Monthly Archives: Desember 2013

Scoring goals for international relations


For the second year running, a futsal competition was held for marginalized children. It happens to mark the occasion of International Volunteer Day which is on 5 December.

The obvious question is what is the link between marginalized children and international volunteers?

The answer is that they go hand in hand here in Jakarta. Australian volunteers work in Jakarta with non-profit organizations who care and provide for marginalized and street children. The volunteers come through the Australian Volunteers for International Development (AVID) program.

The competition

This year the competition was held on 8 December and four teams were fielded from the International Street Children Foundation (ISCO) and four teams from Sahabat Anak. Both of these organizations are host to at least one Australian volunteer each.

Indoor soccer, or futsal as it is more commonly known, is a fast paced sport requiring quick thinking and stamina to compete in the confined spaced of an indoor pitch. The event was held at Planet Futsal in Kuningan, Central Jakarta where players and spectators alike were coated in a sheen of perspiration.

After the semi-finals round a friendly match was played by a mix of Australian volunteers, event organizers and host organization players. The stamina of these older players paled in significance to the children who had been playing numerous games in the preceding competition rounds.

The final game was played between Sahabat Anak’s Prumpung 1 team and ISCO’s Semper 1 team.

The first half saw the Sahabat Anak team score first but this was quickly followed by two goals from the ISCO team. The second half had a leaner goal count with Sahabat Anak scoring once bringing the game to a close on a 2-all draw.

While sweat poured, tensions rose as the two teams went head to head in a penalty shoot-out. Using their key strikers the final score was 2-0 making Sahabat Anak’s Prumpung 1 team the champions of the day.

The kids took a well-deserved break to eat and drink while another friendly match took to the field between members of a different Australian volunteer host organization, staff of the two volunteer organizations and volunteers.

To wrap up the event the Prumpung team taught the event organizers a special dancethey like to perform before the competition trophy was presented to them as the winning team.


The volunteers

Volunteering is a noble act which is performed by millions of people around the world.  Day in and day out, through acts of volunteerism large and small they bring hope those who are disadvantaged.

International volunteers are committed on another level again.

Stepping out of the comfort of their home, their environment and their country to travel to a place where the language, customs and beliefs are different takes a special type of person to make that commitment. Often they are forfeiting a year or more of their ability to earn a decent living in their home country. But the intrinsic value from the experience they get in the exchange can’t be bought with money.

In the words of Winston Churchill, “We make a living by what we get, but we make a life by what we give.” This is the spirit of volunteerism.

The success of this event supports its continuation into future years.

And let’s not forget the children who are the clear winners. Through this event they had the opportunity engage in an activity that isn’t available in their daily lives.


GOL untuk Hubungan Internasional


Untuk kedua kalinya dalam dua tahun terakhir, sebuah kompetisi futsal digelar bagi anak-anak marjinal. Acara ini dilaksanakan untuk memperingati Hari Relawan Internasional yang jatuh pada tanggal 5 Desember.

Pertanyaan yang muncul adalah, “Apa hubungan antara anak-anak marjinal dan para relawan asing?”. Jawabannya adalah mereka berjalan beriringan di Jakarta. Relawan asing yang berasal dari Australia dan bekerja di organisasi non-profit yang peduli kepada anak-anak marjinal dan anak-anak jalanan. Para relawan datang melalui Australian Volunteers untuk program International Development (AVID).


Tahun ini kompetisi diadakan pada tanggal 8 Desember dan empat tim didatangkan dari Indonesia Street Children Organization (ISCO) dan empat tim dari Sahabat Anak. Kedua organisasi ini adalah tuan rumah untuk setidaknya satu relawan Australia di masing-masing tim.

Indoor soccer, atau yang lebih dikena dengan sebutan futsal, adalah olahraga serba cepat, membutuhkan kecepatan berpikir dan stamina untuk bermain di lapangan indoor yang kecil. Acara ini diadakan di Planet Futsal Kuningan, Jakarta Pusat di mana pemain dan penonton sama-sama dilapisi dalam kemilau keringat.

Setelah putaran semifinal, pertandingan persahabatan dimainkan bersama relawan Australia, event organizer dan pemain dari organisasi tuan rumah. Stamina para pemain yang lebih tua kalah jauh dibanding dengan anak-anak yang telah bermain banyak pertandingan di putaran kompetisi sebelumnya.

Pertandingan final dimainkan oleh tim 1 dari Sahabat Anak di Prumpung dan tim 1 ISCO Semper. Pada pertengahan babak pertama Sahabat Anak mencetak gol pertama, kemudian tak lama waktu berselang dua gol dari ISCO Semper. Pada babak kedua Sahabat Anak kembali mencetak gol keduanya yang membuat pertandingan dengan skor imbang.

Ketegangan semakin meningkat antar kedua tim ketika tendangan penalti. Dengan mengandalkan pemain kunci, akhirnya Sahabat Anak Prumpung mampu meraih skor 2-0 atas tim 1 ISCO Semper.

Seusai pertandingan anak-anak beristirahat dan permainan dilanjutkan oleh para relawan Australia dan para staff dari Organisasi tuan rumah.

Sebagai penutup acara, tim Prumpung menari bersama dan piala pun diserahkan.


Kesukarelawanan merupakan tindakan mulia yang dilakukan oleh jutaan orang didunia. Setiap harinya, aksi sukarelawan baik yang besar ataupun kecil memberikan harapan bagi mereka yang kekurangan.

Relawan internasional berkomitmen pada tingkat yang lebih jauh lagi. Melangkah keluar dari kenyamanan rumah mereka, lingkungan mereka dan negara mereka untuk melakukan perjalanan ke tempat di mana bahasa, adat istiadat dan kepercayaan yang berbeda. Di butuhkan seseorang yang istimewa untuk dapat berkomitmen melakukannya. Sering kali mereka mengorbankan satu tahun atau lebih dari kemampuan mereka untuk mendapatkan kehidupan yang layak di negara asal mereka. Tetapi nilai intrinsik dari pengalaman yang mereka dapatkan dalam pertukaran tersebut tidak dapat dibeli dengan uang .

Winston Churchill berkata, “Kita hidup dari apa yang kita dapatkan, tapi kita membuat kehidupan dengan apa yang kita berikan.” Ini adalah semangat kesukarelaan. Keberhasilan acara ini mendukung kelanjutan acara berikutnya  di tahun-tahun mendatang.

Dan jangan lupa anak-anak yang adalah pemenang yang sesungguhnya. Melalui acara ini mereka memiliki kesempatan terlibat dalam kegiatan yang tidak ada dalam kehidupan sehari-hari mereka .


Butcher, baker, candlestick maker – the choices are numerous when you play


A group of 18 marginalized children from Cengkareng and 48 children from Condet (half from a local orphanage and the other half from Taman Bacaan) enjoyed fun-filled day at Kidzania recently. The day provided an experience for these marginalized children that is economically out of their reach.

At a usual cost of Rp. 180,000 per child and Rp. 90,000 for any accompanying adult this can equate to nearly a quarter of the monthly minimum wage for a family of 4—2 adults and 2 children for a day out. Not to mention the cost of transport, food and drinks as well.

Play is an important aspect of a child’s development. Quite frequently this aspect is taken away from children who live in marginalized society because of the demands of their daily living and their restricted environment.

In the words of George Bernard Shaw, “We don’t stop playing because we grow old; we grow old because we stop playing.”  And herein lays the tragedy of children who are forced to work on the streets from an early age to supplement their family income.

In a venue such as Kidzania they can explore, create and dream. It provides them a safe environment to role play at being a model, a journalist, a fireman or a dentist. With a myriad of employment choices in this mini world they earn their own money and can cash it in at the souvenir store or take it with them when they leave.

Diah and Roby, both aged 9, both from Condet said they like being police. Roby said when he first had to catch a thief he was scared initially but then it was fun when he succeeded. You get extra money for catching a thief so there is an added bonus for being brave.

Diah has been to Kidzania once before for a similar event. She was excited to come again as she knew what to expect.

Both children ran off clutching a fist full of money, from successful thief catching, to join the fire brigade.

In a single day these children can go from making pizza, to being a shop assistant at a convenience store to being in a stage performance.  The diversity of this play stimulates their minds, fuels their passion for a brighter future and sees them leave with smiles intact and precious memories to treasure.


Bermain dan Bermimpi Bersama di Kidzania

???????????????????????????????Sejumlah  18 adik yang datang dari Cengkareng dan 48 adik dari Condet menikmati hari yang menyenangkan di Kidzania.  Kegiatan ini memberikan pengalaman yang secara ekonomi tidak terjangkau bagi adik-adik.

Dengan biaya masuk Rp. 180.000 per anak dan Rp. 90.000 untuk orang dewasa yang ingin ikut mendampingi mereka bermain, harga tersebut hampir setara dengan nilai seperempat upah minimum bulanan sebuah keluarga kecil (dua orang tua dan dua anak).  Belum lagi biaya transportasi, makanan, dan minuman.

Bermain merupakan aspek penting dari perkembangan anak. Namun, aspek penting ini sering kali tidak diperoleh oleh adik-adik yang tergolong kaum marjinal ini karena tuntutan hidup mereka yang harus mencari uang dan lingkungan mereka yang dibatasi.

George Bernard Shaw mengatakan, “Kita tidak berhenti bermain karena kita menjadi tua, kita menjadi tua karena kita berhenti bermain.” Dari sini terdapat  tragedi dimana anak-anak terpaksa bekerja di jalanan sejak usia dini untuk menambah pendapatan keluarga mereka.

Di tempat bermain seperti Kidzania adik-adik dapat bereksplorasi dan bermimpi. Kidzania menyediakan mereka tempat bermain yang aman dan berperan menjadi model suatu profesi; wartawan, pemadam kebakaran, ataupun dokter gigi. Dengan berbagai pilihan profesi di dunia mini tersebut, mereka mendapatkan uang yang dapat ditukarkan di toko cinderamata.

Diah dan Roby berusia 9 tahun, keduanya datang dari Condet. Mereka berkata bahwa mereka senang menjadi seorang polisi. Roby berkata bahwa ketika pertama kali ia harus menangkap pencuri, ia mereasa sangat takut tetapi kemudian hal itu menjadi menyenangkan ketika ia berhasil menangkap pencuri tersebut dan ia pun mendapatkan uang sebagai hadiah dari keberaniannya.

Diah sudah dua kali berkunjung ke Kidzania setelah sebelumnya datang di acara yang serupa. Diah Sangat bersemangat datang lagi kesana karena ia tahu apa yang ia harapkan.

Kedua adik berlari dengan tangan yang penuh menggenggam uang, dari kesuksesan menangkap pencuri untuk bergabung dengan pemadam kebakaran.

Dalam satu hari itu adik-adik juga bisa belajar membuat pizza dan menjadi asisten toko. Berbagai macam pilihan permainan disini dapat menstimulasi pikiran mereka, semangat mereka untuk masa depan yang cerah dan untuk melihat mereka pulang  tersenyum dengan kenangan yang bernilai.



The light may be extinguished but the glow lingers on


The death of Nelson Mandela, last week, was received by a somber world. A world that is a far better place for having had him walk upon it. He was a global beacon of hope and inspiration. He was a man who was passionate about equality that straddled race, gender and religion. During his life he resolutely campaigned for human rights.

On the eve of International Human Rights Day on 10 December it is an opportune time to reflect on the life of Nobel Peace prize winning Mr. Mandela. International Human Rights Day marks its twentieth anniversary this year with a theme of 20 years: working for your rights.

Nelson Mandela’s wisdom is in his words which clearly paints the picture of these values and beliefs. “No one is born hating another person because of the color of his skin or his background, or his religion. People must learn to hate and if they can learn to hate, they can be taught to love, for love comes more naturally to the human heart than it’s opposite.”

In this statement he lays the blame, for tainting the innocence of generations, firmly at the doorstep of society and also offers a solution. His underlying beliefs in equality means he was also happy to pick up responsibility for this burden as part of mankind. He inspired millions to action by walking his talk, “We can change the world and make it a better place. It is in your hands to make a difference.”

The UN Human Rights chief, Naiv Pillay, starts a statement with, “As we continue to strive towards a word that acknowledges the rights of all human beings…..”  this unfortunately is the reality of our world.

Mr. Mandela expected little other than the fundamental rights that each human should be born with but which are often denied by the society we live in. These fundamental rights are something we all should expect, uphold, promote and endeavor to deliver. The right to clean water, adequate food, dignity, shelter, freedom of speech, freedom to chose a religion or not, the right to education, the right to be part of the decisions that affect our lives, access to health care, adequate wages to support our family, the right to a decent life.

Nelson Mandela delivered a speech in Johannesburg, on 2 July 2005 addressing one of these issues, that of poverty. He said, “Overcoming poverty is not a gesture of charity. It is an act of justice. It is the protection of a fundamental human right, the right to dignity and a decent life. While poverty persists, there is no true freedom.”

Many of our children in Jakarta live in poverty—in shanties beside railway tracks, under bridges in makeshift shacks. Many of our children don’t have birth certificates and therefore access to education. These children are the future of our country and as such need the adults to campaign for their rights. This is what we do at Sahabat Anak, campaign for their rights—their right to access education, their right to have a birth certificates, their right to be heard.

Today, on International Human Rights Day, think about what you can do to carry on the legacy of Nelson Mandela. What can you do to pave the way for a future of human equality and a brighter future for our children?

Memperingati Hari Hak Asasi Manusia Internasional


Kabar meninggalnya Nelson Mandela minggu lalu (6/13) telah diterima oleh dunia. Dunia telah berubah menjadi tempat yang lebih baik oleh karenanya. Dia adalah sosok pria yang mencintai kesetaraaan ras, agama, dan gender. Selama hidupnya, dengan tegas ia berkampanye untuk hak asasi manusia.

Tanggal 10 Desember adalah waktu yang tepat untuk mengingat kembali penerima Nobel perdamaian oleh Nelson Mandela. Tahun ini, hari hak asasi manusia internasional telah genap mencapai peringatannya yang ke dua puluh dengan tema: “Dua Puluh Tahun: bekerja untuk hak-hak mu”

Kebijaksanaan Nelson Mandela terlihat dari kata-katanya yang menggambarkan nilai-nilai dan keyakinan. “Tak seorangpun dilahirkan untuk membenci orang lain karena warna kulitnya, latar belakangnya, atau agamanya. Manusia harus belajar untuk membenci, dan jika manusia dapat belajar membenci, manusia juga dapat belajar mencintai karena cinta datang lebih alami ke hati manusia daripada yang sebaliknya . “

Dalam pernyataan ini, Nelson menyatakan bahwa masyarakat bertanggung jawab atas kemurnian hati suatu generasi dan selain itu dia juga menawarkan] solusi. Ia berkeyakinan bahwa dalam kesetaraan juga ada sebuah tanggung jawab sebagai bagian dari umat manusia. Ia menginspirasi jutaan orang untuk bertindak seperti perkataannya, “kita juga bisa mengubah dunia dan membuatnya menjadi tempat yang lebih baik. Hal ini ada di tangan anda untuk membuat perbedaan”

Kepala PBB untuk hak asasi manusia, Naily Pillay, memulai pernyataannya dengan, “Karena kami terus berusaha menuju pada dunia yang mengakui hak-hak semua manusia…”  sayangnya ini realitas dunia kita.

Mandela percaya bahwa hak-hak dasar manusia yang sering ditolak oleh masyarakat perlu untuk ditegakan. Hak-hak dasar inilah yang seharusnya kita harapkan, tegakkan, promosikan dan berusaha untuk memberikan. Hak untuk air bersih, makanan yang cukup, martabat, tempat tinggal, kebebasan berbicara, kebebasan untuk memilih agama atau tidak, hak atas pendidikan, hak untuk ikut serta dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi kehidupan kita, akses untuk perawatan kesehatan, upah yang memadai untuk mendukung keluarga, dan hak untuk kehidupan yang layak .

Nelson Mandela dalam pidatonya di Johanesburg, tanggal 2 Juli 2005 membahas salah satu isu tentang kemiskinan. Ia mengatakan “Mengatasi kemiskinan bukan perbuatan amal. Ini adalah tindakan keadilan. Ini adalah perlindungan hak asasi manusia, hak atas martabat untuk kehidupan yang layak. Selama kemiskinan terus berlanjut, tidak ada kebebasan sejati.

Banyak anak-anak kita di Jakarta yang hidup dalam kemiskinan- dibantaran rel keteta api, dibawah jembatan penyebrangan. Banyak anak-anak kita tidak memiliki akta kelahiran dan akses pendidikan. Anak-anak ini adalah masa depan negara kita dan dengan demikian membutuhkan orang dewasa untuk mengampanyekan hak-hak mereka. Ini adalah apa yang kita lakukan di Sahabat Anak, berkampanye untuk hak-hak mereka untuk mendapatkan pendidikan, hak mereka untuk memiliki akta kelahiran, hak mereka untuk didengar .

Hari ini, pada Hari Hak Asasi Manusia Internasional, marilah kita berpikir tentang apa yang dapat kita lakukan untuk melanjutkan warisan Nelson Mandela. Apa yang dapat Anda lakukan untuk membuka jalan bagi masa depan kesetaraan manusia dan masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak kita ?

%d blogger menyukai ini: