Monthly Archives: Februari 2015

No TV, let’s study for two hours

Sahabat Anak Prumpung

Sahabat Anak Prumpung

After a successful campaign of getting birth certificates to the children at Prumpung, to fulfill their right of having an identity, Sahabat Anak comes up with new ideas to contribute more to their community.
As we enter the New Year, SA Prumpung has a big plan: to run the No TV, let’s study for two hours program. This idea came from the children of SA Prumpung who care about their friend’s habits and behaviors. Most of the children in Prumpung spend their time outside school playing outdoors and watching television. There is no initiative for them to review what they have just studied at school or to do their homework.
For these children, television shows that air within their study hours are hypnotizing. Sadly, most of these shows are not even appropriate for their age. The pleasure they get from playing and watching TV all day long makes them forget their responsibilities as students, and this happens almost everywhere.
It is a challenge because changing their behavior is not an easy task. Besides the role of the students under SA Prumpung to rally for this campaign, we also need the participation of those who have direct influence on these children like their parents and the neighborhood leaders.
The cooperation between Sahabat Anak Prumpung and the neighborhood officials, plus support from parents, will be an important factor that contributes to the success of No TV, let’s study for two hours program.
Once the program is officially launched, we hope it can be implemented in every household. In order to make it a habit, Prumpung will also have special study hours to keep the children away from television. Even though it is only for two hours daily, we hope it can be the first step towards more positive behavior.
May this main program from SA Prumpung Children’s Forum in 2015 come to fruition.

(Simsim)

Iklan

No TV, Ayo Belajar, Dua Jam Saja

Sahabat Anak Prumpung

Sahabat Anak Prumpung

Setelah berhasil mendampingi  anak-anak di Prumpung untuk mendapatkan Akta Kelahiran, sebagai upaya memenuhi hak beridentitas mereka, Sahabat Anak Prumpung terus melakukan ide-ide baru untuk bisa memberikan kontribusi lebih kepada lingkungan sekitarnya.

Seiring dengan datangnya tahun baru, salah satu rencana besar SA Prumpung di tahun 2015 adalah menjalankan Program No TV, Ayo Belajar, Dua Jam Saja. Gagasan ini muncul dari adik-adik Sahabat Anak Prumpung yang peduli terhadap perilaku, kebiasaan teman-teman mereka. Kebanyakan anak di Prumpung hampir menghabiskan waktunya di luar sekolah untuk bermain di luar rumah dan menonton televisi. Tidak ada kesadaran untuk mengulang kembali pelajaran di sekolah, atau menyelesaikan pekerjaan rumah.

Bagi kebanyakan anak-anak di Prumpung, tontonan di televisi yang tayang di jam-jam belajar sudah seperti sihir. Padahal, acara hiburan yang disajikan banyak yang tidak layak untuk mereka. Kesenangan yang didapat dari bermain dan menonton televise tanpa kenal waktu membuat banyak anak melupakan kewajibannya sebagai siswa. Hal ini terjadi hampir di setiap area di Prumpung.

Tantangannya, mengubah kebiasaan anak-anak di lingkungan SA Prumpung tersebut bukanlah perkerjaan gampang. Selain melibatkan adik-adik binaan untuk mengkampanyekan program tersebut, meski melibat pihak luar Sahabat Anak yang punya pengaruh langsung pada anak-anak tersebut, seperti pengurus RT dan orang tua.
Kerja bersama, antara Sahabat Anak Prumpung dengan pengurus RT, serta dukungan dari orangtua, diharapkan bisa menjadi terobosan penting untuk keberhasilan Program No TV, Ayo Belajar, Dua Jam Saja.

Dengan menjadi program resmi, ditambah dengan dukungan dari para orangtua, program tersebut diharapkan bisa berjalan di setiap rumah. Untuk kemudian menjadikan ini sebagai kebiasaan, di Prumpung ada waktu khusus untuk belajar, anak-anak jauh dari televisi. Walaupun hanya berlangsung dua jam, diharapkan hal tersebut bisa menjadi langkah awal untuk melakukan kebiasaan positif lainnya.
Semoga program andalan dari Tim Forum Anak SA Prumpung di tahun 2015 ini bisa terlaksana dengan baik.

(Simsim)

A commitment as a child protection institution

Komitmen perlindungan anak

2014, known as a hot year due to the political climate, has passed. As there is a new government, a new order, a new system, renewed spirit, and a new mental revolution 2015 should be welcomed with optimism.

However, being optimistic does not mean forgetting the needs of those less fortunate in our society. These needs still have to be addressed and the gap diminished little by little, so it doesn’t slow down the growth of the nation.

The data of the children’s standards of living in the country is still not good.

  • 4 million children live in very poor households.
  • 2 million toddlers are abandoned.
  • 2 million children are abandoned.
  • 230 thousand children live and work on the streets.
  • Almost six thousand children are going through legal processes

(Ministry of Social Affairs, 2011)

The government’s blue print, particularly the regional government of DKI Jakarta, in the short term (1 year), medium term (3-5 years), and up to long term (10 years and over) – has not been outlined in detail to the public.

However, during one meeting with the government of DKI Jakarta, they mentioned their four commitments to the people of Jakarta:

  • education
  • health
  • housing, and
  • jobs

We need to remember that these commitments are only for the people registered in the Special Capital Region (DKI). So, for those not in this area they will be handled by either the central government or by their hometown.

Sahabat Anak is an institution committed to fulfilling the rights of children especially marginalized ones in the greater area of Jakarta (Jabodetabek). It realises the need to strengthen the foundation of its services. This means Sahabat Anak’s commitment will step up from a children’s rights fulfillment organisation (needs based) to a children’s protection organisation (rights based).

This escalation in commitment means the services, principals and program activities Sahabat Anak does, will all have the same goal of child protection.

For example, birth certificates for the children who do not have one – the program is no longer about advocating about a child’s right to their identity but it is now about securing their identity.

Without a birth certificate, a child faces difficulties getting into school, to get treatment in a medical clinic, to be hospitalized, getting a diploma, applying for a job, to get married, to participate in politics and much more. A child has the right to all of these things, this is what is meant by rights based.

The data shows about 40 million Indonesian children do not have a birth certificate (Puskapa UI, 2014) which highlights the urgency to realise this new agenda.

One of Sahabat Anak’s commitments, as a child protection institution, is in writing a Child Protection Policy (CPP) and implementing it in 2015. The policy covers all areas, from individuals to institutions and companies. It also covers media that Sahabat Anak engages with.

The involvement of parents and community figures in the areas where the tutorial kids are living, are also involved in supporting the above idealism. These targets and plans are not easy, but they are not impossible.

The support from hundreds of volunteers, tutorial children who have grown up and now participate in Sahabat Anak’s organisational structure, the government, similar NGOs, education institutes, religious institutes, and also the media will enable the commitment that is written on paper to manifest in reality.

Salam SAHABAT,

Lina Tjindra

Komitmen Sebagai Lembaga Perlindungan Anak

Komitmen perlindungan anak

2014 yang disebut sebagai tahun panas – sehubungan pesta demokrasi di ranah legislatif dan eksekutif – telah terlewati. Sepatutnya tahun 2015 kita sambut dengan penuh optimisme. Mumpung pemerintah baru, orde yang baru, tatanan baru, semangat baru, dan revolusi mental baru.

Namun, perspektif optimis bukan berarti melupakan beban demografis yang masih menggelantung dan perlu sedikit demi sedikit dikikis, agar tidak memperlambat langkah bangsa dalam laju pertumbuhannya. Data kondisi anak di Tanah Air masih tidak menyenangkan, apalagi menenangkan:

• 7,4 juta anak berasal dari rumah tangga sangat miskin

• 1,2 juta balita terlantar

•3,2 juta anak terlantar

• 230 ribu anak tinggal dan bekerja di jalan

• Hampir enam ribu anak sedang menjalani proses hukum

(Kemensos RI, 2011).

Rancang biru (blue print) pemerintah, khususnya Pemda DKI Jakarta, dalam jangka pendek(1 tahun), menengah(3-5 tahun), hingga panjang(10 tahun ke atas) – belum dipaparkan secara detil ke publik. Namun, dalam salah satu kesempatan audiensi dengan Pemda DKI Jakarta, mereka menyatakan empat komitmen mereka bagi warga DKI:

• pendidikan

• kesehatan

• perumahan, dan

• pekerjaan.

Tapi ingat, komitmen tersebut hanya bagi warga DKI. Jadi, warga non-DKI akan diserahkan ke Pemerintah Pusat untuk mengurusnya, atau dikembalikan ke daerah asal.

Menimbang paparan di atas, serta tenggat waktu yang terus bergulir cepat, Sahabat Anak– sebagai lembaga yang berkomitmen dan konsisten dalam pemenuhan hak anak, khususnya anak marginal Jabodetabek –menyadari perlunya penguatan pondasi pelayanan. Bentuk penguatan itu adalah menaikkan komitmen Sahabat Anak dari lembaga pemenuhan hak anak (needs based) menjadi Lembaga Perlindungan Anak (rights based).

Peningkatan komitmen ini menjadikan prinsip-prinsip pelayanan dan aktivitas program yang dilakukan Sahabat Anak, bermuara pada satu tujuan, yakni Perlindungan Anak. Ambil contoh Akta Kelahiran bagi anak binaan yang belum memiliki – tidak lagi sekadar program advokasi pemenuhan hak identitas anak, tapi sudah menjadi keharusan untuk dipenuhi. Tanpa Akta Kelahiran, seorang anak akan sulit mendaftar sekolah, berobat di puskesmas, dirawat di rumah sakit, mendapatkan ijazah, melamar kerja, menikah, berpartisipasi politik, dan lainnya. Inilah yang dimaksud dengan rights based. Data bahwa ada sekitar 40 juta anak Indonesia belum memiliki Akta Kelahiran (Puskapa UI, 2014) kian mendorong percepatan program sosialisasi dan realisasinya.

Program pendukung komitmen Sahabat Anak selaku Lembaga Perlindungan Anak, salah satu di antaranya adalah pembuatan Kebijakan PerlindunganAnak (Child Protection Policy/CPP) dan penerapannya di tahun 2015. Sosialisasi CPP dimulai dari segala lini dan bagi setiap pribadi hingga lembaga dan perusahaan serta media yang berelasi dengan Sahabat Anak.

Keterlibatan orang tua dan tomas (tokoh masyarakat), di area di mana anak binaan tinggal, juga menjadi sasaran yang kian diperkuat guna mendukung idealisme di atas. Target dan rencana yang tidak mudah pastinya, tapi bukan berarti tidak mungkin. Dukungan dari ratusan volunter, anak-anak binaan yang telah beranjak dewasa dan berpartisipasi dalam struktur organisasi SahabatAnak, pemerintah, lembaga/LSM sejenis, mitra, institusi pendidikan, institusi keagamaan, serta media – diyakini memungkinkan komitmen di atas kertas terwujud dalam realitas.

Salam SAHABAT

Lina Tjindra

Mengasihi, bukan mengasihani!

Saya tidak akan pernah melupakan pengalaman saya beberapa tahun yang lalu, saat menghadiri sebuah acara untuk menggalang dana beasiswa bagi anak-anak pemulung di sebuah area di Jakarta. Saat itu saya duduk di samping seorang anak yang menjadi salah satu penerima beasiswa, sebut saja Rara. Rara mengajukan dua pertanyaan kepada saya. Pertanyaan pertama dapat saya jawab dengan mudah, tapi pertanyaan kedua sempat membuat saya tercenung.

Dia bertanya begini, “Kak, kenapa orang-orang ini (para donatur) mau membantu kami?”

Jawab saya, “Karena mereka percaya bahwa kalian akan hidup lebih baik jika mendapat kesempatan untuk memperoleh pendidikan.”

Lalu tanyanya lagi, “Bagaimana cara saya bisa membalas kebaikan mereka, kak?”

Nah, pertanyaan ini yang membuat saya terdiam sesaat, tidak menyangka Rara akan menanyakan hal tersebut.

Hingga saya menjawab, “Caranya, kamu belajar sungguh-sungguh sampai lulus sekolah, lalu bekerja, terus gantian kamu yang bantu adik-adik lainnya untuk bisa sekolah. Teruskanlah kebaikan mereka.”

Kemudian kata anak tersebut, “Kak, aku mau balas kebaikan mereka.”

Saya cuma bisa kembali diam, kali ini sambil tersenyum. Sekarang Rara sudah hampir menyelesaikan pendidikannya di SMA.

Saat ini ada ratusan orang tercatat sebagai volunter di Sahabat Anak. Mereka datang dari berbagai latar belakang yang berbeda baik dari pendidikan, usia, pekerjaan, suku, bangsa, agama, dll. Peran yang mereka lakukan juga beraneka ragam. Ada yang menjadi pengajar, membantu bidang kesehatan, menyelenggarakan event, mencari dana, serta berbagai peran lainnya. Satu hal yang menjadi kesamaan adalah: Mereka datang untuk menjadi seorang SAHABAT bagi anak-anak marginal, khususnya anak-anak jalanan.

Menjadi sahabat berarti ada keterikatan dan kedekatan emosi satu sama lain, mau berbagi hidup, ada saat dibutuhkan, hadir dengan ketulusan, dan menyadari adanya kesetaraan. Seorang sahabat tidak akan datang sebagai superior yang merasa diri lebih tinggi dari yang lain. Seorang sahabat tidak akan mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Nilai persahabatan seperti inilah yang dibangun di Sahabat Anak.

Pertanyaannya adalah: Bagaimana para volunter dapat menjadi sahabat bagi anak-anak yang usia dan pola kehidupannya berbeda dengan mereka? Kuncinya adalah KASIH. Para volunter melihat anak-anak tersebut sebagai anak-anak yang harus dikasihi, BUKAN dikasihani. Jika kita datang dengan rasa kasihan, maka kita hanya akan melihat kelemahan yang ada pada diri anak-anak tersebut. Tetapi saat kita datang dengan kasih, yang terlihat dari anak-anak itu adalah berbagai potensi yang mereka miliki, sebuah kepercayaan bahwa anak-anak tersebut akan bersinar saat mereka diberi kesempatan.

Love-FB

Yuk, ubah paradigma kita. Jangan lagi memandang anak-anak jalanan dengan rasa kasihan, kita akan membuat mereka hanya menjadi penerima. Pandanglah mereka dengan kasih, maka kita akan mengajak mereka bersama-sama berjuang, untuk sebuah kehidupan yang lebih baik.

Mari kembali mengingat Rara, persahabatan telah menarik Rara dari kehidupan jalanan ke bangku pendidikan. Persahabatan juga mampu membawa anak-anak lainnya yang 10 tahun lalu berkeliling meminta-minta, mengamen di lampu merah, atau sibuk menghirup lem aibon, kini duduk di bangku kuliah, atau bekerja di sebuah perusahaan, bahkan ada yang memiliki usaha sendiri. Anak-anak yang telah beranjak dewasa ini akan meneruskan nilai-nilai yang telah mereka peroleh ke generasi berikutnya, sehingga kebaikan akan terus berlanjut dan tidak terputus. Saat hal tersebut terjadi, ingatlah: Itu karena kasih, bukan kasihan.

Selamat mengasihi!

Salam sahabat,

Dian Novita Elfrida

To love, not to pity!

Love-FB
I will never forget an experience that happened a few years ago while I was attending a scholarship fundraising event for scavengers’ children in one area of Jakarta. During the event, I was sitting next to a child who was one of the beneficiaries – let’s call her Rara. Rara asked me two questions. I could easily answer the first one, but the second one made me pensive.

She asked me, “Kak, why are these people (the donors) willing to help us?”

I replied, “Because they believe that you will live better if you get an opportunity for an education.”

She asked again, “How can I repay them?”

The last question made me silent for a second. I did not expect it.

I finally answered her, “This is how. You study hard until you graduate, and then get a job. It will be your turn to help other kids get into school. Pay it forward.”

And then the girl said: “I want to repay their kindness.”

I was silent again, this time with a smile. At this time, Rara has almost completed her education in Senior High School.

Currently there are hundreds of people registered as volunteers in Sahabat Anak. They come from various different backgrounds in terms of education, age, occupation, ethnicity, race, religion, etc. They also have various different roles: teacher, medical assistance, event organizer, fundraiser, and many more. One thing that they have in common is: they have come to be a FRIEND for the marginalized children, especially street children.

Being a friend means there is an attachment and emotional closeness between each other, willing to share lives, be there when needed, be present with sincerity, and realise the equality between each other. A friend would not come as a superior who feels higher than the other. A friend would not make a profit for themselves. This is the kind of friendship value which has been built within Sahabat Anak.

The question is: how do the volunteers can be friends of the children whose ages and live patterns are different than theirs? The key is LOVE. The volunteers must see the children as those who needed to be loved, NOT pitied. If we approach with pity, we will only see weaknesses on those children. But, when we come with love, we will see the potential that they have, a belief that those children will someday shine when they are given opportunities.

Let’s change our paradigm. Never again look at street children with pity. We will only make them as the receivers. Look at them with love, therefore we will invite them to strive together for a better life.

Let’s recall Rara. Friendship had drawn Rara from a street life to a school bench. Friendship is also able to bring other children – who, 10 years ago, were begging, singing around the traffic lights, or sniffing adhesives – to get into college, or work in a company, or even run their own business. These grown-up children will continue to pass on the values to the next generation, so the goodness will continue to live on uninterrupted. When this happens, remember it is because of love, not pity.

Let’s love!

Salam sahabat,

Dian Novita Elfrida

Hak Anak Dalam Petisi

Program advokasi dan sosialisasi hak anak oleh Sahabat Anak

Program advokasi dan sosialisasi hak anak oleh Sahabat Anak

Sahabat, pernahkah Anda terlibat dalam penandatanganan petisi, atau mungkin pernah melihat kampanye beberapa petisi di laman media sosial Sahabat? Jika Sahabat cukup aktif di dunia media sosial mungkin nama Change.org pernah terlintas di sana. Hal-hal yang diperjuangkannya juga cukup bervariasi. Mulai dari lingkungan hidup dan satwa, keadilan, politik dan demokrasi, juga media dan internet.

Di akhir tahun lalu, Change.org beserta House of Infographics menampilkan infografis yang menarik tentang petisi-petisi di Indonesia tahun 2014. Yang menarik bagi Sahabat Anak, tentunya, adalah hak anak berada di kategori petisi no. 4 terpopuler di 2014. Jumlah tanda-tangan yang terkumpul mencapai 115.759 orang. Salah satu petisinya adalah keprihatinan akan terpaparnya anak terhadap lagu berkonten dewasa di sebuah acara televisi. Melihat kepedulian masyarakat dapat disalurkan dan mendapatkan tanggapan nyata memberikan harapan bagi apa yang ingin dicapai SA sehubungan dengan komitmen SA menjadi Lembaga Perlindungan Anak.

Silahkan simak infografis dari Change.org dan HOI di tautan di bawah ini.

http://houseofinfographics.com/infografis-change-org-2014/

Children’s Rights in Petition

Sahabat Anak's advocacy program for Children's rights

Sahabat Anak’s advocacy program for Children’s rights

Friends, have you ever been involved in petition signing, or seen some petition campaigns in your social media page? If you are quite active in social media world you may have heard about Change.org. The subjects of its campaigns are of many varieties, from environment and wildlife, justice, politics and democracy, also media and internet.

At the end of last year, Change.org with House of Infographics put an interesting infographic on petition in Indonesia for the year 2014. What is interesting for Sahabat Anak, of course, is that children’s rights is at no. 4 of most popular petition category in 2014 with acquired signatures of 115,759. One of the petitions is the concern on children’s exposure to adult content song in a television show. Seeing that community’s concern can be channeled and receiving real response gives hope in what SA wants to achieve in relation to its commitment as children’s advocacy agency.

To see this infographic from Change.org and HOI, please refer to below link.

http://houseofinfographics.com/infografis-change-org-2014/

(GMB)

%d blogger menyukai ini: