Monthly Archives: Februari 2017

4B: Bergizi, Beragam, Berimbang, Bersih

Syukur kepada Tuhan YME yang selalu hadir menyertai, mencukupkan, dan memampukan setiap detil perjalanan kampanye Hari Sahabat Anak (HSA) sepanjang tahun 2016. Tema mengenai gizi sendiri awalnya terasa sebagai ‘makanan asing’ yang perlu kami promosikan kepada masyarakat, anak-anak dan orangtua di Indonesia, khususnya yang berlatar-belakang sosial ekonomi menengah ke bawah atau marginal. Mengapa asing? Hal ini dikarenakan panitia inti yang terbentuk di awal tidak memiliki pengalaman dan bahkan tidak punya pengetahuan yang memadai tentang gizi. Namun melihat fenomena yang terjadi di masyarakat, rasanya pesan ini penting untuk dikemas menjadi sesuatu yang enak dan mudah dicerna bagi yang menerimanya.

Bergizi. Proses kampanye ini dari awal persiapan hingga akhir bisa dikatakan adalah sebuah menu makanan yang bergizi. Bergizi salah satu indikasinya adalah makanan yang dimakan membuat tubuh fit dan dapat beraktivitas dengan optimal. Awalnya sempat ragu dengan target yang ditetapkan tapi ternyata setiap ‘suapan’ atau proses yang dilakukan tidak membuat orang-orang yang mengerjakannya jatuh sakit dan bahkan sebaliknya, bisa tetap memiliki tenaga dan ide-ide serta semangat hingga akhir.

Beragam. Keberlangsungan program ini benar-benar berkat campur tangan berbagai pihak dengan latar belakang yang beragam. Di internal kepanitiaan sendiri, keterbatasan yang awalnya dirasakan karena minimnya wawasan tentang gizi kemudian terisi oleh teman-teman pakar gizi dan kesehatan yang secara sukarela membagikan ilmunya dan menyusun materi kampanye. Pun pihak yang mendukung program ini bervariasi, mulai dari perusahaan, komunitas, sekelompok teman bermain, keluarga, hingga individu turut serta ambil bagiannya masing-masing sesuai kapasitasnya. Tentunya citarasa paling kuat dan menjadi tidak bosan untuk dinikmati adalah karena kerjasama yang diberikan terutama oleh kakak-kakak pengurus dan juga teman-teman panitia HSA 2016.

Berimbang. Bersyukur sekali karena kerinduan untuk menyebarkan pesan ini tidak hanya dirasakan oleh komunitas binaan SA atau mitra-mitra di Jabodetabek melainkan dapat disebarkan dan dinikmati juga oleh anak-anak dan masyarakat di 31 area di Indonesia, mulai dari Sumatera Utara, Palangkaraya, Jawa, Sumbawa, hingga ke Papua. Meski sudah memiliki materi pokok, tetapi bentuk kegiatan dan materi yang disampaikan sedapat mungkin porsinya disesuaikan dengan karakteristik area yang didatangi agar benar-benar tepat sasaran.

Bersih. Tulisan yang dibuat dalam laporan ini adalah bentuk pertanggung-jawaban kami kepada Yayasan Sahabat Anak, masyarakat, serta pihak-pihak yang selama setahun kemarin telah bersama-sama mengupayakan pemenuhan hak anak untuk mendapatkan makanan yang sehat dan bergizi. Ada beberapa area yang memang tidak sempat didokumentasikan ke dalam bentuk tulisan tetapi semoga hal-hal yang disampaikan dalam laporan ini memberikan gambaran yang jelas tentang apa yang sudah dikerjakan lewat program kampanye ini. Kami juga bersyukur karena sekalipun kampanye ini sudah selesai, beberapa area lokal berinisiatif melanjutkan gerakan ini di tempatnya guna memenuhi hak anak untuk mendapatkan makanan yang sehat dan bergizi.

KEPANITIAAN HSA 2016

Pembina                             : Alles Saragi

Steering Committee       :

–        Dian Novita

–        Simbur Hasibuan

–        Hanna Tresya

–        Frisca Hutagalung

–        Theresia Tobing

–        Francisca Tuning

Koordinator                        : Saskia Rosita Indasari

Wakil koord. Sekretaris  : Fadhillah Falaah

Bendahara                            : Mery (Staf Keuangan SA)

Humas                                   : Ari Muci dan Sri Haryati (Staf Humas SA)

Publikasi                               : Vidia Paramitha

Acara                                      : Indriyaningsih, Nurayu

Tim Materi                            :

–        M. Renandra Ichansyah

–        Yunita

–        Imelda C Purba

–        Sari

–        Ezria Adyas

–        Sandra

panitia

Enter a caption

“There’s no an instruction manual on how to deal with success, so you just have to rely on having great friends and a good team.”

-Bryan Adams

 

Rangkaian Kegiatan HSA 2016

(Februari 2016 – Januari 2017)

I.  PRA KEGIATAN

roadshow

Setelah tema “Gizi untuk Prestasi” disampaikan kepada panitia yang terbentuk, kami mencoba melakukan Brain Storming mengenai materi gizi apa yang tepat untuk diberikan kepada peserta Hari Sahabat Anak. Setelah berdiskusi cukup panjang selama kurang lebih 2 bulan (Februari – Maret), akhirnya konsep 4B (Bergizi, Berimbang, Beragam, dan Bersih) yang dipilih untuk merepresentasikan kampanye Gizi Untuk Prestasi sepanjang tahun 2016 bagi anak-anak Indonesia, khususnya yang berlatar belakang dari keluarga marginal.

Isi konten dari materi Gizi Untuk Prestasi kemudian disusun oleh satu tim yang beranggotakan teman-teman dengan latar belakang Ilmu Gizi dan Kesehatan Masyarakat, yaitu: M Renandra, Ezria Adyas, Imelda, Sari, dan Yunita. Selain materi, theme song 4B yang dinyanyikan oleh Aditya Aziz dan dibuat oleh Imam Saloso, permainan edukasi berupa kartu-kartu permainan dan ular tangga 4B (terlampir), lalu ada juga booklet untuk dibagikan ke orang tua yang didesain sedemikian menarik untuk mengisi rangkaian kegiatan roadshow.

Pada proses persiapan, panitia juga mengundang 2 orang perwakilan dari setiap area yang sudah dipilih untuk ditawarkan program kampanye “Gizi untuk Pestasi” ini. Sosialisasi pun dilakukan kepada area-area yang diundang dan momen tersebut juga dimanfaatkan untuk memberikan form data karakteristik area yang perlu diisi. Panitia juga mencari informasi ke setiap area yang akan didatangi untuk mendapatkan gambaran isu atau permasalahan sehingga diharapkan materi yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan area tersebut. Seluruh area, baik komunitas binaan Sahabat Anak maupun mitra patut diapresiasi karena sangat kooperatif dalam proses persiapan dan juga pelaksanaan hari H. Sumber daya yang terlibat baik untuk pemandu acara (MC) dan juga fasilitator sedapat mungkin turut melibatkan peran serta volunter area yang bersangkutan.

II.  ROADSHOW

Kegiatan kampanye “Gizi untuk Prestasi” yang menyasar baik anak-anak marginal usia (pra) sekolah hingga remaja dan juga orang tua sebagai peserta telah dilakukan di 31 area di beberapa wilayah di Indonesia seperti di Sumatera Utara (8 area), Jakarta (9 area), Bekasi (3 area), Bogor, Cirebon, Tasikmalaya, Kudus, Yogyakarta (2 area), Malang (2 area), Sumbawa, Palangkaraya, dan Timika Papua.

peta.jpg

Ket: Peta penyebaran roadshow “Gizi untuk Prestasi” di Indonesia sepanjang tahun 2016

Berikut gambaran area yang berpartisipasi dalam program ini beserta gambaran jumlah peserta baik anak-anak orang tua/wali, guru atau pendamping (volunter) yang telah mendapatkan edukasi “Gizi untuk Prestasi”:

untitled

KESIMPULAN

Dengan dilakukannya program kampanye pemenuhan hak anak untuk mendapat makanan yang sehat dan bergizi lewat “Gizi untuk Prestasi’ di sepanjang tahun 2016, edukasi telah dilakukan kepada lebih dari 3.000 anak dan lebih dari 500 orang tua dari masyarakat marginal di beberapa wilayah di Indonesia. Keterlibatan orang tua sebagai peserta dan menerima pemahaman tentang pentingnya makanan bergizi merupakan upaya optimalisasi peran orang tua dalam pemenuhan hak anak. Pelibatan masyarakat luas juga diwujudkan lewat pelibatan komunitas-komunitas lokal dan pendamping lokal untuk menyelenggarakan kampanye “Gizi untuk Prestasi” di areanya masing-masing, pelibatan masyarakat luas dalam mendonasikan kalorinya lewat program Fitbar Donor Kalori dan juga program donasi Rp 50.000 untuk satu set kotak makan dan botol minum, ataupun pelibatan dalam bentuk pikiran dan juga tenaga dengan menjadi fasilitator ketika kegiatan berlangsung.

 panitia2

Ket:  Bersama Kakak-kakak lokal usai Sosialisasi hasil roadshow tahap 1

Panitia HSA 2016 mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada:

Tuhan Yang Maha Esa atas setiap anugerah dan penyertaanNya

Kakak-kakak Pengurus, Pembina, dan Staf operasional SA

PT Sanghiang Perkasa (Kalbe Nutritionals) lewat program Fitbar Donor Kalori

Bain Indonesia, Lions Club, Indokasih.com, KokikuTV

Kakak-kakak lokal: RBS, Sobat Missil3, KDM, SA Manggarai, SA Grogol & Cengkareng, SA Cijantung, Terminal Hujan, Bimbel Jati Asih, Hore, SA Kota Tua, SA Gambir, Gubuk baca Lentera Negeri (GBLN) Malang, Lebah Ceria Community Jogja, Persatuan Bonapasogit, Perkumpulan Batak Kuala Kencana (PBKK), Komunitas Payung Hati Anak Tasikmalaya, KI Babagan Cirebon, Klinik Natalie Palangkaraya, Pengurus Yayasan RA Matholi’Ul Hija Kudus (Kak Ibus dan keluarga), Kak Aditi Sumbawa, Yayasan Al-Kahfi Bekasi, SA Rusunawa Cakung, dan SA Tanah Abang

Tim Kesehatan, Tim Humas Sahabat Anak & Panitia JSA XX

 Teman-teman Ahli Gizi (alumni IPB, UGM) sebagai Tim Materi, pembuat alat peraga, booklet juga sebagai Pemateri (Sari, Yunita, Andra, Imelda, Sandra, Ezria)

Koh Philip Triana & Cik Julie Tane untuk video animasi 4B yang berdetak!

Vina Puspita untuk logo “Gizi untuk Prestasi”

Yunita Kosen untuk design poster, banner, spanduk 4B

Michelle Panggabean untuk desain Ular Tangga 4B

Imam Saloso & Aditya Aziz untuk Lagu 4B

Kak Sam & Kak Disi untuk Tepuk 4b, gerakan lagu 4B dan MC langganan di roadshow

Seluruh kakak-kakak volunter, masyarakat yang sudah berpartisipasi baik langsung maupun tidak langsung lewat dukungan semangat, tenaga, doa, ide, dan juga materil; serta para peserta (kepala sekolah, guru, orang tua, adik-adik) yang bersemangat, mau berbagi, dan sama-sama mau belajar tentang hidup yang lebih sehat.

Terima kasih. Kiranya semua selalu diberkati dan dicukupkan dengan makanan yang bergizi, berimbang, beragam dan bersih setiap hari.

Salam 4B!

Keluargaku selalu mengajarkan 4B

Bergizi, beragam, berimbang, dan juga bersih

Ayo kawan kita terapkan hidup 4B

Agar tubuh kita bersih dan sehat selalu, Hey!

-Kutipan lirik lagu 4B-

 

Demikian report sederhana ini kami buat. Selamat menikmati!

 

 

Salam 4B untuk anak Indonesia yang berprestasi,

Saskia Rosita Indasari

-Koordinator HSA 2016-

Iklan

“My Parents”: Who Are They?

By: Irwanto

Professor of Psychology, Atma Jaya Catholic University of Indonesia, Jakarta; Senior advisor of the Center for HIV-AIDS Research Atma Jaya Catholic University; Co-director, Center on Child Protection, Faculty of Social and Political Sciences, University of Indonesia.

Neither a child nor parent can biologically choose who their predecessor or offspring will be. Such a situation makes us think, on what basis is the relationship of children and parent arranged so that each qualifies as a “child” and as “parent”. Biological relationships are regarded as a major criterion in the relationship between children and parents. Particularly when interpreted that the biological relationship (sexual copulation) is accompanied with the intention or desire to realize human rights an obligation to continue the process of procreation, so that humans as a species do not disappear from the face of the earth.

Nevertheless, the biological relationship between the child and parent becomes problematic if the birth was unplanned or unwanted.  This could be due to the negligence of both partners to manage the pregnancy, or because of the coercion or violence experienced during copulation. Is a man who has raped a woman, automatically the father of a child born out of this kind of horrendous situation? What about the status of women who keep their pregnancy because “they were forced to”, can she be called the mother of her child?  If the relationship between a child and a parent were merely biological, then there would be many children bearing the brunt of forced pregnancies, rapes and children born out of sexual exploitation, were the biological parents did not plan for or want the child.

To be a child’s parent, one must meet several criteria that support the survival and development of the child. Biological relationships do not necessarily guarantee it. In such cases, the criterion is more of a social and moral nature. Being a parent requires a sense of responsibility towards a child and commitment to these responsibilities. That responsibility comes in many forms. Giving love, protection and even sacrifice for a child, ensuring the child obtains the best food, clothing and boarding, ensuring the child can learn formally and informally, making sure the child’s opinion is appreciated and that they are given the opportunity to be independent. The moral basis for such responsibility can be taken from belief systems or religion, which suggests that a child is entrusted from the Almighty Creator, or based on morality that doing good to a fellow human being will create a better world for mankind.

However, not all parents are able to appreciate and implement the commitment of this responsibility consistently. Many parents change in time, due to external or internal factors, and or, personal reasons. This increasingly dynamic world can easily throw a peaceful community into chaos and scatter families overnight. The continuing unstable political-economic environment in Indonesia could trigger interpersonal or communal conflicts with bad consequences for the family unit. Therefore, it would be beneficial that a safety net is in place, a system that is set by the State to mitigate the damaging effects of situations that can strain or even cause family unit to collapse.

In the concept of safety net, the State is then present as “Parent” or Parens Patriae(parents for the country). The term is widely used in English Common Law whose meaning is, “the State acts as the protector and caretaker for citizens who cannot meet their own needs or protect him or herself”. The State is present not only as an institution, but also as an aggregation of embodiment of every citizen’s moral responsibility against another citizen. In Indonesia, this principle is set forth in Article 34 of the 1945 Constitution.

Why must the principle of Parens Patriae be expressed in public discourse? This is because citizens of the state uphold the responsibility to manage their resources fairly and inclusively of all who reside within the state. Living together equally cannot be realized when there are still citizens neglected, marginalized and forgotten, amongst those who live excessive or abundant lives. This fact is used as the basis of Sustainable Development Goals (SDGs). If we want to live together under the same sky, then there should be no human left behind in enjoying the fruits of development. The SDGs, has stated within any of the goals put fourth, not one goal can be achieved if there is one man forgotten. Therefore, in this global agreement the commitment of the government to achieve these goals are strengthened, as well as human rights laws, policies and procedures.

What is the purpose of this article?

To remind every parent that their responsibilities to children are important. But the duties and responsibilities of child protection activists is not only limited to that. We must realize that not all parents can take on responsibilities and commitment for their children. The bigger responsibility is to fight for social justice by ensuring that the State is present as “parents” of children in all regions of this country, indiscriminately. Thus, no child would be left behind in enjoying their rights of life and growth in this beautiful archipelago.

Bintaro, February 12, 2017.
Written for the launch of 2017 Campaign 
“MY FAMILY MY PROTECTOR” by Yayasan Komunitas Sahabat Anak Jakarta  
On Sahabat Anak Day, February 17, 2017

 

Free interpretation ofdefinitionsdownloadedfromLegalInformationInstitute(LII), Cornell University – https://www.law.cornell.edu/wex/parens_patriae

“Orangtuaku”: Siapakah Gerangan?

Oleh: Irwanto
Guru Besar Psikologi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta; Senior advisor Center for HIV-AIDS Research Atma Jaya Catholic University; Co-director, Center on Child Protection, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Indonesia.

Baik anak maupun orangtua secara biologis tidak dapat memilih siapa orangtua atau anak mereka. Situasi yang demikian membuat kita berpikir, atas dasar apa hubungan anak dan orangtua itu diatur sehingga masing-masing lolos kualifikasi sebagai “anak” dan sebagai “orangtua”. Hubungan biologis, dianggap sebagai kriteria utama dalam hubungan antara anak dan orangtuanya. Hal ini terutama ketika dimaknai bahwa hubungan biologis itu (kopulasi seksual) disertai niat atau keinginan untuk mewujudkan hak dan kewajiban manusia untuk melanjutkan proses prokreasi, sehingga manusia sebagai spesies tidak lenyap dari muka bumi.

Meskipun demikian, hubungan antara anakdan orangtua secara biologis menjadi problematik ketika kelahirannya tidak direncanakan atau bahkan tidak diinginkan.  Hal ini terjadi karena kelalaian kedua pasangan untuk menjaga kehamilan atau karena adanya paksaan dan kekerasan dalam hubungan tersebut. Walau secara biologis dia adalah anak dari seorang pemerkosa, apakah dengan serta merta laki-laki yang memberikan spermanya itu disebut sebagai “ayah” atau orangtua anak? Bagaimana dengan status perempuan yang mempertahankan kehamilannya karena “terpaksa”. Dapatkah dia disebut sebagai Ibu dari anaknya?  Kalau hubungan “anak” dan “orangtua” hanya sebatas “biologis”, maka banyak sekali anak-anak yang bernasib malang.

Menjadi orangtua anak harus memenuhi beberapa kriteria yang menunjang kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak. Hubungan biologis tidak serta merta menjamin hal ini. Dalam hal seperti ini, maka kriterianya lebih bersifat sosial dan moral. Menjadi orangtua memerlukan rasa tanggung jawab terhadap pihak yang disebut anak dan komitmen terhadap tanggung jawab tersebut. Tanggung jawab itu banyak wujudnya. Memberikan kasih sayang, melindungi bahkan berkorban untuk anak, memastikan anak untuk memperoleh sandang-pangan-papan terbaik, memastikan anak dapat belajar secara formal maupun informal, memastikan anak dihargai pendapatnya dan diberi kesempatan untuk mandiri, dan lain-lain. Landasan moral bagi tanggung jawab seperti itu dapat dipetik dari kepercayaan atau agama yang menyebutkan anak adalah titipan dari Sang Pencipta yang Maha Kuasa, atau berdasar moralitas berbuat baik bagi sesama orang akan menciptakan dunia yang baik bagi semua orang.

Lagi-lagi tidak semua “orangtua” mampu menghayati dan mengimplementasikan komitmen terhadap tanggung jawab itu secara konsisten. Banyak orangtua yang berubah di tengah jalan, baik karena faktor eksternal, internal keluarga, maupun personal. Dunia yang makin dinamis ini dengan mudah dapat melempar komunitas yang hidup damai sejahtera dalam sekejab menjadi porak-poranda dan mencerai-beraikan keluarga. Kondisi ekonomi-politik di Indonesia yang masih tidak stabil dapat memicu konflik interpersonal atau komunal yang berakibat buruk bagi keluarga. Untuk itulah harus adasemacam safety net. Suatu sistem yang ditata oleh Negara untuk memitigasi dampak terburuk dari situasi-situasi yang dapat mengguncang bahkan meruntuhkan keutuhan keluarga.

Dalam konsep safety net, maka Negara hadir sebagai “Orangtua” atau Parens Patriae (parents for her country). Istilah ini banyak digunakan dalam Common Law di Inggris yang maknanya adalah Negara bertindak sebagai pelindung dan pengasuh warga negaranya yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dan melindungi diri mereka sendiri[1]. Negara bukan saja sebagai institusi, tetapi juga sebagai agregasi perwujudan tanggung jawab moral bagi setiap warganegara terhadap warganegara yang lain. Di Indonesia, prinsip ini dituangkan dalam pasal 34 UUD tahun 1945.

Mengapa prinsip Parens Patriae ini perlu diwujudkan dalam wacana publik? Karena alasan bernegara adalah untuk hidup bersama dalam sebuah wilayah yang sama dengan mengatur sumberdaya yang ada seadil-adilnya dengan mandiri. Hidup bersama itu tidak mungkin terwujud jika ada di antara warga Negara yang terlantar, terpinggirkan, bahkan terlupakan di antara warga Negara lain yang hidup berlebih bahkan berkelimpahan. Kenyataan inilah yang dijadikan dasar dalam Sustainable Development Goals (SDGs).  Jika kita mau hidup bersama di bawah satu atap langit yang sama, maka tidak boleh ada satu manusiapun yang tertinggal dalam menikmati hasil-hasil pembangunan. SDGs menyatakan bahwa dalam setiap tujuan yang hendak dicapai disepakati bahwa jika ada satu manusia yang terlupakan, maka tujuan itu tidak dapat dicapai. Oleh karena itulah, dalam kesepakatan global ini komitmen pemerintah dan penerapan instrumen HAMdiperkuat.

Apa maksud dari tulisan ini?

Mengingatkan setiap orangtua akan tanggung jawab mereka terhadap anak itu penting. Tetapi tugas dan tanggung jawab para aktivis perlindungan anak bukan hanya sebatas itu. Kita harus realistis bahwa tidak semua orangtua sanggup menjalankan tangung jawab dan komitmennya pada anak-anak mereka. Tugas dan tanggung jawab yang lebih besar adalah memperjuangkan keadilan sosial dengan memastikan bahwa Negara hadir sebagai “Orangtua” anak-anak di seluruh wilayah negeri ini tanpa pandang bulu. Dengan demikian, tidak ada seorang anakpun tertinggal dalam menikmati hak-hak hidup dan tumbuh kembangnya di Nusantara yang indah ini.

 

                                                                                                                                                                           Bintaro, 12 Februari 2017
                                                                                                                       Ditulis dalam rangka peluncuran Kampanye Tahun 2017
                                                                                                               “KELUARGAKU PELINDUNGKU” oleh Yayasan Sahabat Anak
                                                                                                                                                  pada Hari Sahabat Anak 17 Februari 2017.
[1] Terjemahan bebas dari definisi yang diunduh dari Legal Information Institute (LII), Cornell University – https://www.law.cornell.edu/wex/parens_patriae
%d blogger menyukai ini: