Mengasihi, bukan mengasihani!

Saya tidak akan pernah melupakan pengalaman saya beberapa tahun yang lalu, saat menghadiri sebuah acara untuk menggalang dana beasiswa bagi anak-anak pemulung di sebuah area di Jakarta. Saat itu saya duduk di samping seorang anak yang menjadi salah satu penerima beasiswa, sebut saja Rara. Rara mengajukan dua pertanyaan kepada saya. Pertanyaan pertama dapat saya jawab dengan mudah, tapi pertanyaan kedua sempat membuat saya tercenung.

Dia bertanya begini, “Kak, kenapa orang-orang ini (para donatur) mau membantu kami?”

Jawab saya, “Karena mereka percaya bahwa kalian akan hidup lebih baik jika mendapat kesempatan untuk memperoleh pendidikan.”

Lalu tanyanya lagi, “Bagaimana cara saya bisa membalas kebaikan mereka, kak?”

Nah, pertanyaan ini yang membuat saya terdiam sesaat, tidak menyangka Rara akan menanyakan hal tersebut.

Hingga saya menjawab, “Caranya, kamu belajar sungguh-sungguh sampai lulus sekolah, lalu bekerja, terus gantian kamu yang bantu adik-adik lainnya untuk bisa sekolah. Teruskanlah kebaikan mereka.”

Kemudian kata anak tersebut, “Kak, aku mau balas kebaikan mereka.”

Saya cuma bisa kembali diam, kali ini sambil tersenyum. Sekarang Rara sudah hampir menyelesaikan pendidikannya di SMA.

Saat ini ada ratusan orang tercatat sebagai volunter di Sahabat Anak. Mereka datang dari berbagai latar belakang yang berbeda baik dari pendidikan, usia, pekerjaan, suku, bangsa, agama, dll. Peran yang mereka lakukan juga beraneka ragam. Ada yang menjadi pengajar, membantu bidang kesehatan, menyelenggarakan event, mencari dana, serta berbagai peran lainnya. Satu hal yang menjadi kesamaan adalah: Mereka datang untuk menjadi seorang SAHABAT bagi anak-anak marginal, khususnya anak-anak jalanan.

Menjadi sahabat berarti ada keterikatan dan kedekatan emosi satu sama lain, mau berbagi hidup, ada saat dibutuhkan, hadir dengan ketulusan, dan menyadari adanya kesetaraan. Seorang sahabat tidak akan datang sebagai superior yang merasa diri lebih tinggi dari yang lain. Seorang sahabat tidak akan mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Nilai persahabatan seperti inilah yang dibangun di Sahabat Anak.

Pertanyaannya adalah: Bagaimana para volunter dapat menjadi sahabat bagi anak-anak yang usia dan pola kehidupannya berbeda dengan mereka? Kuncinya adalah KASIH. Para volunter melihat anak-anak tersebut sebagai anak-anak yang harus dikasihi, BUKAN dikasihani. Jika kita datang dengan rasa kasihan, maka kita hanya akan melihat kelemahan yang ada pada diri anak-anak tersebut. Tetapi saat kita datang dengan kasih, yang terlihat dari anak-anak itu adalah berbagai potensi yang mereka miliki, sebuah kepercayaan bahwa anak-anak tersebut akan bersinar saat mereka diberi kesempatan.

Love-FB

Yuk, ubah paradigma kita. Jangan lagi memandang anak-anak jalanan dengan rasa kasihan, kita akan membuat mereka hanya menjadi penerima. Pandanglah mereka dengan kasih, maka kita akan mengajak mereka bersama-sama berjuang, untuk sebuah kehidupan yang lebih baik.

Mari kembali mengingat Rara, persahabatan telah menarik Rara dari kehidupan jalanan ke bangku pendidikan. Persahabatan juga mampu membawa anak-anak lainnya yang 10 tahun lalu berkeliling meminta-minta, mengamen di lampu merah, atau sibuk menghirup lem aibon, kini duduk di bangku kuliah, atau bekerja di sebuah perusahaan, bahkan ada yang memiliki usaha sendiri. Anak-anak yang telah beranjak dewasa ini akan meneruskan nilai-nilai yang telah mereka peroleh ke generasi berikutnya, sehingga kebaikan akan terus berlanjut dan tidak terputus. Saat hal tersebut terjadi, ingatlah: Itu karena kasih, bukan kasihan.

Selamat mengasihi!

Salam sahabat,

Dian Novita Elfrida

About Sahabat Anak

Sahabat Anak is a non-profit organisation that provides quality education and children’s rights advocacy in an effort to encourage and inspire Jakarta’s street children to escape urban poverty. The movement began in 1997 after a group of university students made a commitment to make a difference in the lives of Indonesia's street children. As a volunteer-based organisation, Sahabat Anak aims to involve as many members of the community as possible to help improve the lives of street children.

Posted on 02/13/2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: