70 Tahun (Anak) Indonesia Merdeka?

Dirgahayu Anak-anak Indonesia :)

Dirgahayu Anak-anak Indonesia 🙂

Anak merupakan aset bangsa yang tidak ternilai harganya. Jumlah mereka mencapai sepertiga penduduk Indonesia (33,9 persen) atau sekitar 82,5 juta. Mengecilkan eksistensi mereka apalagi peran mereka dalam bernegara, adalah satu kesalahan akbar yang berdampak masif di saat ini, terlebih di hari nanti. Saat mereka menjadi dewasa, menjadi kepala keluarga, menjadi pemimpin, kepala perusahaan, pejabat pemerintahan, menjadi tokoh masyarakat, menjadi lurah, camat, bupati, gubernur, atau presiden. Bisa dibayangkan dampaknya bila pengasuhan anak kini serba instan, lunak/soft, dan minim bekal moral/religi.

70 tahun Indonesia merdeka, apakah anak Indonesia sudah merdeka dari penelantaran dan kekerasan? Hampir separuh (49,51 persen) anak usia 7-17 tahun putus sekolah. Masih ada 3,4 juta anak usia 10-17 tahun yang bekerja (child labour). Angka kematian bayi dan balita masih jauh dari target MDG (Millenium Development Goals) – yakni 34 kematian bayi per 1.000 kelahiran dan 44 kematian balita per 1.000 kelahiran. Belum lagi anak korban trafficking, malnutrisi, tidak memiliki identitas (akta lahir), dan data-data memilukan lainnya.

Ada satu kalimat yang mengatakan bahwa butuh warga sekampung untuk membesarkan seorang anak. Sangat bisa diterima jika status kalimat itu dinaikkan, menjadi “Butuh satu bangsa untuk membesarkan anak-anak”. Solusi aplikatif dalam berbagai lini – mulai dari legislatif, yudikatif, dan eksekutif – akan menjadi satu tonggak penting penyelesaian problema multikompleks anak.

Koordinasi antar unit pemerintah (kabinet, menteri, deputi bidang) perlu ditingkatkan. Salah satu contoh hotline pengaduan kasus anak, misalnya, yang ada beberapa (di bawah naungan kementrian atau LSM). Namun banyak yang sudah tidak aktif, atau tidak sigap 24 jam 7 hari seminggu, atau penerima telpon memiliki kecakapan minim dalam penanganan kasus.

Alangkah baiknya bila hanya ada satu nomor telepon dengan angka yang mudah diingat, dapat dihubungi kapanpun dari area manapun, serta dengan personil yang cakap dalam penanganan kasus dan kemampuan dalam menenangkan lawan bicara (yang ketakutan, panik, emosional).

Itu hanya satu contoh kecil dari sekian banyak solusi aplikatif yang perlu ditata ulang pemerintah bangsa ini. Pandanglah sekitar, satu dari tiga penduduk Indonesia adalah anak. Mereka berharga, mereka berpotensi raksasa, mereka adalah kita.

Dirgahayu Indonesia!

Dirgahayukan juga anak-anak kita.

Sahabat Anak, 2015

About Sahabat Anak

Sahabat Anak is a non-profit organisation that provides quality education and children’s rights advocacy in an effort to encourage and inspire Jakarta’s street children to escape urban poverty. The movement began in 1997 after a group of university students made a commitment to make a difference in the lives of Indonesia's street children. As a volunteer-based organisation, Sahabat Anak aims to involve as many members of the community as possible to help improve the lives of street children.

Posted on 08/17/2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: