Monthly Archives: November 2013

Cup stacking crosses the divide between economic differences

IMG-20131120-WA0004 (2)

Each year the grade six class from Bina Gita Gemilang Public School in Tebet focus on a different community organisation they can help out. Their focus is on social welfare.

This year they chose the street and marginalized children of our informal school in Kota Tua, Sekolah Mandiri,

Clara, the Deputy Principal of the public school, said the children had fundraised in the weeks leading up to their meeting through maths championships, an arts festival and a bazaar. The purpose of involving the year six students is to give them a broader outlook of life and to help others.

The funds they raised were handed over to the Sekolah Mandiri students as well as 17 boxes full of items – from recorders and pianikas to rice cookers for the new school (and its sister school Pusat Kegiatan Anak near Manggarai).

The 26 public school children spent some of the morning showing the 28 street and marginalised children some of their talents in cup stacking. Cup stacking is a game of dexterity and speed building up and dismantling pyramids of cups and shuffling cups around in rhythm while clapping. The street children were fascinated with the speed and the sequences they used and were eager to have a turn also.

The interaction between children from economically opposed backgrounds is a lesson in breaking down barriers for all concerned. The street children chattered with the public school kids finding that as children they are not very different at all.

The role of Corporate Social Responsibility (CSR) plays an important part in bringing street children into contact with a range of people they would never normally have access to because of their lifestyles. Begging for money on a street corner is a far cry from being chauffeur driven to school each day. The lives of street children are often stripped of their rights to play and develop naturally because of the family priorities to find money to be able to eat on a daily basis.

If your organisation has a plan for a CSR activity we welcome your suggestions and involvement. Give Alles a call on 021 391 8505 to offer your support.

Iklan

Susunan Gelas yang Menjembatani Perbedaan Ekonomi

IMG-20131120-WA0004 (2)

Setiap tahun, murid kelas enam di Sekolah Bina Gita Gemilang, Tebet mempunyai proyek membantu komunitas. Fokus mereka adalah isu kesejahteraan sosial. Tahun ini mereka memilih bakti sosial dengan anak-anak jalanan dan marjinal dari sekolah nonformal di Kota Tua, Sekolah Mandiri.

Clara sebagai Wakil Kepala Sekolah mengatakan bahwa murid-muridnya telah mencari dana beberapa minggu sebelum berkunjung ke Sekolah Mandiri dalam acara kejuaraan matematika, festival kesenian, dan bazar. Tujuan melibatkan murid-murid kelas enam adalah untuk memberikan pandangan yang lebih luas mengenai kehidupan dan membantu orang lain.

Dana yang mereka kumpulkan kemudian diberikan kepada anak-anak Sekolah Mandiri, beserta tujuh belas kotak yang berisi barang-barang donasi – mulai dari suling dan pianika, sampai penanak nasi (yang juga diberikan kepada sekolah mitranya, Pusat Kegiatan Anak, dekat Manggarai).

Dua puluh enam murid Sekolah Bina Gita Gemilang mengisi pagi hari itu dengan menyajikan keahlian cup stacking atau menyusun gelas kepada dua puluh delapan anak jalanan dan marjinal. Cup stacking adalah permainan ketangkasan dan kecepatan tangan menyusun gelas, membongkar dan memindahkan gelas dalam ritme tertentu, sambil menepuk tangan. Anak-anak Sekolah Mandiri kagum melihatnya dan ingin sekali mencoba permainan tersebut.

Interaksi antar anak-anak yang berbeda secara latar belakang ekonomi adalah sebuah pembelajaran meruntuhkan penghalang. Para anak jalanan mengobrol dengan murid-murid Sekolah Bina Gita Gemilang, terlihat bahwa sebagai anak-anak mereka tidaklah berbeda.

Peranan kegiatan Corporate Social Responbility (CSR) penting dalam memberi akses kepada anak-anak jalanan untuk bertemu dengan berbagai pihak, sebuah kesempatan yang biasanya tidak didapatkan karena kondisi hidup mereka. Anak yang mengemis uang di jalan jelas berbeda dengan anak yang diantar ke sekolah setiap hari. Hak untuk bermain dan tumbuh dengan normal seringkali diambil dari anak-anak jalanan karena keluarga mereka lebih mementingkan mencari uang untuk makan sehari-hari.

Jika organisasi Anda memiliki rencana untuk kegiatan CSR, kami membuka kesempatan bagi Anda. Silahkan menghubungi Alles di 021 3918505 untuk menyampaikan dukungan Anda.

Disability awareness — connections and competition

Camera 360

International Day of People with Disability (IDPwD) is a United Nations sanctioned day celebrated annually on 3 December.

The day recognizes the achievements, contributions and abilities of people with disability. It provides an opportunity to raise awareness about disability issues in society, promote understanding of people with disability and encourage support for their dignity, rights and well-being.

A group of intellectually disabled children attended the Sahabat Anak Jamboree earlier this year in August to share their story and mingle with the marginalized children attending the Jamboree. The kids were from Special Olympics Indonesia (SOIna) and they completed their Jamboree visit with an onstage musical performance which the Jamboree children sang, danced and cheered along.

While these two groups of children have very different background and very different challenges they have some threads of life in common:

  • they and their problems are often hidden or minimalized in society
  • they are all children regardless of age, ability, race or gender and
  • they all have struggles and issues in their life whether it is environmental, economic, intellectual or physical that prevent them from engaging fully and have full access to their rights as children.

Our friends from SOIna are headed to Newcastle, Australia this week to compete in the Special Olympics. They will be there during 3 December for the IDPwD. We wish them good luck in their respective sports and in representing their country in this special event. Go team Indonesia!

Michelle Unwin (Sahabat Anak PR)

 

Kesadaran Disabilitas – Koneksi dan Kompetisi

Camera 360

International Day of People with Disability (IDPwD) atau Hari Internasional Orang dengan Disabilitas adalah hari peringatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dirayakan setiap tahun pada tanggal 3 Desember.

Peringatan ini merupakan bentuk pengakuan terhadap pencapaian, kontribusi, dan kemampuan orang-orang dengan disabilitas. Sebuah kesempatan untuk melahirkan kesadaran tentang isu disabilitas dalam masyarakat, meningkatkan pemahaman terhadap orang dengan disabilitas, dan untuk menggerakkan dukungan bagi penghargaan, hak, dan kesejahteraan mereka.

Sekelompok anak dengan keterbatasan intelektual menghadiri Jambore Sahabat Anak (JSA) pada bulan Agustus yang lalu untuk membagikan kisah mereka dan bermain bersama anak-anak marjinal peserta jambore. Mereka berasal dari Special Olympics Indonesia (SOIna). Kunjungan mereka ditutup dengan pertunjukan musik di panggung, disambut dengan peserta Jambore ikut bernyanyi, menari, dan bersorak senang.

Meskipun kedua kelompok anak ini memiliki latar belakang dan tantangan yang sangat berbeda, mereka memiliki beberapa kemiripan:

  • Mereka dan masalah mereka seringkali tersembunyi ataupun ditutupi dalam masyarakat
  • Mereka adalah anak-anak, terlepas dari usia, kemampuan, suku atau jender
  • Mereka berhadapan dengan berbagai isu dalam menjalani kehidupan baik dari segi lingkungan, ekonomi, intelektual, atau fisik yang membatasi mereka untuk memperoleh hak sebagai anak

Teman-teman SOIna akan berangkat ke Newcastle, Australia pekan ini untuk bertanding dalam Special Olympics. Mereka akan berada di sana pada tanggal 3 Desember untuk memperingati IPDwD. Kami mengharapkan yang terbaik untuk setiap bidang olahraga yang diikuti dan dalam mewakilkan negara. Berjuang tim Indonesia!

Michelle Unwin (Humas Sahabat Anak)

Annual Date Claimer – Buy A Calendar and Help A Marginalized Child

Kalender Dinding

Running a nonprofit organization can be a hard slog financially to be able to make ends meet, especially, if the organization has a decade-long history of growth.  Sahabat Anak, as an organization, has been growing annually even before it had an official name.

The initial concept of Sahabat Anak bloomed in 1996 and since then the organization has grown from strength to strength in their efforts to help the street and marginalized children of Jakarta. Annually, Sahabat Anak holds a jamboree for 1000 children who have fallen through the cracks of our society.

While Sahabat Anak is always on the look out for sponsors and donors to help with the costs of running programs and the informal schools for these children we also have annual fundraising activities. This time of the year, we release a calendar that reflects on our year-to-date activities showing what we have been achieving.

kalender

Available in both a wall version and also a desk version, the content of each is different.  The 2014 desk calendar runs a set of 12 volunteer profiles, one for each month. Volunteers have given their insights into why they continue volunteering, what their motivations are and a bit ontheir backgrounds.

The 2014 wall calendar features the 10 team finalists from this year’s KADO project (an entrepreneurship program run with 40 groups of 10 marginalized children all over Jakarta).

Both styles of calendar are available for sale for RP 50.000.

The calendars are a great gift for employees and family members. If you buy 10 or more there is free delivery in the Jakarta area. The proceeds from the sales of these calendars go directly into the operations of SahabatAnak. Operational activities include running two informal schools for drop out street teens, nutrition and health programs and more.

To order your calendar or set of 10 or more calendars call Ellen on 021 391 8505 or email her at ellen@sahabatanak.com

Bedonasi Melalui Kalender dan Membantu Anak-anak Marjinal

Kalender Dinding

Salah satu tantangan menjalankan sebuah organisasi non-profit adalah memenuhi kebutuhan finansial untuk mencapai tujuan organisasi, apalagi jika organisasi itu sudah berkembang cukup besar. Sahabat Anak, sebagai sebuah organisasi, sudah berkembang setiap tahunnya bahkan sebelum resmi menjadi yayasan.

Konsep awal berdirinya Sahabat Anak pada tahun 1996 dan sejak itu terus bertumbuh dan semakin kuat dalam upayanya menolong anak-anak jalanan dan marjinal di Jakarta. Setiap tahun Sahabat Anak mengadakan jambore untuk seribu anak yang hidup dalam keterbatasan.

Selain terus mencari sponsor dan donor untuk memberi dukungan finansial biaya operasional program dan penyelenggaraan sekolah nonformal untuk anak-anak, Sahabat Anak juga memiliki kegiatan penggalangan dana tahunan. Tahun ini, kami menerbitkan kalender yang menampilkan kegiatan dan apa yang dicapai selama setahun terakhir.

kalender

Tersedia dalam bentuk kalender dinding dan meja, kedua kalender ini memiliki konten yang berbeda. Kalender meja memuat profil 12 voluntir, satu orang setiap bulannya. Para volunteer mengisahkan mengapa mereka bertahan sebagai relawan, motivasi menjadi relawan, dan latar belakang mereka.

Kalender dinding menampilkan 10 kelompok finalis proyek KADO (sebuah program kewirausahaan yang diikuti oleh 40 kelompok, terdiri dari 10 anak dari berbagai area Jakarta). Kalender meja dan dinding masing-masing senilai Rp 50.000,-

Kalender ini bisa menjadi bingkisan yang menarik bagi karyawan dan anggota keluarga. Pembeli dibebaskan dari ongkos kirim jika membeli sepuluh atau lebih kalender (untuk area Jakarta). Hasil penjualan kalender ini adalah untuk biaya operasional Sahabat Anak. Kegiatan operasional termasuk penyelenggaraan dua sekolah nonformal untuk anak-anak putus sekolah, kegiatan nutrisi dan kesehatan, serta kegiatan-kegiatan lainnya.

Untuk memesan kalender, silakan menghubungi Ellen 021-391 8505 atau ellen@sahabatanak.com

From Railway Tracks To The Stage – A Story of Success

???????????????????????????????

The tropical rains in Jakarta last Friday night meant the foyer of Haji Usmar Ismail Theatre in Kuningan wasn’t as busy as it could have been for the Cabaret performance of some of Jakarta’s marginalised children.

Hosted by Sahabat Anak’s Tanah Abang tutorial area opening performances included music by the children of Cijantung and musical poetry from the children of Grogol.

The main event was a drama performance entitled Impossible – from impossible to possible based on a true story of a girl who lived on the train tracks at Tanah Abang but who overcame this disadvantage to enrol in tertiary education and finally she has chosen to major in secretarial studies.

???????????????????????????????

The hardship of living on the train tracks is not unknown to the children who were in this performance as this is exactly where they live. The ever present scream of train brakes, the cramped living conditions in roughly constructed shanties amongst the piles of tyres, cardboard and plastic bottles are where they live. A place they share with oversized rats and the scorching heat held and reflected by the foundation rocks and the worn metal of the dual tracks outside their front door.

The true story that the drama was based on is about one of the volunteer teachers who these days gives back to the children who live the life she once lived on the tracks at Tanah Abang. This story is not only one of overcoming the odds and tenacity but it also about giving back to the children of that same community who face the same hurdles that she had.

As a shining light and a beacon of success the story unfolded on stage with children of this community as living characters performing under the spotlight. The opportunity for any marginalised child to be on the stage in Haji Usmar Ismail Theatre is a rare one and an experience that will inflame their passion to push through their daily lives and aspire to become the best they can be. The story of giving is the founding principle of Sahabat Anak.

 Despite Jakarta’s rain and the subsequent traffic jams, the crowds did come and the night was an inspiring success for the performers and a solemn reminder for the audience of the hardships that some of our fellow citizens face each day.

KABARET-Dari Bantaran Rel Kereta Menuju Panggung Pertunjukkan

Cerita Sukses Sahabat Anak Tanah Abang

???????????????????????????????

Hujan deras yang mengguyur kota Jakarta pada hari Jumat (8/11) bukan berarti tidak ada aktivitas di Gedung Teater Usmar Ismail di kawasan Kuningan. Pertunjukkan KABARET diadakan di sini, sebuah persembahan dari anak-anak marjinal Jakarta.

Dengan Sahabat Anak Tanah Abang sebagai tuan rumah, pertunjukan ini dibuka oleh penampilan musik dari adik-adik Sahabat Anak Cijantung dan musikalisasi puisi oleh adik-adik Sahabat Anak Grogol.

Penampilan utama KABARET adalah pertunjukkan drama berjudul Impossible – from impossible to possible, sebuah cerita yang diangkat dari kisah nyata seorang anak perempuan yang hidup di bantaran rel kereta Tanah Abang, tetapi tetap berjuang keras mengatasi kesulitan ini untuk mengikuti pendidikan sampai perguruan tinggi dan akhirnya memperoleh pendidikan di jurusan sekretaris.

Kesulitan hidup di bantaran rel kereta bukan tidak dirasakan oleh anak-anak yang menampilkan pertunjukan; inilah tempat tinggal mereka. Suara bising kereta api yang melintas, tempat tinggal yang sempit di lapak liar dan dibangun di antara tumpukan ban, kardus dan botol plastik, di sanalah mereka tinggal. Tempat dimana mereka berbagi tempat bersama banyak tikus dan panas terik yang memantul dari logam usang rel kereta.

???????????????????????????????

Kisah nyata drama ini didasarkan pada kisah salah satu relawan yang saat ini mengajar anak-anak, yang hidup dalam kondisi yang pernah ia alami sebelumnya di bantaran rel kereta Tanah Abang. Cerita ini tidak hanya menceritakan sebuah kegigihan tetapi juga tentang memberikan kembali kepada anak-anak yang menghadapi rintangan sama seperti  yang ia hadapi dulu.

 Kisah yang menjadi inspirasi kesuksesan ini ditampilkan di panggung dengan adik-adik komunitas sebagai karakter yang sungguh hidup. Kesempatan untuk anak marjinal berada di panggung Teater Usmar Ismail adalah kesempatan langka dan pengalaman yang akan mengobarkan semangat mereka untuk menjalani kehidupan sehari-hari dan menjadi yang terbaik. “Memberi bagi komunitas” inilah yang menjadi prinsip dasar Sahabat Anak.

Meskipun hujan deras dan menyebabkan kemacetan di Jakarta, banyak orang tetap datang. Malam itu menjadi momen kesuksesan yang menginspirasi para pemain dan pengingat yang kuat bagi para penonton akan kesulitan yang dihadapi oleh sesama kita.

%d blogger menyukai ini: