Monthly Archives: November 2014

KAN Cijantung – KREATIVITAS TANPA BATAS

Penampilan adik-adik dengan seragam dan alat sekolah :)

Penampilan adik-adik dengan seragam dan alat sekolah 🙂

Tiga tahun menggelar Kreasi Anak Negri –berupa atraksi seni di depan penonton pembeli tiket – tahun ini Sahabat Anak Cijantung mengembalikan esensi KAN ke asalnya. Yakni festival seni yang diikuti anak-anak binaan SA Cijantung sekaligus ajang pencarian bakat untuk mengisi kelas seni (tari, drama, vokal, musik).

Acara dari anak, oleh anak, untuk anak ini diselenggarakan di pendopo Universitas Thamrin Jakarta Timur pada hari Minggu 9 November 2014. Panitia mencatat ada 15 kelompok yang mendaftar. Namun pada harinya, 3 peserta tidak muncul. Tuntutan untuk bekerja sebagai pengamen atau pengupas bawang, mungkin menjadi halangan bagi anak-anak marginal area Cijantung dan Pasar Induk Kramatjati tersebut.

Setelah sambutan dari Kak Anies (Koordinator SA Cijantung), menyusul Kak Lina Tjindra (Pengurus Sahabat Anak), duo MC Kak Dita dan Dina memandu jalannya lomba. 12 peserta tampil dengan aneka performa: tari, gerak dan lagu, musik, vokalis solo, serta grup vokal. Tingkah laku dan penampilan adik-adik mengundang tawa, senyum, juga haru. Tak terlihat lelah, meski mereka telah hadir di lokasi 2 jam sebelumnya.

Setelah penampilan semuanya, ketiga juri yakni Kak Lina Tjindra, Mas Andri, dan Pak Yesaya berembuk sambil menikmati makan siang, demikian juga yang lainnya. Diskusi berjalan alot karena selisih angka yang ketat antar pemenang.

Usai makan siang, MC mempersilakan juri mengumumkan pemenang, mulai dari 3 Juara Harapan hingga 3 Juara Utama. 3 Juara Harapan mendapatkan kado yang besar dan lumayan berat. Juara 3 mendapatkan beasiswa sebesar Rp 400.000, Juara 2 Rp 600.000, Juara 1 Rp 800.000.

Mas Andri -guru musik- bersama adik-adik binaan SA Cijantung

Mas Andri -guru musik- bersama adik-adik binaan SA Cijantung

4 adik juara 1 menyanyikan lagu karya SA Cijantung “Meraih Impian”. Saat menyanyikannya, penjiwaan mereka sangat baik. Kakak-kakak relawan jadi terharu, termasuk beberapa adik yang menyaksikan terdiam dan bahkan menangis. Terlihat jelas, mereka merindukan KAN. Acara ini lebih dari sekedar seremoni, tapi telah merasuk dan menjadi identitas mereka.

Siapa lagi yang bisa menghargai karya seni adik-adik, selain mereka sendiri dan kakak-kakak relawan yang selama ini setia mendampingi, membangkitkan rasa percaya diri mereka, serta menjadikan mereka berharga. (LN)

Iklan
%d blogger menyukai ini: