Author Archives: Sahabat Anak

International Day of Friendship (30th July 2017)

“We’ll be Friends Forever, won’t we, Pooh?” asked Piglet.

“Even longer,” Pooh answered.

― A.A. MilneWinnie-the-Pooh

In honor of Friendship Day in 1998, Nane Annan wife of UN Secretary-General  Kofi Annan, named Winnie the Pooh as the world’s Ambassador of Friendship at the United Nations. In 2011 the United Nations declared July 30th to be the International Day of Friendship, which signifies the unification of all people regardless of gender, race, religion, political views or geological positioning. Friendship between peoples, countries and cultures can inspire peace efforts and build bridges between communities.

As adults we all remember our first childhood friend. The one we woke up excited to see inside the school gates. Play dates filled with adventure, confidences and laughter.  As it remains, our friends are a hugely important part of our lives, from sharing problems, asking for advice, uncontrollable laughter and good times, sharing our life events and proudest moments, our friends help each of us define who we are.

For children, making friends is a vital part of growing up and an essential part of their social and emotional development. Attributes such as social competence, altruism, self-esteem and self-confidence have all been found to be positively correlated to having friends. Studies have found that friendships enable children to learn more about themselves and develop their own identity. And, as children mature, friends are able to help reduce stress and navigate challenging developmental experiences, especially during teenage years.

Today, our world faces many challenges, crises and forces of division, such as poverty, violence and human rights abuses, among many others. These undermine peace, security, development and social harmony among the world’s peoples.

To confront those crises and challenges, their root causes must be addressed by promoting and defending a shared spirit of human solidarity that takes many forms; the simplest of which is friendship.

Through friendship, by accumulating binds of camaraderie and developing strong ties of trust, we can contribute to the fundamental shifts that are urgently needed to achieve lasting stability, weave a safety net that will protect us all, and generate passion for a better world where all are united for the greater good.

Young people, as our future leaders, have the opportunity be actively involved in creating a more inclusive, understanding and respectful societies by championing diversity and by welcoming friends from all walks of life into their lives and inviting diversity into their communities, cities and countries.

-Keshia Peters-

Hari Sahabat Anak (23 Juli 2017)

Di Indonesia, Hari Anak Nasional sudah ditetapkan dan diperingati oleh pemerintah sejak tahun 1984. Pemerintah sudah mempeberikan perhatian pada masalah anak-anak dari 33 tahun yang lalu. Bahkan, untuk memberikan perlindungan pada anak-anak Indonesia, dibentuklah lembaga perlindungan anak independen, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Tidak cukup dengan itu, di era pemerintahan Presiden Joko Widodo, dibentuklah kementrian khusus yang bertanggung jawab terhadap permasalahan anak, Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Tapi, apakah dengan kehadiran dua lembaga tersebut permasalahan yang terjadi pada anak-anak Indonesia sudah selesai? Jawabannya jelas tidak.

Masalah tidak meratanya akses pada pendidikan, eksploitasi tenaga anak di bawah umur, pencabulan, dan tindak kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh anak-anak sendiri maupun orangtua masih saja terus terjadi.

Yang terbaru, yang mengusik rasa keprihatinan adalah kasus kekerasan yang melibatkan anak seusia SD dan SMP, yang terjadi di kawasan Thamrin City, Jakarta. Terhadap kasus itu, masyarakat masih dengan gampangnya menyebarkan video kekerasan tersebut lewat media social sehingga menjadi viral. Itu membuktikan, bahwa pemahaman masyarakat bagaimana seharusnya bersikap terhadap permasalahan perlindungan anak masih banyak yang kurang bijak.

Semangat partisipasif, kebersamaan dari semua elemen masyarakat inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Komunitas Sahabat Anak. Komunitas yang mempersatukan relawan-relawan dari beragam umur, dengan latar belakang yang juga beragam, untuk bergerak bersama-sama melakukan tindakan nyata dengan melakukan pendampingan, perlindungan, dan pendidikan yang layak bagi anak-anak jalanan dan kurang mampu di wilayah Jakarta. Sekali lagi, perlindungan tehadap anak-anak tidak bisa hanya dibebankan kepada satu orang atau lembaga tertentu saja. Permasalahan anak-anak mestinya menjadi tanggung jawab kita bersama.

Pertanyaannya, apa yang dilakukan oleh Sahabat Anak untuk anak-anak Indonesia?

Selain menjalankan Bimbingan Belajar (Bimbel) di enam area di Jakarta dan satu Pusat Kegiatan Anak, yang melibatkan lebih dari 600 adik binaan, Sahabat Anak juga rutin mengadakan Jambore Sahabat Anak secara rutin setiap tahun.

Sejak pertama kali menyelenggarakan Jambore Anak Jalanan di tahun 1997, yang menjadi embrio lahirnya Komunitas Sahabat Anak, setiap bulan Juli Sahabat anak terus menggelar acara ini dengan tujuan merayakan Hari Anak Nasional dan mempertemukan anak-anak jalanan, anak-anak marjinal dengan orang-orang yang peduli dengan mereka.

Di tahun 2017 ini, setelah 20 tahun, Sahabat Anak pun kembali menghadirkan Jambore Sahabat Anak yang jatuh tepat pada Hari Anak Nasional, 23 Juli 2017. Kalau di jambore pertama di tahun 1997 hanya melibatkan 200 anak, di Jambore Sahabat Anak XXI ini melibatkan 800 anak-anak di wilayah Jabodetabek dan 400 kakak pendamping dari berbagai daerah yang akan berkumpul bersama di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta, mulai dari 22 Juli 2017. Tema yang diusung untuk tahun ini mengangkat isu salah satu hak anak untuk mendapatkan perlindungan, “Keluargaku Pelindungku”.

Berbagai aktivitas seru akan dilakukan dan dirasakan oleh adik bersama kakak pendamping di Jambore Sahabat Anak XXI yang berlangsung selama dua hari penuh tersebut. Mulai dari bermain bersama, hingga memberikan ruang bagi anak-anak tersebut untuk unjuk kemampuan di panggung yang menjadikan mereka sebagai tokoh utamanya. Jambore ini, akan menjadi momen yang tak akan mereka lupa.

Bagi para sahabat yang ingin berpartisipasi lebih lanjut dalam Jambore Sahabat Anak  dapat mendukung dengan cara menjadi sahabat donatur untuk membantu pemenuhan kebutuhan dana dan pengadaan sarana/prasarana kegiatan Jambore Sahabat Anak XXI. Untuk keterangan lebih lanjut silakan hubungi:

Aty
Sekretariat Sahabat Anak
Telp: 021-3918505
Email: info@sahabatanak.com

Sampai jumpa di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta, untuk merayakan Hari Anak Nasional 2017 bersama Jambore Sahabat Anak XXI!

-Gracia M. B. & Sri Sadono-

Hari Tanpa Tembakau Sedunia (31 Mei 2017)

No Tobacco Day 1

Asbak rokok dengan bunga segar menjadi simbol umum untuk Hari Tanpa Tembakau Sedunia

 

Hari Tanpa Tembakau Sedunia diperingati setiap tahunnya pada tanggal 31 Mei sejak tahun 1987. Tujuannya adalah untuk mendorong berpantang segala bentuk konsumsi tembakau dalam kurun 24 jam di seluruh penjuru dunia. Hari itu juga ditujukan untuk menarik perhatian terhadap menyebarnya penggunaan tembakau dan efek negatifnya. Merokok mengakibatkan kematian hingga 6 juta jiwa per tahunnya, termasuk di dalamnya 600,000 jiwa perokok pasif akibat turut menghirup asap rokok dan bahan-bahan kimia di dalamnya.

Untuk tahun ini, tema Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah “Tembakau – Ancaman terhadap Pertumbuhan”. Salah satu hal yang ingin diangkat oleh tema ini adalah menunjukkan adanya ancaman oleh industri tembakau terhadap perkembangan negara, termasuk kesehatan dan kesejahteraan ekonomi warga negaranya. Dalam hal ini kami tertarik melihatnya dalam sudut pandang kepentingan anak.

Dalam sebuah keluarga yang anggota dewasanya merokok, setidaknya sang anak terancam dalam tiga hal. Yang pertama, dia menjadi perokok pasif sejak dini. Jika sang ayah/ibu merokok di luar rumah pun, asap rokok, bahan kimia, dan tar nikotin yang menempel pada baju dan barang-barang yang dipakai tetap menjadi ancaman kesehatan dan pertumbuhan bagi anak. Kedua, orang tua yang merokok menjadi teladan buruk bagi sang anak hingga dia cenderung akan menjadi perokok aktif nantinya. Ketiga, uang yang seharusnya bisa dipergunakan untuk kepentingan rumah tangga dan anak menjadi potensi yang terbuang demi rokok.

Sesuai dengan tema Sahabat Anak tahun ini, “Keluargaku Pelindungku”, kami ingin kembali mengajak Sahabat menjadi pelindung bagi anak-anak. Jika sahabat seorang perokok aktif, mari coba berpantang rokok seharian sambil mempertimbangkan bahayanya bagi anak di sekitar Anda. Jika Sahabat bukan perokok, mari terus mempertahankannya, dan tolong terus bagikan kepada orang lain bahayanya bagi anak.

No Tobacco Day 2

-Gracia M.B.-

Hari Bawa Bekal Nasional (12 April 2017)

Hari ini tgl 12 April 2017 serentak Indonesia merayakan Hari Bawa Bekal Nasional. Hari Nasional yang dideklarasikan sejak tanggal 12 April 2013 ini meski belum terlalu populer di kalangan masyarakat Indonesia, tapi sesungguhnya mendapat sambutan yang sangat positif di berbagai kalangan.

Pencanangan Hari Bawa Bekal Nasional sendiri sebenarnya merupakan himbauan dan ajakan untuk hidup sehat dalam keluarga. Salah satu caranya adalah dengan rajin membawa bekal makanan sendiri dari rumah. Makanan yang kita siapkan sendiri dari rumah jelas lebih terjamin higienitas dan nutrisinya serta bonus tambahan saat kita membawa bekal sendiri adalah kita bisa menjadi lebih hemat. Hemat karena biaya membuat makanan sendiri bisa lebih murah daripada jajan di luar rumah.

Kebiasaan Bawa Bekal sesungguhnya sejalan dengan Kampanye Sahabat Anak tahun ini yaitu “Keluargaku Pelindungku”. Dengan membawa bekal dari rumah berarti Orangtua melakukan aksi nyata untuk melindungi sang buah hati. Menurut penelitian yang pernah dilakukan, ditemukan 59-70% jajanan di lingkungan sekolah tidak higienis dan mengandung zat berbahaya bagi tubuh. Bekal yang dibawa dari rumah tentu memiliki higienitas yang lebih baik. Bahan-bahan makanan yang disiapkan pasti juga sudah terpilih nutrisinya dan tentunya lepas dari bahan pengawet, atau pewarna makanan yang berbahaya.

Mari jadikan Hari Bawa Bekal Nasional ini sebagai gerakan nyata dengan selalu meluangkan waktu menyiapkan bekal bagi sang buah hati. Dengan demikian para orangtua telah berperan aktif melakukan tindakan perlindungan anak karena memang sepatutnya Keluargaku Pelindungku. Selamat Hari Bawa Bekal Nasional

 ♣ Dina Karolina ♣

Hari Buku Anak Sedunia

Di tanggal 2 April lalu kita memperingati hari yang dekat di hati bagi pemerhati anak sekaligus pencinta buku. Tanggal tersebut dipilih untuk menghargai hari lahirnya Hans Christian Andersen, sastrawan Denmark yang terkenal dengan dongeng-dongengnya seperti Putri Duyung, Itik Buruk Rupa dan Serdadu Timah yang terkenal di berbagai penjuru dunia. Selain buku karangannya, apakah sahabat punya buku anak yang dulu sangat berkesan hingga sekarang ingin dibagikan ceritanya kepada anak-anak yang sahabat kenal?

Saya masih ingat buku pertama yang dihadiahkan ibu saya, karangan Annie M.G. Schmidt berjudul Jip en Janneke, atau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia Tono dan Tini. Ceritanya tentang dua orang anak laki-laki dan perempuan yang bersahabat dan bertualang bersama di sekitar rumah mereka. Kumpulan ceritanya lucu dan menarik, serta bahasanya sangat sederhana sehingga anak kelas 1 SD pun bisa menikmatinya, baik dibacakan orang tua maupun dibaca sendiri.

Keponakan saya sendiri suka buku ensiklopedia anak yang penuh gambar. Agak di luar perkiraan saya sebenarnya, karena saya kira yang dia suka justru cerita dongeng. 🙂 Ternyata alasannya adalah karena ada bagian di buku itu yang menjelaskan tentang ambulans dan suster, yang untuk saat ini adalah cita-citanya ketika besar nanti.

Selagi anak belajar membaca, buku juga membantu mereka berimajinasi, serta membuka wawasan mereka akan hal-hal di luar lingkup diri mereka sendiri, keluarga dan sekolah. Buku anak yang baik juga dapat memupuk kecintaan membaca anak hingga nanti, dan dibantu dengan diskusi bersama orang dewasa dapat menumbuhkan empati dan pikiran yang kritis.

Jadi, buku anak apa yang ingin sahabat rekomendasikan kepada anak-anak di sekitar kita? Silahkan bagikan di komen di bawah. Jangan lupa, luangkan waktu sahabat di hari ini untuk membaca buku bersama mereka. 🙂

 

-Gracia M. B.-

International Women’s Day

International Women’s Day is celebrated in many countries around the world. It is a day when women are recognized for their achievements without regard to divisions, whether national, ethnic, linguistic, cultural, economic or political. International Women’s Day first emerged from the activities of labour movements at the turn of the twentieth century in North America and across Europe. A time of great expansion and turbulence in the industrialized world that saw booming population growth and the rise of radical ideologies.

The early 1900s were a time of great turmoil for everyone, especially women. With massive changes in industry, economy and policy, women around the world seized the opportunity to rally for their rights in pursuit of a better, equitable and just future.

International Women’s Day was marked for the first time on March 19th 1911, to honour the movement for women’s rights and to build support for achieving universal suffrage for women. In addition to the right to vote and to hold public office, they demanded women’s rights to work, to vocational training and to put an end to workplace discrimination. More then 1 million women and men attended rallies across, Austria, Denmark, Germany and Switzerland.

Since those early years, International Women’s Day has assumed a new global dimension for women in developed and developing countries alike. The growing international women’s movement, which has been strengthened by four global United Nations women’s conferences, has helped make the commemoration a rallying point to build support for women’s rights and participation in the political and economic arenas.

This year in commemoration of International Women’s Day, Australian Volunteers International (AVI) alongside Komnas Perempuan will host a public discussion that will focus on the issue of public involvement and support for the elimination of sexual violence.

Violence against women is a serious problem in Indonesia and unfortunately it is on the rise. Komnas Perempuan noted that in 2015, 321,752 cases of violence against women were recorded across the country. Sexual violence is a major issue in Indonesia, with studies showing that on average, each day 35 women fall the victim of this kind of abuse. There is not doubt that serious change is needed to address the issue. We believe change must come from both law makers, and enforcers of the nation as well as civil society itself.

International Women’s Day serves as the perfect opportunity to reaffirm and increase commitment to eliminating sexual violence and gender based violence from the local and international community.

As celebrations and numerous events are held simultaneously across the globe, we recognise how many battles have been won in the fight for women’s rights and justice globally, however, we also recognise that we must continue our fight and campaign against intolerance, segregation, oppression and inequality.

In the wise words of Gloria Steinhem, “The story of women’s struggle for equality belongs to no single feminist nor to any one organization but to the collective efforts of all who care about human rights.”

As modern day Suffragettes both female and male let us continue the work and spirit of the almighty Suffragettes, fighting the good fight. And let us recognize, honour and celebrate the important and impressive achievements of women globally.

4B: Bergizi, Beragam, Berimbang, Bersih

Syukur kepada Tuhan YME yang selalu hadir menyertai, mencukupkan, dan memampukan setiap detil perjalanan kampanye Hari Sahabat Anak (HSA) sepanjang tahun 2016. Tema mengenai gizi sendiri awalnya terasa sebagai ‘makanan asing’ yang perlu kami promosikan kepada masyarakat, anak-anak dan orangtua di Indonesia, khususnya yang berlatar-belakang sosial ekonomi menengah ke bawah atau marginal. Mengapa asing? Hal ini dikarenakan panitia inti yang terbentuk di awal tidak memiliki pengalaman dan bahkan tidak punya pengetahuan yang memadai tentang gizi. Namun melihat fenomena yang terjadi di masyarakat, rasanya pesan ini penting untuk dikemas menjadi sesuatu yang enak dan mudah dicerna bagi yang menerimanya.

Bergizi. Proses kampanye ini dari awal persiapan hingga akhir bisa dikatakan adalah sebuah menu makanan yang bergizi. Bergizi salah satu indikasinya adalah makanan yang dimakan membuat tubuh fit dan dapat beraktivitas dengan optimal. Awalnya sempat ragu dengan target yang ditetapkan tapi ternyata setiap ‘suapan’ atau proses yang dilakukan tidak membuat orang-orang yang mengerjakannya jatuh sakit dan bahkan sebaliknya, bisa tetap memiliki tenaga dan ide-ide serta semangat hingga akhir.

Beragam. Keberlangsungan program ini benar-benar berkat campur tangan berbagai pihak dengan latar belakang yang beragam. Di internal kepanitiaan sendiri, keterbatasan yang awalnya dirasakan karena minimnya wawasan tentang gizi kemudian terisi oleh teman-teman pakar gizi dan kesehatan yang secara sukarela membagikan ilmunya dan menyusun materi kampanye. Pun pihak yang mendukung program ini bervariasi, mulai dari perusahaan, komunitas, sekelompok teman bermain, keluarga, hingga individu turut serta ambil bagiannya masing-masing sesuai kapasitasnya. Tentunya citarasa paling kuat dan menjadi tidak bosan untuk dinikmati adalah karena kerjasama yang diberikan terutama oleh kakak-kakak pengurus dan juga teman-teman panitia HSA 2016.

Berimbang. Bersyukur sekali karena kerinduan untuk menyebarkan pesan ini tidak hanya dirasakan oleh komunitas binaan SA atau mitra-mitra di Jabodetabek melainkan dapat disebarkan dan dinikmati juga oleh anak-anak dan masyarakat di 31 area di Indonesia, mulai dari Sumatera Utara, Palangkaraya, Jawa, Sumbawa, hingga ke Papua. Meski sudah memiliki materi pokok, tetapi bentuk kegiatan dan materi yang disampaikan sedapat mungkin porsinya disesuaikan dengan karakteristik area yang didatangi agar benar-benar tepat sasaran.

Bersih. Tulisan yang dibuat dalam laporan ini adalah bentuk pertanggung-jawaban kami kepada Yayasan Sahabat Anak, masyarakat, serta pihak-pihak yang selama setahun kemarin telah bersama-sama mengupayakan pemenuhan hak anak untuk mendapatkan makanan yang sehat dan bergizi. Ada beberapa area yang memang tidak sempat didokumentasikan ke dalam bentuk tulisan tetapi semoga hal-hal yang disampaikan dalam laporan ini memberikan gambaran yang jelas tentang apa yang sudah dikerjakan lewat program kampanye ini. Kami juga bersyukur karena sekalipun kampanye ini sudah selesai, beberapa area lokal berinisiatif melanjutkan gerakan ini di tempatnya guna memenuhi hak anak untuk mendapatkan makanan yang sehat dan bergizi.

KEPANITIAAN HSA 2016

Pembina                             : Alles Saragi

Steering Committee       :

–        Dian Novita

–        Simbur Hasibuan

–        Hanna Tresya

–        Frisca Hutagalung

–        Theresia Tobing

–        Francisca Tuning

Koordinator                        : Saskia Rosita Indasari

Wakil koord. Sekretaris  : Fadhillah Falaah

Bendahara                            : Mery (Staf Keuangan SA)

Humas                                   : Ari Muci dan Sri Haryati (Staf Humas SA)

Publikasi                               : Vidia Paramitha

Acara                                      : Indriyaningsih, Nurayu

Tim Materi                            :

–        M. Renandra Ichansyah

–        Yunita

–        Imelda C Purba

–        Sari

–        Ezria Adyas

–        Sandra

panitia

Enter a caption

“There’s no an instruction manual on how to deal with success, so you just have to rely on having great friends and a good team.”

-Bryan Adams

 

Rangkaian Kegiatan HSA 2016

(Februari 2016 – Januari 2017)

I.  PRA KEGIATAN

roadshow

Setelah tema “Gizi untuk Prestasi” disampaikan kepada panitia yang terbentuk, kami mencoba melakukan Brain Storming mengenai materi gizi apa yang tepat untuk diberikan kepada peserta Hari Sahabat Anak. Setelah berdiskusi cukup panjang selama kurang lebih 2 bulan (Februari – Maret), akhirnya konsep 4B (Bergizi, Berimbang, Beragam, dan Bersih) yang dipilih untuk merepresentasikan kampanye Gizi Untuk Prestasi sepanjang tahun 2016 bagi anak-anak Indonesia, khususnya yang berlatar belakang dari keluarga marginal.

Isi konten dari materi Gizi Untuk Prestasi kemudian disusun oleh satu tim yang beranggotakan teman-teman dengan latar belakang Ilmu Gizi dan Kesehatan Masyarakat, yaitu: M Renandra, Ezria Adyas, Imelda, Sari, dan Yunita. Selain materi, theme song 4B yang dinyanyikan oleh Aditya Aziz dan dibuat oleh Imam Saloso, permainan edukasi berupa kartu-kartu permainan dan ular tangga 4B (terlampir), lalu ada juga booklet untuk dibagikan ke orang tua yang didesain sedemikian menarik untuk mengisi rangkaian kegiatan roadshow.

Pada proses persiapan, panitia juga mengundang 2 orang perwakilan dari setiap area yang sudah dipilih untuk ditawarkan program kampanye “Gizi untuk Pestasi” ini. Sosialisasi pun dilakukan kepada area-area yang diundang dan momen tersebut juga dimanfaatkan untuk memberikan form data karakteristik area yang perlu diisi. Panitia juga mencari informasi ke setiap area yang akan didatangi untuk mendapatkan gambaran isu atau permasalahan sehingga diharapkan materi yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan area tersebut. Seluruh area, baik komunitas binaan Sahabat Anak maupun mitra patut diapresiasi karena sangat kooperatif dalam proses persiapan dan juga pelaksanaan hari H. Sumber daya yang terlibat baik untuk pemandu acara (MC) dan juga fasilitator sedapat mungkin turut melibatkan peran serta volunter area yang bersangkutan.

II.  ROADSHOW

Kegiatan kampanye “Gizi untuk Prestasi” yang menyasar baik anak-anak marginal usia (pra) sekolah hingga remaja dan juga orang tua sebagai peserta telah dilakukan di 31 area di beberapa wilayah di Indonesia seperti di Sumatera Utara (8 area), Jakarta (9 area), Bekasi (3 area), Bogor, Cirebon, Tasikmalaya, Kudus, Yogyakarta (2 area), Malang (2 area), Sumbawa, Palangkaraya, dan Timika Papua.

peta.jpg

Ket: Peta penyebaran roadshow “Gizi untuk Prestasi” di Indonesia sepanjang tahun 2016

Berikut gambaran area yang berpartisipasi dalam program ini beserta gambaran jumlah peserta baik anak-anak orang tua/wali, guru atau pendamping (volunter) yang telah mendapatkan edukasi “Gizi untuk Prestasi”:

untitled

KESIMPULAN

Dengan dilakukannya program kampanye pemenuhan hak anak untuk mendapat makanan yang sehat dan bergizi lewat “Gizi untuk Prestasi’ di sepanjang tahun 2016, edukasi telah dilakukan kepada lebih dari 3.000 anak dan lebih dari 500 orang tua dari masyarakat marginal di beberapa wilayah di Indonesia. Keterlibatan orang tua sebagai peserta dan menerima pemahaman tentang pentingnya makanan bergizi merupakan upaya optimalisasi peran orang tua dalam pemenuhan hak anak. Pelibatan masyarakat luas juga diwujudkan lewat pelibatan komunitas-komunitas lokal dan pendamping lokal untuk menyelenggarakan kampanye “Gizi untuk Prestasi” di areanya masing-masing, pelibatan masyarakat luas dalam mendonasikan kalorinya lewat program Fitbar Donor Kalori dan juga program donasi Rp 50.000 untuk satu set kotak makan dan botol minum, ataupun pelibatan dalam bentuk pikiran dan juga tenaga dengan menjadi fasilitator ketika kegiatan berlangsung.

 panitia2

Ket:  Bersama Kakak-kakak lokal usai Sosialisasi hasil roadshow tahap 1

Panitia HSA 2016 mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada:

Tuhan Yang Maha Esa atas setiap anugerah dan penyertaanNya

Kakak-kakak Pengurus, Pembina, dan Staf operasional SA

PT Sanghiang Perkasa (Kalbe Nutritionals) lewat program Fitbar Donor Kalori

Bain Indonesia, Lions Club, Indokasih.com, KokikuTV

Kakak-kakak lokal: RBS, Sobat Missil3, KDM, SA Manggarai, SA Grogol & Cengkareng, SA Cijantung, Terminal Hujan, Bimbel Jati Asih, Hore, SA Kota Tua, SA Gambir, Gubuk baca Lentera Negeri (GBLN) Malang, Lebah Ceria Community Jogja, Persatuan Bonapasogit, Perkumpulan Batak Kuala Kencana (PBKK), Komunitas Payung Hati Anak Tasikmalaya, KI Babagan Cirebon, Klinik Natalie Palangkaraya, Pengurus Yayasan RA Matholi’Ul Hija Kudus (Kak Ibus dan keluarga), Kak Aditi Sumbawa, Yayasan Al-Kahfi Bekasi, SA Rusunawa Cakung, dan SA Tanah Abang

Tim Kesehatan, Tim Humas Sahabat Anak & Panitia JSA XX

 Teman-teman Ahli Gizi (alumni IPB, UGM) sebagai Tim Materi, pembuat alat peraga, booklet juga sebagai Pemateri (Sari, Yunita, Andra, Imelda, Sandra, Ezria)

Koh Philip Triana & Cik Julie Tane untuk video animasi 4B yang berdetak!

Vina Puspita untuk logo “Gizi untuk Prestasi”

Yunita Kosen untuk design poster, banner, spanduk 4B

Michelle Panggabean untuk desain Ular Tangga 4B

Imam Saloso & Aditya Aziz untuk Lagu 4B

Kak Sam & Kak Disi untuk Tepuk 4b, gerakan lagu 4B dan MC langganan di roadshow

Seluruh kakak-kakak volunter, masyarakat yang sudah berpartisipasi baik langsung maupun tidak langsung lewat dukungan semangat, tenaga, doa, ide, dan juga materil; serta para peserta (kepala sekolah, guru, orang tua, adik-adik) yang bersemangat, mau berbagi, dan sama-sama mau belajar tentang hidup yang lebih sehat.

Terima kasih. Kiranya semua selalu diberkati dan dicukupkan dengan makanan yang bergizi, berimbang, beragam dan bersih setiap hari.

Salam 4B!

Keluargaku selalu mengajarkan 4B

Bergizi, beragam, berimbang, dan juga bersih

Ayo kawan kita terapkan hidup 4B

Agar tubuh kita bersih dan sehat selalu, Hey!

-Kutipan lirik lagu 4B-

 

Demikian report sederhana ini kami buat. Selamat menikmati!

 

 

Salam 4B untuk anak Indonesia yang berprestasi,

Saskia Rosita Indasari

-Koordinator HSA 2016-

“My Parents”: Who Are They?

By: Irwanto

Professor of Psychology, Atma Jaya Catholic University of Indonesia, Jakarta; Senior advisor of the Center for HIV-AIDS Research Atma Jaya Catholic University; Co-director, Center on Child Protection, Faculty of Social and Political Sciences, University of Indonesia.

Neither a child nor parent can biologically choose who their predecessor or offspring will be. Such a situation makes us think, on what basis is the relationship of children and parent arranged so that each qualifies as a “child” and as “parent”. Biological relationships are regarded as a major criterion in the relationship between children and parents. Particularly when interpreted that the biological relationship (sexual copulation) is accompanied with the intention or desire to realize human rights an obligation to continue the process of procreation, so that humans as a species do not disappear from the face of the earth.

Nevertheless, the biological relationship between the child and parent becomes problematic if the birth was unplanned or unwanted.  This could be due to the negligence of both partners to manage the pregnancy, or because of the coercion or violence experienced during copulation. Is a man who has raped a woman, automatically the father of a child born out of this kind of horrendous situation? What about the status of women who keep their pregnancy because “they were forced to”, can she be called the mother of her child?  If the relationship between a child and a parent were merely biological, then there would be many children bearing the brunt of forced pregnancies, rapes and children born out of sexual exploitation, were the biological parents did not plan for or want the child.

To be a child’s parent, one must meet several criteria that support the survival and development of the child. Biological relationships do not necessarily guarantee it. In such cases, the criterion is more of a social and moral nature. Being a parent requires a sense of responsibility towards a child and commitment to these responsibilities. That responsibility comes in many forms. Giving love, protection and even sacrifice for a child, ensuring the child obtains the best food, clothing and boarding, ensuring the child can learn formally and informally, making sure the child’s opinion is appreciated and that they are given the opportunity to be independent. The moral basis for such responsibility can be taken from belief systems or religion, which suggests that a child is entrusted from the Almighty Creator, or based on morality that doing good to a fellow human being will create a better world for mankind.

However, not all parents are able to appreciate and implement the commitment of this responsibility consistently. Many parents change in time, due to external or internal factors, and or, personal reasons. This increasingly dynamic world can easily throw a peaceful community into chaos and scatter families overnight. The continuing unstable political-economic environment in Indonesia could trigger interpersonal or communal conflicts with bad consequences for the family unit. Therefore, it would be beneficial that a safety net is in place, a system that is set by the State to mitigate the damaging effects of situations that can strain or even cause family unit to collapse.

In the concept of safety net, the State is then present as “Parent” or Parens Patriae(parents for the country). The term is widely used in English Common Law whose meaning is, “the State acts as the protector and caretaker for citizens who cannot meet their own needs or protect him or herself”. The State is present not only as an institution, but also as an aggregation of embodiment of every citizen’s moral responsibility against another citizen. In Indonesia, this principle is set forth in Article 34 of the 1945 Constitution.

Why must the principle of Parens Patriae be expressed in public discourse? This is because citizens of the state uphold the responsibility to manage their resources fairly and inclusively of all who reside within the state. Living together equally cannot be realized when there are still citizens neglected, marginalized and forgotten, amongst those who live excessive or abundant lives. This fact is used as the basis of Sustainable Development Goals (SDGs). If we want to live together under the same sky, then there should be no human left behind in enjoying the fruits of development. The SDGs, has stated within any of the goals put fourth, not one goal can be achieved if there is one man forgotten. Therefore, in this global agreement the commitment of the government to achieve these goals are strengthened, as well as human rights laws, policies and procedures.

What is the purpose of this article?

To remind every parent that their responsibilities to children are important. But the duties and responsibilities of child protection activists is not only limited to that. We must realize that not all parents can take on responsibilities and commitment for their children. The bigger responsibility is to fight for social justice by ensuring that the State is present as “parents” of children in all regions of this country, indiscriminately. Thus, no child would be left behind in enjoying their rights of life and growth in this beautiful archipelago.

Bintaro, February 12, 2017.
Written for the launch of 2017 Campaign 
“MY FAMILY MY PROTECTOR” by Yayasan Komunitas Sahabat Anak Jakarta  
On Sahabat Anak Day, February 17, 2017

 

Free interpretation ofdefinitionsdownloadedfromLegalInformationInstitute(LII), Cornell University – https://www.law.cornell.edu/wex/parens_patriae
%d blogger menyukai ini: