliki akta kelahiran.

Jika ada korelasi langsung antara sulitnya untuk mendapatkan akte kelahiran dan meningkatnya jumlah anak jalanan, maka pantaslah itu disebut sebagai sistem yang terpuruk.

Akte kelahiran merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi anak-anak yang baru lahir, apalagi di Indonesia, karena itu dapat memberikan pengakuan yang jelas mengenai identitas dengan siapa dan di lingkungan mana mereka berelasi. Ini, seperti halnya kartu identitas pribadi, digunakan untuk mendaftar ke sekolah dan universitas, mendapatkan paspor atau SIM, maupun untuk melengkapi berkas pernikahan di masa depan. Tanpa hal dasar ini, maka mereka akan bisa dijamin menemukan berbagai kesulitan dalam mendapatkan keperluan kebutuhan semacam itu.

Sebaliknya, bagi pihak pemerintah sendiri pun, akte kelahiran sangat penting karena bisa digunakan untuk menyusun kebijakan yang akurat bagi pembangunan masyarakat. Seperti kebijakan kesehatan, edukasi, sanitasi, pekerjaan dan perumahan. Pembangunan demografik yang berkelanjutan, penyusunan program bantuan sosial adalah sebagian dari pokok kebijakan yang perlu diimplementasikan dengan maksud untuk meningkatkan taraf kesejahteraan hidup masyarakat.

Memiliki akte kelahiran juga menjadi kebutuhan dasar manusia. Ini diakui di tahun 1990, ketika pada masa itu PBB menggelar konvensi dan menghasillkan the Convention on the Rights of the Child yang menghasilkan beberapa poin dasar kebutuhan anak. Mengenai hal ini, pasal 8 menyebutkan secara jelas bahwa  negara harus memberikan jaminan bantuan dan proteksi terhadap setiap anak untuk mendapatkan identitas legal mereka.

Untuk mendukung konvensi ini, Indonesia telah membentuk undang-undang yang menjamin bahwa setiap anak bisa mendapatkan akte kelahiran secara mudah dan tidak dikenakan biaya. Namun, yang terjadi, bahkan lebih buruk lagi, penegakkan undang-undang ini tidak dilaksanakan dengan baik, sehingga memunculkan masalah yang lebih besar. Diperkirakan bahwa, sebanyak 50 juta anak di Indonesia tidak memiliki akta kelahiran.

Perubahan Hukum Perlindungan Anak tahun 2002, memberikan jaminan bahwa setiap anak bisa mendapatkan akte kelahiran secara gratis yang apabila dilakukan sebelum 30 hari setelah kelahiran. Apabila lewat dari itu, maka akan dikenakan biaya keterlambatan dalam pengurusan akte kelahiran. Setelah 1 tahun, maka orangtua diwajibkan untuk mengikuti persidangan khusus dan biaya yang harus dikeluarkan lebih tinggi daripada acuan pendapatan rendah masyarakat Indonesia. Dengan begitu, permasalahan itulah yang semakin menyulitkan masyarakat berpendapatan rendah untuk mendapatkan akte kelahiran bagi anak mereka.

Membentuk dan mengganti hukum bukanlah melulu menjadi persoalan. Disini hal yang harus diperbaiki dan ditingkatkan adalah pada sisi implementasi. Banyak anggota masyarakat yang belum mengetahui begitu pentingnnya mempunyai akte kelahiran. Rendahnya tingkat kesadaran, tentunya diperparah dengan luasnya wilayah Indonesia yang belum bisa terpantau secara jelas. Sebut saja wilayah kepulauan terluar dan terisolir dari akses transportasi dan komunikasi yang banyak terjadi di wilayah Indonesia Timur.

Selain itu, kurangnya tingkat kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah ditenggarai juga menjadi penyebab mengapa orang tua mengalami kesulitan untuk mendapatkan akte kelahiran untuk anaknya.

Untuk itu, pemerintah harus dengan segera mengakui skala prioritas dalam menjembatani masyarakat Indonesia di setiap provinsi dan wilayah-wilayah terpencil untuk mendapatkan akte kelahiran secara mudah. Karena apabila dapat dijalankan dengan baik dan teratur, maka secara tidak langsung akan mempengaruhi total peningkatan anak-anak marjinal, yang tentunya akan memberikan akses mudah bagi mereka untuk masuk dan mengakses pendidikan.

Michelle Unwin (Humas Sahabat Anak)

On The Right Track To A Better Future

In a ramshackled building at the bottom of the embankment beside a train track people sit on the floor, some stand, maybe twelve in total. There is not even six square meters of floor space .The building is a one room shack, dark inside as it is covered with vines. This doesn’t mean it is cool. There is no cross-ventilation just two windows and a door on the train track side.


It is a reprieve from the heat outside which must be at least five degrees hotter due to the stones that are the foundation for the train tracks. Not one set of tracks but two so the noise is constant and loud.

Bags of rubbish line the opposite side of the tracks beside a roadway. The roadway is a street where people live in small temporary shacks not dissimilar to the building to this building. These are the homes of the families that live on the tracks at Tanah Abang, a suburb in Jakarta Pusat.

Living in temporary accommodation that has been scavenged and put together to protect against the elements is not ideal for family life. Living literally beside a railway track would have its own issues including health concerns due to lack of sanitation, running water, sleep deprivation, excessive noise, limited hygiene options, heightened safety risks just to name a few.

The stones from the tracks meet the front door. There is no softness in this landscape. But this is where children grow up—in an un-giving harsh environment.

How do the children who live here survive? If families live like this how do the children grow up? What hope is there? Will the cycle ever be broken?

This is a picture of poverty in a developing country, not a third world country. A picture that is in direct conflict with the lives of the BMW drivers that travelthe streets in the same city. This is what the Millennium Development Goals set by the United Nations are all about.

Despite how grim the picture is looking now, the story isn’t all bad.

In the one roomed shack, is a glimmer of hope.  The front door is inviting, the room is bright pink, although it is noticeable where the geckos have left their marks.

Sahabat Anak rent the shack. It is there for the children who live on the tracks for tutorial lessons in, maths, writing, reading and Indonesian language. And there is the occasional health check.

Some children that attend here don’t have birth certificates that they need to be in main stream schooling. They don’t have a fixed address —well, not a recognized one.

Charles Darwin said “If the misery of the poor be caused not by the laws of nature, but by our institutions, great is our sin.” And this is a case of the institution of a nation failing its citizens.

Parent’s make ends meet as best they can with limited skills and mouths to feed. Maybe collecting some tires for reuse. Scavenging timber for resale. Collecting disused paper to sell for recycling and the last resort would be sending their children to sing at the traffic lights, or to beg on the side of the road. This is an environment where resourcefulness thrives; it has too, to ensure survival.

Mahatma Gandhi said, “Poverty is the worst form of violence.”

A child that grows up in this cycle, in this environment has no means of escaping it but through education. Through education they can learn there is another way.

And this is where our organization – Sahabat Anak – comes in. Tutorial sessions are run daily by volunteers with about 60 children attending.

Already there have been two classes of children who have graduated from high school with the biggest success story being about two girls who are now attending university.  So, it can be done.

Daily, volunteers make the effort to help improve the lives of the children who live here through education. This has been going on since 2000. This isn’t a short term investment but a long term and ongoing commitment.

It is this kind heartedness and giving attitude of the volunteers that will produce change for a brighter future. Especially, for the children who are currently being raised in poverty on Jakarta’s railway line.

If you would like to volunteer to help change a child’s future you can find more information at



Pendidikan untuk Masa Depan Yang Lebih Baik

Di salah satu kawasan kumuh di Jakarta, terlihat beberapa orang yang sedang berkumpul di bawah gubuk yang hampir runtuh. Kawasan ini terkenal sebagai area tempat tinggal bagi masyarakat yang tidak memiliki kemampuan ekonomi yang mumpuni untuk hidup secara layak di Ibukota Indonesia. Gubuk itu, memiliki kondisi yang kurang layak untuk dihuni. Karena hanya terdiri dari satu ruangan yang sangat pengap dan tidak memiliki sirkulasi udara yang baik. Selain itu, lingkungan sekitaran gubuk tersebut juga berada tepat di pinggiran jalur padat lintasan kereta api.


Keadaan kehidupan masyarakat disana sangat memprihatinkan. Sangat banyak isu krusial yang harus mereka hadapi. Sebutlah permasalahan sanitasi dan akses untuk mendapatkan air bersih. Mereka harus berjuang dan memang beberapa dari mereka juga mengakui bahwa kebutuhan dasar seperti itu sangat sulit didapat. Selain permasalahan tadi, tingkat kebisingan yang sangat tinggi, juga menjadi permasalahan lain yang menempatkan mereka pada posisi yang tidak menguntungkan. Namun, seperti itulah keadaan umum yang bisa kita temukan di daerah pinggiran Jakarta Pusat, tepatnya adalah kawasan lintasan kereta api Tanah Abang.

Barangkali, menelaah dari bentuk-bentuk permasalahan di atas, bagaimanakah mereka dapat hidup di dalam lingkungan seperti itu. Terlebih lagi bagaimanakah nasib dari banyak anak-anak kecil di masa depan yang sangat rentan yang juga harus ikut menghadapi keadaan sulit apabila tidak dengan segera diberikan pertolongan secepatnya. Mengutip dari pernyataan Mahatma Gandhi yang menyatakan bahwa kemiskinan adalah tindakan yang terburuk daripada kekerasan, maka kemiskinan yang ada di dunia ini harus ditemukan titik penyelesaiannya dan dengan segera ditanggulangi.

Persoalan-persoalan kemiskinan dan ketimpangan sosial seperti yang terjadi di kawasan Tanah Abang tadi adalah salah satu dari beberapa isu universal yang menjadi perhatian khusus bagi banyak badan internasional. Contohnya adalah PBB dengan melalui program Millennium Development Goals (MDGs). MDGs ini adalah cetak biru yang telah disetujui  dan menjadi acuan kerangka kerjasama oleh negara dan institusi yang tergabung ke dalam ikatan PBB, dalam menanggulangi  8 (delapan) permasalahan global dan diharapkan pada tahun 2015, permasalahan tadi dapat berkurang secara signifikan. Tentunya, diperlukan peran serta seluruh komunitas masyarakat internasional dan masyarakat setempat untuk menanggulangi permasalahan pada tingkat lokal.

Kembali ke bentuk dari upaya pada tingkat lokal, contohnya, bisa dilihat dari tindakan sukarela yang dilakukan oleh LSM Sahabat Anak dalam usahanya untuk mengubah keadaan masyarakat pinggiran rel kereta api Tanah Abang menjadi lebih baik. Terlihat di salah satu gubuk, di kawasan yang sama, terdapat anak-anak yang sangat aktif untuk mengikuti kegiatan belajar yang disediakan oleh Sahabat Anak. Mereka mengikuti mata pelajaran seperti Matematika serta belajar menulis dan membaca Bahasa Indonesia.

Bagi anak-anak yang mengikuti kegiatan belajar disini, adalah kesempatan emas yang dapat mereka ikuti. Di samping karena keterbatasan orang tua mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, banyak di antara mereka yang adalah para pemulung yang mengumpulkan ban bekas dan sisa-sisa barang bekas seperti plastik dan kertas untuk dijual kembali, anak-anak tadi juga tidak memiliki akta kelahiran yang sah, sehingga sangat sulit bagi mereka untuk mendapatkan jenjang pendidikan formal. Selain itu, setidaknya, kegiatan belajar-mengajar juga bisa menjauhkan anak-anak  untuk tidak meminta-minta dan mengamen di lampu merah jalan besar di sekitaran Jakarta.

Sahabat Anak, memiliki rasa prihatin yang sangat besar untuk membantu anak-anak, khusunya melayani dalam  pendidikan gratis. Meyakinkan anak-anak tadi bahwa masih ada harapan besar di depan sana yang bisa di raih. Harapan besar yang bisa diwujudkan apabila dijalankan dengan serius dapat memberikan jalan menuju keberhasilan. Komitmen jangka panjang melalui jalur pendidikan adalah prinsip teguh yang dipegang oleh Sahabat Anak, karena hanya melalui pendidikan masa depan yang cerah dapat dibangun. Dari kegiatan yang telah di jalankan dari tahun 2000, dan diikuti setidaknya 60 anak setiap harinya, sudah terdapat 2 kelas lulusan yang 2 orang di antaranya telah memasuki jenjang pendidikan tinggi.

Untuk mengetahui informasi mengenai kegiatan Sahabat Anak mengenai voluntir di bidang pendidikan, dapat mengakses informasi tersebut di

Edufun “Changing People’s Lives : I and My Indonesia”

1One of the activities programmed by SahabatAnak Manggarai in 2013 was a visit to Taman Mini Indonesia Indah (TMII). This activity is aiming at introducing Indonesia to the children, so they can embrace its cultural richness and diversity. The activity was carried out on October 28, 2013, and was supported by Jakarta Praise Community Church. It was followed by 52 mentored children in SA Manggarai.

To make the education program exciting, the activity was packaged in Amazing Race concept. The children were divided into several small groups, and equipped by a map and descriptions of Indonesia’s provinces. The teams had to guess the name of the province that matches the descriptions, then went on searching its location by consulting the map. After completing the first mission, the organizer would give new challenges for the next routes.

There were four provinces that must be visited by each team. As soon as they arrived in the set destination, they were introduced to several activities such as Eat Bulaga games, Name Guessing games, and also kite-making. After the Amazing Race is done, the activity was continued by a visit to PP Iptek building located in the TMII.

Sindy, a children from SA Manggarai who participated in the visit, said, “Even it’s tiring because we had so many activities, I was happy that I can learn about the names of cities in Indonesia, the names of heroes, and I also could freely ride a bike.”

Happiness was also expressed by Vera, a volunteer in SA Manggarai, “I was delighted to see the spirits of the children throughout the program. That day would be an unforgettable day for them. They could go around Indonesia in a day, as we know that playing and learning in TMII are not something that they can experience at just any time.”

Through the education program, SA Manggarai has proved that learning could be done everywhere, not solely in the classroom. The children were not just happy, but they could also gain so much. For example, they could learn working in a group while they were given a challenge as a team.


Edufun “Changing People’s Lives : Aku dan Indonesiaku”

1Salah satu kegiatan yang diprogramkan oleh kakak-kakak di Sahabat Anak Manggarai tahun ini adalah field trip untuk adik-adik ke Taman Mini Indonesia Indah.  TMII  dipilih bukan karena hampir semua adik belum pernah ke sana, tapi karena kakak-kakak ingin adik-adik belajar mengenal dan mencintai Negara Indonesia ini yang sangat kaya budaya dan walaupun berbeda-beda tapi tetap satu.

Pucuk dicinta  ulam pun tiba, kakak-kakak Sahabat Anak Manggarai mendapat bantuan dari kakak-kakak panitia eduFun JPCC (Jakarta Praise Community Church). Berangkat dengan tujuan yang sama untuk mengenalkan kekayaan Indonesia kepada adik-adik dengan cara yang fun, maka kakak-kakak ini sangat semangat mempersiapkan acara eduFUN ini jauh – jauh hari.

Hari yang dinantipun tiba, Sabtu pagi, 28 September 2013 pukul enam, Karang Taruna Manggarai sudah ramai didatangi puluhan adik yang bersiap untuk mengikuti acara edufun ini. Wajah ceria dan excited  jelas terlihat di wajah mereka. Tepat pukul tujuh, 52 adik – adik dari SAM dengan pakaian warna putih mereka bersama dengan kakak-kakak yang berpakaian warna merah, dengan mengendarai 2 unit bus yang disediakan oleh panitia edufun.

Setelah menempuh perjalanan selama 40 menit yang menyenangkan karena permainan tebak kata hingga tebak lagu Nasional, rombongan pun akhirnya sampai di TMII dan langsung disambut meriah oleh kakak-kakak dari JPCC yang jumlahnya gak main-main lho. Acara Edufun “Changing People’s Live : Aku dan Indonesiaku” ini diawali dengan pembukaan oleh kak Mike Salim selaku ketua panitia acara dan dilanjutkan dengan pemanasan serta doa pagi semoga hari ini menyenangkan dan indah. Selanjutnya, adik-adik dibagi kedalam delapan kelompok dimana setiap kelompok didampingi oleh enam hingga delapan kakak pendamping dari SAM dan JPCC. Dibekali dengan name tag, topi, notes, pena dan air mineral per orang, adik-adik SAM telah siap untuk melancong ke seluruh penjuru Indonesia dalam satu hari.

Amazing Race adalah nama permainan kita di acara Edufun ini. Peraturan permainannya adalah seperti ini, masing-masing tim akan diberikan peta dan satu buah amplop yang berisi deskripsi mengenai nama provinsi di Indonesia, adik-adik harus menebak provinsi apa yang sesuai dengan deskripsi tersebut dan mencari lokasinya di peta yang telah diberikan untuk selanjutnya bersama dengan kakak pendamping pergi ke lokasi provinsi yang dituju. Setelah sampai di lokasi yang dituju adik-adik harus menyelesaikan misi yang diberikan oleh panitia untuk mendapatkan amplop berikutnya dan dapat meneruskan perjalanan.

Terdapat total empat provinsi yang harus dikunjungi oleh setiap tim dalam satu hari yaitu Papua, Sulawesi Selatan, Riau dan Jawa Barat. Di setiap provinsi terdapat permainan yang berbeda-beda dan pastinya menyenangkan. Di Papua kita diajak bermain Eat Bulaga, semua pasti tahu kan permainan Eat Bulaga yang sedang happening sekali di Indonesia sekarang ini? Iyaa iyaaa bisa jadii bisa jadiii…

 Di Sulawesi Selatan kita disuguhi dengan 2 buluh (red: bambu yang sudah dipotong), tali, kertas, gunting, lem dan spidol warna-warni. Sudah bisa menebak kan apa yang akan adik-adik buat? Yap, membuat layang-layang.

 Di Jawa Barat, dua orang dari masing-masing tim dapat berlarian di taman untuk mencari amplop-amplop sesuai dengan warna tim masing-masing dan menuliskan petunjuk di setiap amplop yang ada, dari petunjuk itulah anggota tim dapat menebak dua orang nama pahlawan yang dimaksudkan. Di Riau, setiap tim diajak masuk selama 10 menit ke dalam rumah adat Provinsi Riau dan mengamati benda-benda yang dimuseumkan seperti baju adat, kain adat hingga foto masjid yang bersejarah di Riau. Kemudian, setiap tim diberikan kertas berisikan nama benda sesuai dengan yang ada di dalam museum dan anggota tim harus dapat mencocokkan nama benda dengan kumpulan foto-foto benda yang disediakanoleh panitia.

Setelah berkunjung dan bermain di empat provinsi di Indonesia, semua tim kembali ke tempat awal, basecamp edufun untuk istirahat dan makan siang. Permainan tidak hanya berhenti sampai disitu, setelah makan siang masing-masing tim wajib menyanyikan satu buah lagu daerah yang diberikan oleh panitia lengkap dengan tariannya. Tariannya bebas kok, yang penting kompak dan meriah. Kalau ke TMII rasanya belum lengkap ya jika belum mengunjungi gedung PP Iptek.

Nah, setelah heboh bernyanyi dan menari semua adik-adik dan kakak pendamping diajak untuk mengunjungi PP Iptek, disana adik-adik bebas mau menonton, bermain sepeda gantung, atau mencoba peragaan iptek lainnya yang diperagakan disana. Tetapi tunggu dulu, bukan edufun namanya kalau hanya bermain, selama di gedung PP Iptek setiap tim dibekali dengan selembar kertas Teka Teki Silang seputar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, jawabannya bisa ditemukan di PP Iptek.

Semua misi dalam Amazing Race sudah berhasil diselesaikan, provinsi-provinsi di Indonesia sudah dijelajahi oleh Adik-Adik SAM. Sekarang saatnya pengumuman pemenang dan pembagian hadiah. Ada tiga tim yang beruntung yaitu, Tim 3 yang berhasil meraih juara tim terkompak dan tim1 yang berhasil menduduki posisi juara kedua sedangkan juara pertama berhasil direbut oleh Tim 8. Selamat untuk seluruh pemenang!

Dan akhirnya tibalah saat-saat untuk berpisah, semua tim dan panitia berpoto bersama untuk mengabadikan keceriaan hari ini.

Terimakasih ya SAM+panitia edufun dari JPCC, that was fun and educated !

Kesan-kesan dari kakak dan adik setelah ikut field trip:

Senang melihat adik-adik yang sangat semangat sepanjang acara, hari ini pasti jadi hari yang tidak akan mereka lupakan. Pengalaman keliling Indonesia dalam 1hari dan bermain sambil belajar di TMII bukanlah sesuatu yang bisa mereka dapatkan setiap waktu. Thank u kakak-kakak edufun dan kakak-kakak SAM sudah menciptakan pengalaman yang heart-warming ini. And to add on, kelompok kami juara 1 loh, yay!!!  – kak vera, Sahabat Anak Manggarai

Acara field trip ke TMII membuktikan bahwa belajar bisa di mana saja, tdk harus monoton di kelas. Adik-adik bukan hanya senang krn bisa jalan-jalan dan melihat  rumah-rumah adat di Indonesia tapi juga bisa belajar sejarah Indonesia dan perkembangannya kini.  Pembagian kelompok juga melatih adik-adik untuk kompak dan mau bekerja sama – kak Putri, Sahabat Anak Manggarai

Seru, menyenangkan, mendidik. Kakak-kakak bisa saling bekerjasama dalam mendampingi adik-adik. Perjalanan yang cukup jauh mmg cukup melelahkan tapi tidak mengurangi semangat kakak-adik menyelesaikan tantangan. Menyenangkan bisa belajar dan bermain dengan kakak+adik – kak Mima, Sahabat Anak Manggarai

Edufunnya benar-benar very fun, senang bisa ikut acara ini bareng kakak-kakak dari JPCC dan adik-adik yang tersayang. Acaranya sukses banget bikin adik+kakak olahraga kaki (krn mengelilingi Indonesia dlm 1 hari), olahraga otak (nebak nama makanan, nama tokoh pahlawan, buat layangan). Tapi sukacita ikut kegiatan ini bisa mengalahkan lelah. Senyum dan tawa tak berhenti terukir dari pagi smp  sore hari. Dua jempol plus senyum manis buat adik2 SAM, kakak2 JPCC. Keep sharing love to others – kak Ayi Sahabat Anak Manggarai

Capek tapi seru kak, belajar nama kota; nama pahlawan; dan juga naik sepeda – Sindy, adik Sahabat Anak Manggarai

Indonesia luas juga ya kak, ada Papua, Jawa, Sulawesi, Kalimantan. Seru kak, lain kali ikutan lagi ya – Mujeni, adik Sahabat Anak Manggarai

Banyak pengalaman baru kak, bisa liat rumah adat, bisa naik sepeda di taman iptek, sama ketemu kakak-kakak baru yang baik – Alya, adik Sahabat Anak Manggarai

“…Tema “Aku dan Indonesiaku” bukan hanya mengedukasi anak-anak namun kakak2nya juga! Haha that’s so much fun….” – Ika, JPCC

Acara Edufun ini membawa anak anak sahabat Manggarai utk bermain dan belajar mengenai budaya Indonesia. Melihat mereka bermain dan belajar dgn bersemangat sungguh membuat hati kami bersukacita. Kami senang dapat melayani mereka yg akan menjadi harapan dan masa depan dari bangsa Indonesia. – Kris dan Sylvia, JPCC


%d blogger menyukai ini: