Monthly Archives: Februari 2015

19 Years of Friendship

This year will be the 19th year Sahabat Anak (SA) has been present for marginalized children in Indonesia, especially in the greater area of Jakarta. It has been a big step full of challenges considering the dynamics which happen from year to year which have made all the “Friends” (Sahabat) more mature and able to improve themselves.

One example is the presence of the young volunteers – the tutorial teenagers. Usually, our volunteers are high school students, university students, professionals, even married couples, all of whom are from outside the tutorial areas. However, during the last few years, there is a new nuance coming out from our tutorial areas: the young volunteers who were once the tutorial children – joining SA’s programs when they were not yet in school – and now have grown up.

Their willingness to involve – to take over the baton from the active senior volunteers, to give some extra lessons, to mentor, or just to be the seniors who listen to their juniors’ thoughts or feelings – is a task they do voluntarily. Often they offer themselves to be involved simply for self-learning or to give back what they have received in the past.

Rohanita, one of the tutorial teenagers in SA Prumpung who now serves as a tutor and the area co-ordinator.

Rohanita, one of the tutorial teenagers in SA Prumpung who now serves as a tutor and the area co-ordinator.

Looking back, this first generation of SA’s tutorial children is no different from the children they are currently teaching. One difference is that they are now the mentors and role models for the kids –the new generation – in their neighbourhood.

There is a challenge living in the midst of a milieu that doesn’t give the best example to children. Despite living in marginal areas – where there are limitless opportunities to play, leave school, and promiscuity – they don’t merely follow the mainstream surrounding them. The challenge, therefore, is for them to continue to set good examples for their neighbourhood. To prove that marginalized children also have dreams, have the same opportunities, and can be leaders.

Currently, in some of SA’s tutorial areas, the teenagers are given opportunities to be the administrators of their own areas. They serve as coordinators, treasurers, work on the one-year programs that they have prepared and then evaluate them.

It is not an easy thing to reach this stage. Assisting, mentoring, controlling, maintaining relations, are some of the things done by the senior volunteers in order to see the tutorial teenagers develop and become leaders in their areas, and in the hope of developing their areas to be better places. It is not impossible for them to be leaders in other places or for them to take on other tasks in the future.

One of the prides of Sahabat Anak is seeing the development of the tutorial children. This process is not yet completed; not even halfway. But, at least, to get this far, the FRIENDSHIP and CHANCES provided by Sahabat Anak have given the children self-confidence and made them realize that they are valuable and able to create something.

Salam Sahabat,
Simsim

19 Tahun Persahabatan

Rohanita, salah satu adik binaan SA Prumpung yang saat ini menjadi kakak pengajar dan koordinator area.

Rohanita, salah satu adik binaan SA Prumpung yang saat ini menjadi kakak pengajar dan koordinator area.

Tahun ini akan menjadi tahun ke-19 Sahabat Anak (SA) hadir bagi anak marginal Indonesia, khususnya area Jakarta sekitarnya. Sebuah langkah besar yang penuh tantangan mengingat dari tahun ke tahun terjadi dinamika yang menjadikan para Sahabat kian dewasa dan terus berbenah diri.

Salah satu contoh adalah kehadiran para volunter muda yakni anak binaan usia remaja. Bila selama ini para volunter terdiri dari pelajar, mahasiswa, karyawan, hingga pasangan menikah, yang notabene berasal dari luar area binaan; maka beberapa tahun ini ada warna baru yang dimunculkan dari area binaan. Yakni munculnya para volunter muda yang tak lain adalah adik-adik binaan yang sudah mengikuti program SA sejak mereka belum sekolah dan sekarang sudah beranjak dewasa.

Keinginan mereka untuk terlibat, mengambil tongkat estafet dari kakak volunter yang aktif di lokal, memberikan pelajaran tambahan, pendampingan, atau sekedar menjadi kakak curhat bagi adik-adik yang masih kecil- adalah tugas yang mereka lakukan dengan sukarela. Tak jarang mereka menawarkan diri dengan alasan untuk pembelajaran diri atau untuk memberikan kembali apa yang telah mereka dapatkan di masa lalu.

Melihat ke belakang, adik-adik binaan generasi pertama Sahabat Anak ini tidak berbeda dengan adik-adik kecil yang mereka bina sekarang. Bedanya adalah, sekarang giliran mereka berperan sebagai kakak dan role model untuk generasi kini di lingkungan mereka sendiri. Ada beban tersendiri di tengah lingkungan pergaulan yang tidak memberi contoh baik bagi mereka. Meski tinggal di area marginal, di mana tawaran untuk bermain, meninggalkan bangku sekolah, pergaulan bebas tanpa batas – tidak membuat mereka lantas mengikuti arus mainstream yang ada di sekitar mereka. Justru tantangannya adalah bagaimana untuk terus menjadi teladan bagi lingkungan mereka. Bahwa anak marginal juga punya cita-cita, punya kesempatan yang sama, dan bisa menjadi pemimpin.

Di beberapa area binaan SA saat ini, adik remaja diberi kesempatan untuk menjadi Pengurus Sahabat Anak di lingkungan mereka. Mulai dari menjadi koordinator, bendahara, bahkan menjalankan program yang sudah mereka persiapkan untuk setahun ke depan dan kemudian mengevaluasinya.

Bukan hal yang mudah untuk sampai ke tahap ini. Pendampingan, mentoring, pengawasan, menjaga relasi, adalah beberapa hal yang dilakukan oleh volunter sebelumnya demi melihat adik-adik binaan ini bisa berkembang dan menjadi pemimpin di area setempat. Dengan harapan mereka akan membangun areanya menjadi lebih baik. Bukanlah hal yang mustahil, di masa yang akan datang mereka akan menjadi pemimpin di tempat lain atau untuk tugas lain.

Salah satu kebanggaan Sahabat Anak adalah melihat proses perkembangan dari adik-adik binaan tersebut. Proses ini belum selesai. Bahkan belum setengah jalan. Tapi setidaknya, untuk sampai sejauh ini, PERSAHABATAN dan KESEMPATAN yang ditawarkan oleh Sahabat Anak menjadikan adik binaan percaya diri bahwa mereka berharga dan bisa berkarya.

Salam Sahabat,
Simsim

%d blogger menyukai ini: