Monthly Archives: Oktober 2015

A Story From Batu Ajung, West Kalimantan

We named our community: Love Borneo. It’s a group of young people who has grown spontaneously; doesn’t have any chairperson or board of committee, but we have one vision that unites us, that is to share love to people in need. Our three main focuses are prisons, remote regions, and schools.

Bengkayang 10

We thank Yayasan Sahabat Anak Jakarta for partnering with us in opening Rumah Baca (a reading house / a library) in a remote region of West Kalimantan. The goal of this project is to raise awareness from the local society and its children on how important education is. Sahabat Anak has also supported us in sending 80 school bags filled with stationery to the students of one Elementary School in Batu Ajung village, Dayung, Ledo, Bengkayang, West Kalimantan.

The majority of the people there is Dayak Bekatik tribe. They use their mother tongue in their daily activities and Indonesian language in a formal setting of education. There are 7 teachers in that school, including the principal. Each grade has one teacher who teaches all subjects.

Bengkayang 6

Bengkayang 9

To get to the Batu Ajung village is a long trip. From Pontianak (the capital of West Kalimantan) we will need about four hours with a motorcycle or a car to reach Ledo. Then, from Ledo we can reach Batu Ajung either with a motorcycle or a boat through a river. With a motorcycle, it can take up to 30 minutes ride on yellow soils which also hilly and bumpy. If it rains, the access will totally cut. The common access is by boat through the river that will take about 40 minutes. As soon as we arrived there, we will be greeted warmly by the local children. The village has neither electricity nor cellular signal.

We used a car from Pontianak

We used a car from Pontianak

We used this boat to carry the bags to the village

We used this boat to carry the bags to the village

Bengkayang 8

Most of the locals work as fishermen, rubber farmers, rice farmers, river miners, or laborers at the nearest palm oil plantation. The formal education available in the village is only elementary schools. The junior and senior high schools can only be reached in Ledo which takes about 40 minutes boat ride. Poverty and the challenging access have made the parents and the children (who have taken the elementary level) don’t take formal education seriously.

The village itself is somewhat dirty and filthy. The river which supposedly becomes the source of clean water for the locals has become muddy as the result of gold mining; therefore the water is not drinkable. The villagers usually use the water from the spring or the rain for their daily needs. Their animals’ faeces can also be found all over the village which make it even dirtier. This condition has also made many of the children there have health issues. There are even children who can wear the same shirts for days.

Bengkayang1

The children were lining up to get the bags

The children were lining up to get the bags

Being moved by the condition, the Love Borneo team has decided to help the villagers understand on how important to set their eyes on a better live and brighter future. We are committed to go to the village once a month (on the last weekend each month). Our team usually depart from Pontianak at 5 a.m. and continue with a boat at 10:30. During our time in the village, we give free Math and English lessons for students’ grade 3 to 6. For students’ grade 1 to 2, we teach them reading and basic counting. Some of our team members are professional nurses, and they are also willing to give a free health medication to the villagers. We stay overnight at the village and go back to Pontianak the next day because we have to work on Monday.

Group Picture

Group Picture

The children went home happy with their new bags

The children went home happy with their new bags

Batu Ajung village is only one of the many remote locations in West Kalimantan that need serious caring touch for the sake of their future. If we go through the river alongside Batu Ajung, there are still three farther villages with the same or even worse condition.

We thank Sahabat Anak for partnering with us. The children there are very happy. The support given can help them to be more excited to study and go to school. We also send our regards to the whole team of Sahabat Anak in Jakarta. We look forward to your visit here.

Love Borneo Team

Cerita dari BATU AJUNG, Kalimantan Barat

Kami memberi nama komunitas kami: Love Borneo. Sekumpulan anak muda yang bertumbuh secara organik, tidak memiliki ketua atau kepengurusan, tetapi memiliki satu visi yang menyatukan, yaitu berbagi cinta kepada orang-orang yang membutuhkan. Tiga objek fokus pelayanan kami adalah penjara, pedalaman, dan sekolah.

Bengkayang 10

Love Borneo berterima kasih kepada Yayasan Sahabat Anak Jakarta yang sudah mau bermitra dalam salah satu kegiatan membuka Rumah Baca di pedalaman Kalimantan Barat. Tujuan dari pengadaan Rumah Baca tersebut adalah untuk meningkatkan kesadaran anak-anak dan masyarakat dusun akan pentingnya pendidikan bagi anak-anak di pedalaman. Sahabat Anak telah mendukung kami menyalurkan 80 tas sekolah lengkap dengan peralatan menulis kepada murid-murid Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Batu Ajung, Desa Dayung, Kecamatan Ledo, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

Bengkayang1

Bengkayang2

Mayoritas masyarakat di sana adalah suku Dayak Bekatik. Mereka menggunakan bahasa asli mereka dalam berkomunikasi sehari-hari dan bahasa Indonesia dalam proses belajar mengajar. Jumlah guru di SD tersebut ada 7 orang (4 guru tetap dan 3 guru honorer), termasuk Kepala Sekolah. Setiap kelas memiliki 1 guru sebagai wali kelas dan mengajar semua mata pelajaran untuk kelas tersebut.

Bengkayang 6

Akses untuk sampai ke Dusun Batu Ajung cukup panjang. Dari Pontianak sampai ke Kecamatan Ledo dapat ditempuh sekitar 4 jam dengan menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat. Kemudian dari Kecamatan Ledo ke Dusun Batu Ajung bisa diakses melalui dua pilihan jalur, darat atau air. Jika melalui darat, kita hanya bisa melakukan perjalanan selama lebih kurang 30 menit dengan roda dua, karena akses jalan yang merupakan kebun sawit yang berbukit-bukit, bertanah kuning dan tidak beraspal. Apabila turun hujan, akses jalan akan benar-benar terputus. Akses lain adalah melalui air (sungai) dengan menggunakan long boat bermesin selam dengan waktu tempuh sekitar 40 menit. Sesampainya di sana, kita akan disambut hangat oleh anak-anak. Kampung tersebut belum memiliki aliran listrik negara dan belum tersedia jaringan (sinyal) telepon selular.

Paket tas dimuat di mobil terlebih dahulu

Paket tas dimuat di mobil terlebih dahulu

Paket Tas Untuk Sahabat yang dibawa dengan perahu sampan

Paket Tas Untuk Sahabat yang dibawa dengan perahu sampan

Paket Tas Untuk Sahabat dibawa dengan perahu sampan

Paket Tas Untuk Sahabat dibawa dengan perahu sampan

Mata pencaharian masyarakat di sana cukup beragam. Ada yang bekerja sebagai nelayan, penyadap pohon karet, peladang/petani, pekerja pendulang emas di sungai, atau buruh di pabrik sawit. Pendidikan formal yang tersedia di sana hanya Sekolah Dasar. Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Menengah Atas (SMA) hanya ada di Kecamatan Ledo yang membutuhkan waktu sekitar 40 menit menggunakan perahu sampan. Kondisi perekonomian yang sulit dan akses sekolah yang susah membuat anak-anak yang sudah lulus SD dan masyarakat di sana pun tidak menganggap penting pendidikan.

Bengkayang 11

Kondisi dusun itu juga sangat kotor dan kumuh. Sungai yang seharusnya bisa menjadi penyedia air bersih sudah tercemari oleh pendulangan emas, hingga berwarna coklat keruh dan tidak bisa diolah lagi menjadi air minum. Masyarakat di sana menggunakan air hujan dan mata air untuk keperluan sehari-hari. Hewan-hewan peliharaan yang berkeliaran dengan kotorannya di mana-mana juga semakin menambah kotornya dusun tersebut. Kondisi demikian juga menyebabkan banyak anak-anak memiliki masalah kesehatan. Bahkan ada anak-anak yang menggunakan pakaian yang sama selama berhari-hari sehingga berwarna hitam dekil. Sungguh kondisi yang miris.

Tergerak akan hal ini, kami dari tim Love Borneo terbeban untuk membantu mereka menumbuhkan rasa peka akan masa depan yang lebih cerah. Kami berkomitmen untuk pergi ke dusun mereka sebulan sekali; di minggu terakhir setiap bulan. Tim kami biasanya berangkat dari Pontianak pukul 5 pagi dan melanjutkan dengan perahu pukul 10:30. Di sana, kami, secara cuma-cuma, memberikan les Matematika dan Bahasa Inggris untuk siswa SD kelas 3 sampai kelas 6. Untuk siswa kelas 1 – 2 kami ajari membaca dan berhitung dasar. Selain itu, anggota tim kami ada juga yang berprofesi sebagai perawat dan bersedia memberikan pelayanan pengobatan gratis bagi warga dusun dari siang sampai sore. Esok siangnya kami sudah harus pulang kembali ke Pontianak karena di hari Senin kami harus kembali beraktifitas dan bekerja.

Bengkayang 7

Dusun Batu Ajung adalah satu dari banyak lokasi pedalaman yang membutuhkan sentuhan orang-orang yang peduli akan masa depan penduduk di sana. Hidup mereka berhak akan cita-cita yang lebih cerah. Dusun Batu Ajung hanya sebagian kecil dari potret pedalaman Kalimantan Barat yang kekurangan. Jika kita masih terus menyusuri sungai di tepian Dusun Batu Ajung, masih ada tiga dusun lagi yang lokasinya lebih dalam dan kondisinya sama, bahkan lebih memprihatinkan.

Kami mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Sahabat Anak Jakarta yang bersedia bermitra dengan kami. Anak-anak di sana sangat senang. Bantuan yang diberikan bisa meningkatkan semangat mereka untuk rajin belajar dan bersekolah. Salam sukses selalu dari kami masyarakat Kalimantan Barat kepada seluruh tim Yayasan Sahabat Anak Jakarta. Kami nantikan teman-teman Sahabat Anak bisa berkesempatan datang ke tempat kami.

Tim Love Borneo

Love, Dreams and Struggles

Those are the 3 most important lessons I have learned from the volunteers, but most of all, the kids at Sahabat Anak Grogol in the past 5 years.

Group picture with Sahabat Anak Grogol

Group picture with Sahabat Anak Grogol

Their limitations do not stop them from dreaming.
Their limitations do not stop them from trying to build a better life for themselves and their families.
These limitations are simply obstacles in their path and can be overcome.

Of course there are times when these kids fall into despair, but the volunteers at SA Grogol are always there to hear their problems, to support them and help them strive. To show them love.

We live in an evermore self-centered and individualistic world. Having the opportunity to know these kids’ realities and being able to help at SA Grogol has been for me like a breath of fresh air, it has opened my eyes, heart and mind.

I began my involvement with SA Grogol by teaching English and Maths to the kids there, and I am also involved in the Committee of SA Jamboree. My efforts and time seem infinitely small when compared to what I get in return from these kids and to what I have learned from them.

With the kids at the 19th Sahabat Anak Jamboree

With the kids at the 19th Sahabat Anak Jamboree

In my profession as a model, I sometimes complain because of the long working hours, feeling tired and exhausted after a long day of work. A sudden panic attack because of a difficult stage or painful shoes. Then I remember. I remember how strong these kids are; their lives are truly complicated, filled with daily challenges regarding things most of us take for granted. Their spirits grow stronger and stronger, and that makes me stronger. It motivates me to push myself.

Playing together with the kids at Sahabat Anak Jamboree

Playing together with the kids at Sahabat Anak Jamboree

But the biggest motivation of all, the greatest satisfaction, is when I see these kids reach their goals. Bunga is now an economics graduate. Basiroh and Eka are now attending university and working to maintain themselves and helping their families throughout their studies. Muji has reached his dream of being involved in the cosmetics industry and is at the same time teaching dance to younger kids. There are others who are walking the path towards reaching their dreams and goals. These kids have managed to step out of their path and make their own. Some may say they were destined to be borned as street kids, but they changed that destiny and made their own life.

As Lina Tjindra said, “Though there are some who stop in the middle of their journey, the success of 1 or 2 kids in reaching out their dreams makes it all worth it”.

We are not able to help everyone, but we can begin by holding 1 small hand, walking together towards that dream, and together help in shaping a better nation. Because at the end of the day, it is all from us, by us, and for us. Let’s help them, let’s help ourselves, let’s help the future generation, by doing something simple. Something we all can do.

Enjoying fun moments with the kids at Sahabat Anak Jamboree

Enjoying fun moments with the kids at Sahabat Anak Jamboree

I am Laura Muljadi and this is my story.
Now is your turn to write yours.

Kasih, Mimpi dan Perjuangan

Tiga hal tersebut adalah yang saya pelajari dari adik-adik dan kakak-kakak sukarelawan di Sahabat Anak (SA) Grogol selama hampir 5 tahun ini. Keterbatasan mereka tidak menjadi penghalang untuk bermimpi, berusaha dan membangun jalan hidup yang lebih baik untuk diri mereka dan keluarga mereka. Memang ada kalanya mereka jatuh dalam keputusasaan, tapi kakak-kakak sukarelawan di SA Grogol selalu ada untuk mendengar keluh kesah mereka, menyemangati mereka untuk terus berjuang, dan memberi kasih untuk mereka.

Bersama Sahabat Anak Grogol

Bersama Sahabat Anak Grogol

Hidup dalam dunia yang mengarah pada individualisme dan berpusat pada diri sendiri, mendapat kesempatan untuk mengenal dan membantu di SA Grogol adalah nafas baru bagi saya yang akhirnya membuka mata, hati dan pikiran saya. Saya sempat mengajar Bahasa Inggris dan Matematika di SA Grogol dan terlibat dalam kepanitiaan untuk Jambore SA. Hal yang sangat kecil jika dibandingkan dengan apa yang saya pelajari dari mereka.

Contoh nyata dalam keseharian saya sebagai seorang model adalah kadang kala saya mengeluh karena lelah atau waktu menunggu yang lama, atau panik karena medan yang sulit atau sepatu yang sulit, tapi mengingat betapa kuat adik-adik melewati rintangan setiap hari dan semangat mereka untuk maju, itu menguatkan saya, dan memotivasi saya.

Berfoto bersama adik-adik di Jambore Sahabat Anak XIX

Berfoto bersama adik-adik di Jambore Sahabat Anak XIX

Serunya bermain bersama dalam Jambore Sahabat Anak

Serunya bermain bersama dalam Jambore Sahabat Anak

Tapi di atas semua itu, kepuasaan sejati adalah melihat adik-adik yang berhasil meraih mimpi mereka. Bunga yang telah menjadi Sarjana Ekonomi, Basiroh dan Eka yang duduk di bangku kuliah sambil berkerja membiayai diri mereka dan membantu keluarga, Muji yang bergelut di dunia make-up sambil mengajar tari, dan adik-adik lain yang sedang melangkah menggapai mimpi mereka dan keluar dari apa yang banyak orang sebut sebagai “nasib” terlahir sebagai anak jalanan.

Mengutip Kak Lina Tjindra, “Walau pasti ada yang berhenti di tengah jalan, tapi keberhasilan 1 atau 2 adik dalam menggapai mimpi membuat segala usaha berarti.”

Keceriaan berbagi bersama adik di Jambore Sahabat Anak

Keceriaan berbagi bersama adik di Jambore Sahabat Anak

Kita tidak mampu untuk membantu semua orang, tapi kita bisa memulai dengan menggenggam 1 tangan kecil, berjalan bersama meraih mimpi dan membentuk bangsa yang lebih baik. Karena pada akhirnya ini semua adalah dari kita, oleh kita dan untuk kita. Mari membantu mereka dan membantu diri kita sendiri dan generasi mendatang dengan memulai dari sesuatu yang sederhana yang bisa kita berikan.

Saya Laura Muljadi dan ini adalah kisah saya. Mulailah menulis kisah Anda.

%d blogger menyukai ini: