Monthly Archives: Agustus 2015

70 Tahun (Anak) Indonesia Merdeka?

Dirgahayu Anak-anak Indonesia :)

Dirgahayu Anak-anak Indonesia 🙂

Anak merupakan aset bangsa yang tidak ternilai harganya. Jumlah mereka mencapai sepertiga penduduk Indonesia (33,9 persen) atau sekitar 82,5 juta. Mengecilkan eksistensi mereka apalagi peran mereka dalam bernegara, adalah satu kesalahan akbar yang berdampak masif di saat ini, terlebih di hari nanti. Saat mereka menjadi dewasa, menjadi kepala keluarga, menjadi pemimpin, kepala perusahaan, pejabat pemerintahan, menjadi tokoh masyarakat, menjadi lurah, camat, bupati, gubernur, atau presiden. Bisa dibayangkan dampaknya bila pengasuhan anak kini serba instan, lunak/soft, dan minim bekal moral/religi.

70 tahun Indonesia merdeka, apakah anak Indonesia sudah merdeka dari penelantaran dan kekerasan? Hampir separuh (49,51 persen) anak usia 7-17 tahun putus sekolah. Masih ada 3,4 juta anak usia 10-17 tahun yang bekerja (child labour). Angka kematian bayi dan balita masih jauh dari target MDG (Millenium Development Goals) – yakni 34 kematian bayi per 1.000 kelahiran dan 44 kematian balita per 1.000 kelahiran. Belum lagi anak korban trafficking, malnutrisi, tidak memiliki identitas (akta lahir), dan data-data memilukan lainnya.

Ada satu kalimat yang mengatakan bahwa butuh warga sekampung untuk membesarkan seorang anak. Sangat bisa diterima jika status kalimat itu dinaikkan, menjadi “Butuh satu bangsa untuk membesarkan anak-anak”. Solusi aplikatif dalam berbagai lini – mulai dari legislatif, yudikatif, dan eksekutif – akan menjadi satu tonggak penting penyelesaian problema multikompleks anak.

Koordinasi antar unit pemerintah (kabinet, menteri, deputi bidang) perlu ditingkatkan. Salah satu contoh hotline pengaduan kasus anak, misalnya, yang ada beberapa (di bawah naungan kementrian atau LSM). Namun banyak yang sudah tidak aktif, atau tidak sigap 24 jam 7 hari seminggu, atau penerima telpon memiliki kecakapan minim dalam penanganan kasus.

Alangkah baiknya bila hanya ada satu nomor telepon dengan angka yang mudah diingat, dapat dihubungi kapanpun dari area manapun, serta dengan personil yang cakap dalam penanganan kasus dan kemampuan dalam menenangkan lawan bicara (yang ketakutan, panik, emosional).

Itu hanya satu contoh kecil dari sekian banyak solusi aplikatif yang perlu ditata ulang pemerintah bangsa ini. Pandanglah sekitar, satu dari tiga penduduk Indonesia adalah anak. Mereka berharga, mereka berpotensi raksasa, mereka adalah kita.

Dirgahayu Indonesia!

Dirgahayukan juga anak-anak kita.

Sahabat Anak, 2015

Iklan

70th Anniversary of Indonesia’s (Children) Independence?

Let the children celebrate the true meaning of independence too

Let the children celebrate the true meaning of independence too

Children are invaluable asset of a country. The number of children in Indonesia is about one third of the population (33.9 %), or around 82.5 million people. To take their existence, or even their role as citizens, for granted is one big mistake that will make a massive impact. There will be a time when they become adults; to be the head of a family, a community figure, a local leader, a mayor, a governor, or even the President of Republic Indonesia. We can imagine what will happen if their current nurturing is soft, instant, and lack of moral and spiritual resources.

Indonesia is celebrating the 70th anniversary of our independence. Has Indonesian been freed from child abuse and neglect? Almost half of the children (49.51 %) age between 7 – 17 are school dropouts. There are still 3.4 million child labors age 10 – 17. The death rate of infants and toddlers are still under the target of MDG (Millenium Development Goals). Not to mention the children who are victims of trafficking, malnutrition, not registered with birth certificates, and other saddened data.

There is this proverb that says, it takes a village to raise a child. It makes sense if we “upgrade” the line to: “it takes a nation to raise children.” This would be a solution than can be applied in all public sectors – the legislature, the judiciary and the executives – and can be a start to solve various problems involving children.

We expect that a good coordination between all the government units needs to be improved. One example is hotline numbers where people can call and report all children related cases. The numbers are usually taken care by one ministry office or NGOs. However, many of those numbers are no longer active, or not 24/7 ready, or lacking of human resources’ skills on how to handle the calls.

It would be much better if there is only one line easy-to-remember telephone number. It can be reached at anytime from anywhere; equipped with well-trained human resources on skills to calm down callers who might be scared, panicked, or emotionally confused.

That is just one small example out of many solutions that can be re-administered by the government. Look around us, one of three of the population is a child. They are worthy, they have huge potentials, they are us!

Long live, Indonesia!

Let the children live long, too!

Sahabat Anak, 2015

My Story, Your Story

Usually the publication materials of Sahabat Anak are using pictures taken by volunteers and documentation team. The approach is changed this year. Instead, we will let the children to tell their own story from the pictures they take.

“My Story, Your Story” photo project is Sahabat Anak’s pilot programme as part of 2016 calendar preparation process, by increasing the children’s role as their own subject and object. The first phase of this project was done on August 8th by conducting a photography workshop for the children. Technical briefing was shared by Kak Sri Sadono, Sahabat Anak’s PR team member in the Media section, to the children from various tutorial centers in Jakarta.

Kak Dono opened the workshop by sharing that storytelling can be done in several ways, one of them is through pictures. Why should the children tell the stories themselves? So that the stories can represent their personal experience better. Examples of photo object/ theme that can be taken are best friends, parents, their house, playground, their volunteers, class and schoolmates, also people who inspire them.

Jpeg

Q&A Session

The children also given tips on how to take good pictures, such as making sure photos taken have sharp focus and taken from nearby. To get good lighting, Kak Dono suggested taking photos in the morning or day when there is still sunlight. If indoor pictures are needed, make sure they are taken near door or window. For better story do not forget to take picture of the object with surrounding area. Some of Kak Dono’s pictures were shown in this workshop as sample for the children.

After the Q&A session, these twelve children were lent cameras for two weeks. After they submit the pictures, we will go on with the next phase of this project, which is selecting their submissions.

Workshop Fotografi_1

Participants of “My Story, Your Story” Photography Workshop

Happy photo hunting!

(Sri Sadono & Gracia Balthazar)

Ceritaku Ceritamu

Biasanya, materi publikasi Sahabat Anak menggunakan foto hasil karya relawan pengajar dan tim dokumentasi. Di tahun ini, pendekatannya diubah, dengan membiarkan adik-adik bercerita melalui foto-foto yang mereka ambil.

Proyek foto “Ceritaku Ceritamu” menjadi program perdana Sahabat Anak sebagai bagian dari proses persiapan kalender 2016, dengan meningkatkan peran adik sebagai subjek sekaligus objek bagi diri mereka sendiri. Fase pertama proyek ini telah dilaksanakan pada tanggal 8 Agustus melalui lokakarya fotografi bagi para adik. Sharing pembekalan teknis diberikan oleh Kak Sri Sadono, tim Humas Sahabat Anak bagian Media, ke adik-adik dari berbagai rumah belajar di Jakarta.

Kak Dono membagikan bahwa bercerita bisa dengan berbagai cara, salah satunya melalui foto. Dijelaskan juga bahwa cerita adik-adik bisa lebih mewakili pengalaman pribadi apabila adik-adik sendiri yang menceritakannya. Contoh obyek/ tema foto yang bisa diambil antara lain: sahabat, orang tua, rumah, tempat bermain, kakak pengajar, kelas dan teman sekolah, serta sosok pemberi inspirasi.

Jpeg

Sesi Tanya Jawab

Adik-adik juga dibekali tips cara mengambil foto agar hasilnya baik, antara lain dengan memastikan gambar yang diambil fokusnya tajam, juga dengan memotret dari jarak dekat. Agar pencahayaan baik, disarankan untuk mengambil foto pada pagi atau siang hari saat masih terang. Kalaupun memotret di dalam ruangan, dianjurkan dekat dengan pintu atau jendela agar diterangi cahaya matahari. Untuk cerita yang lebih baik tidak lupa juga disarankan agar memotret obyek dengan lingkungan sekitarnya. Beberapa hasil foto Kak Dono ditunjukkan di lokakarya ini untuk menjadi contoh bagi adik-adik.

Setelah sesi tanya jawab, kedua belas perwakilan adik binaan Sahabat Anak mendapat pinjaman kamera selama dua minggu. Setelah hasil jepretan dikumpulkan, fase berikut dari proyek ini akan dilaksanakan, yaitu pemilihan hasil buruan foto adik-adik.

Selamat berburu foto bagi 12 perwakilan adik binaan!

Workshop Fotografi_1

Peserta Lokakarya Foto “Ceritaku Ceritamu”

(Sri Sadono & Gracia Balthazar)

%d blogger menyukai ini: