Category Archives: Day In Calendar

International Day of Friendship (30th July 2017)

“We’ll be Friends Forever, won’t we, Pooh?” asked Piglet.

“Even longer,” Pooh answered.

― A.A. MilneWinnie-the-Pooh

In honor of Friendship Day in 1998, Nane Annan wife of UN Secretary-General  Kofi Annan, named Winnie the Pooh as the world’s Ambassador of Friendship at the United Nations. In 2011 the United Nations declared July 30th to be the International Day of Friendship, which signifies the unification of all people regardless of gender, race, religion, political views or geological positioning. Friendship between peoples, countries and cultures can inspire peace efforts and build bridges between communities.

As adults we all remember our first childhood friend. The one we woke up excited to see inside the school gates. Play dates filled with adventure, confidences and laughter.  As it remains, our friends are a hugely important part of our lives, from sharing problems, asking for advice, uncontrollable laughter and good times, sharing our life events and proudest moments, our friends help each of us define who we are.

For children, making friends is a vital part of growing up and an essential part of their social and emotional development. Attributes such as social competence, altruism, self-esteem and self-confidence have all been found to be positively correlated to having friends. Studies have found that friendships enable children to learn more about themselves and develop their own identity. And, as children mature, friends are able to help reduce stress and navigate challenging developmental experiences, especially during teenage years.

Today, our world faces many challenges, crises and forces of division, such as poverty, violence and human rights abuses, among many others. These undermine peace, security, development and social harmony among the world’s peoples.

To confront those crises and challenges, their root causes must be addressed by promoting and defending a shared spirit of human solidarity that takes many forms; the simplest of which is friendship.

Through friendship, by accumulating binds of camaraderie and developing strong ties of trust, we can contribute to the fundamental shifts that are urgently needed to achieve lasting stability, weave a safety net that will protect us all, and generate passion for a better world where all are united for the greater good.

Young people, as our future leaders, have the opportunity be actively involved in creating a more inclusive, understanding and respectful societies by championing diversity and by welcoming friends from all walks of life into their lives and inviting diversity into their communities, cities and countries.

-Keshia Peters-

Iklan

Hari Tanpa Tembakau Sedunia (31 Mei 2017)

No Tobacco Day 1

Asbak rokok dengan bunga segar menjadi simbol umum untuk Hari Tanpa Tembakau Sedunia

 

Hari Tanpa Tembakau Sedunia diperingati setiap tahunnya pada tanggal 31 Mei sejak tahun 1987. Tujuannya adalah untuk mendorong berpantang segala bentuk konsumsi tembakau dalam kurun 24 jam di seluruh penjuru dunia. Hari itu juga ditujukan untuk menarik perhatian terhadap menyebarnya penggunaan tembakau dan efek negatifnya. Merokok mengakibatkan kematian hingga 6 juta jiwa per tahunnya, termasuk di dalamnya 600,000 jiwa perokok pasif akibat turut menghirup asap rokok dan bahan-bahan kimia di dalamnya.

Untuk tahun ini, tema Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah “Tembakau – Ancaman terhadap Pertumbuhan”. Salah satu hal yang ingin diangkat oleh tema ini adalah menunjukkan adanya ancaman oleh industri tembakau terhadap perkembangan negara, termasuk kesehatan dan kesejahteraan ekonomi warga negaranya. Dalam hal ini kami tertarik melihatnya dalam sudut pandang kepentingan anak.

Dalam sebuah keluarga yang anggota dewasanya merokok, setidaknya sang anak terancam dalam tiga hal. Yang pertama, dia menjadi perokok pasif sejak dini. Jika sang ayah/ibu merokok di luar rumah pun, asap rokok, bahan kimia, dan tar nikotin yang menempel pada baju dan barang-barang yang dipakai tetap menjadi ancaman kesehatan dan pertumbuhan bagi anak. Kedua, orang tua yang merokok menjadi teladan buruk bagi sang anak hingga dia cenderung akan menjadi perokok aktif nantinya. Ketiga, uang yang seharusnya bisa dipergunakan untuk kepentingan rumah tangga dan anak menjadi potensi yang terbuang demi rokok.

Sesuai dengan tema Sahabat Anak tahun ini, “Keluargaku Pelindungku”, kami ingin kembali mengajak Sahabat menjadi pelindung bagi anak-anak. Jika sahabat seorang perokok aktif, mari coba berpantang rokok seharian sambil mempertimbangkan bahayanya bagi anak di sekitar Anda. Jika Sahabat bukan perokok, mari terus mempertahankannya, dan tolong terus bagikan kepada orang lain bahayanya bagi anak.

No Tobacco Day 2

-Gracia M.B.-

Hari Buku Anak Sedunia

Di tanggal 2 April lalu kita memperingati hari yang dekat di hati bagi pemerhati anak sekaligus pencinta buku. Tanggal tersebut dipilih untuk menghargai hari lahirnya Hans Christian Andersen, sastrawan Denmark yang terkenal dengan dongeng-dongengnya seperti Putri Duyung, Itik Buruk Rupa dan Serdadu Timah yang terkenal di berbagai penjuru dunia. Selain buku karangannya, apakah sahabat punya buku anak yang dulu sangat berkesan hingga sekarang ingin dibagikan ceritanya kepada anak-anak yang sahabat kenal?

Saya masih ingat buku pertama yang dihadiahkan ibu saya, karangan Annie M.G. Schmidt berjudul Jip en Janneke, atau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia Tono dan Tini. Ceritanya tentang dua orang anak laki-laki dan perempuan yang bersahabat dan bertualang bersama di sekitar rumah mereka. Kumpulan ceritanya lucu dan menarik, serta bahasanya sangat sederhana sehingga anak kelas 1 SD pun bisa menikmatinya, baik dibacakan orang tua maupun dibaca sendiri.

Keponakan saya sendiri suka buku ensiklopedia anak yang penuh gambar. Agak di luar perkiraan saya sebenarnya, karena saya kira yang dia suka justru cerita dongeng. 🙂 Ternyata alasannya adalah karena ada bagian di buku itu yang menjelaskan tentang ambulans dan suster, yang untuk saat ini adalah cita-citanya ketika besar nanti.

Selagi anak belajar membaca, buku juga membantu mereka berimajinasi, serta membuka wawasan mereka akan hal-hal di luar lingkup diri mereka sendiri, keluarga dan sekolah. Buku anak yang baik juga dapat memupuk kecintaan membaca anak hingga nanti, dan dibantu dengan diskusi bersama orang dewasa dapat menumbuhkan empati dan pikiran yang kritis.

Jadi, buku anak apa yang ingin sahabat rekomendasikan kepada anak-anak di sekitar kita? Silahkan bagikan di komen di bawah. Jangan lupa, luangkan waktu sahabat di hari ini untuk membaca buku bersama mereka. 🙂

 

-Gracia M. B.-

Hari Guru Nasional 2016

selamat-hari-guru

Tahukah Sahabat bahwa Hari Guru di Indonesia sama usianya dengan Hari Guru Internasional?

Hari Guru Internasional (World Teacher’s Day) ditetapkan pada tanggal 5 Oktober 1994 oleh UNESCO untuk merayakan para pendidik di seluruh dunia. Sebulan kemudian di tahun yang sama, bertepatan dengan ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Keputusan Presiden menetapkan tanggal 25 November sebagai Hari Guru.

Berikut adalah kata-kata mutiara untuk menghargai jasa guru yang telah membentuk pikiran dan hidup kita.

“Jika kamu berencana untuk setahun ke depan, tanamlah padi; jika berencana untuk sepuluh tahun, tanamlah pohon; jika untuk seumur hidup, didiklah orang-orang” ― Peribahasa Cina

“Mereka yang tahu, melakukan. Mereka yang mengerti, mengajar.” ― Aristoteles

“Guru yang baik itu ibarat lilin – membakar dirinya sendiri demi menerangi jalan orang lain.” ― Mustafa Kemal Atatürk

“Satu anak, satu guru, satu buku, satu pena dapat mengubah dunia” ― Malala Yousafzai

“Didiklah anak-anak agar nantinya orang dewasa tidak perlu dididik.” ― Abraham Lincoln

“Bagikan ilmumu. Itulah cara mencapai keabadian.” ― Dalai Lama XIV

“Guru yang biasa memberi tahu. Guru yang baik memberi penjelasan. Guru yang ulung menunjukkan. Guru yang hebat mengobarkan hati.” ― William Arthur Ward

Terima kasih kami kepada para pahlawan tanpa tanda jasa. Selamat Hari Guru Nasional!

Happy International Day of Peace

international-day-of-peace

Membaca Sekarang, Membangun Masa Depan

Tahukah Sahabat bahwa tanggal 8 September lalu adalah Hari Aksara Internasional? Bermula dari konferensi yang diadakan di Teheran, Iran, pada tahun 1965, UNESCO menetapkan hari tersebut sebagai International Literacy Day atau di Indonesia disebut sebagai Hari Aksara Internasional (HAI).

Di Indonesia sendiri, puncak perayaannya akan diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di kota Palu pada tanggal 20 Oktober 2016 dengan tema “Penguatan Literasi dan Vokasi dalam Membangun Ekonomi Berkelanjutan”. Tema ini disesuaikan dengan tema global UNESCO, yaitu “Reading the Past, Writing the Future” atau “Membaca Masa Lalu, Menulis Masa Depan”. Pesan dari tema ini menekankan bahwa keaksaraan bukan cuma prioritas pendidikan, tapi juga investasi yang sangat penting bagi masa depan berkesinambungan.

Saat ini di Indonesia masih ada 11 propinsi yang tergolong tinggi jumlah penduduk tuna aksaranya. Berbagai laporan menunjukkan adanya hubungan antara tingkat tuna aksara suatu daerah dengan tingginya angka kemiskinan di tempat itu. Ini tentunya menjadi tugas bagi pemerintah dan masyarakat. Dan sebagai generasi penerus, tidak mengherankan kalau anak-anak masih menjadi fokus utama kampanye keaksaraan.

013-rumah-belajar-sahabat.jpg

Lalu, apa pentingnya pemberantasan tuna aksara bagi anak? Karena dengan satu hal ini saja sudah ada 3 dari 10 Hak Anak yang bisa terpenuhi: Hak untuk mendapatkan PENDIDIKAN, hak untuk mendapatkan KESAMAAN, dan hak untuk memiliki PERAN dalam PEMBANGUNAN. Itu sebabnya pendidikan dasar Calistung (membaca, menulis, berhitung) masih menjadi program andalan di kelas-kelas Bimbel Sahabat Anak. Dalam kelas ini, para volunter masih tetap menemukan adanya anak-anak marjinal yang walaupun sudah bersekolah secara formal masih tetap kesulitan dalam Calistung, sehingga menyurutkan minat belajar mereka secara keseluruhan.

Untuk meningkatkan keaksaraan anak-anak marjinal, Sahabat dapat membantu secara langsung menjadi tenaga pengajar di Bimbel SA terdekat, seperti Grogol, Cijantung, Gambir, Manggarai, Tanah Abang, dan Kota Tua. Jika bukan berlokasi di Jakarta, Sahabat juga bisa membantu rumah belajar di area masing-masing, atau bahkan menyumbangkan buku untuk taman baca anak.

Rumah Karya

Selama satu dekade ini sudah ada peningkatan dalam program penuntasan tuna aksara di Indonesia. Jika pada tahun 2005, penduduk tuna aksara mencapai 9,55% atau sekitar 14,89 juta orang, maka pada tahun 2014  telah turun menjadi 3,7% atau sekitar 5,9 juta orang. Hasil ini menunjukkan bahwa Indonesia telah berhasil melampaui target Deklarasi Dakkar tentang Pendidikan Untuk Semua (PUS), yaitu pada akhir tahun 2015 dapat menurunkan lebih dari separuh penduduk tuna aksara. Tentunya kabar baik ini dapat memacu kita mencapai angka yang lebih rendah di dekade depan, agar masa depan anak semakin cerah. 🙂

“Literacy is bridge from misery to hope”
Kofi Annan, Mantan Sekretaris Jenderal PBB

71 Tahun Indonesia Merdeka, Mari Berbagi

Hai, Sahabat. Kembali kita merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia di tahun ini. Tanpa terasa, setahun sudah berlalu sejak blog entry terakhir kami mengenai kemerdekaan – 70 Tahun (Anak) Indonesia Merdeka?, yang mengangkat pertanyaan retorik apakah dalam kemerdekaan ke-70 RI, anak-anak Indonesia juga sudah turut mengecap kemerdekaan mereka.

Pertanyaan tahun lalu masih bisa kita tanyakan juga di tahun ini. 71 tahun Indonesia merdeka, apakah anak Indonesia sudah merdeka dari penelantaran dan kekerasan? Hampir separuh anak usia 7 – 17 tahun putus sekolah. Masih ada anak-anak usia 10 – 17 tahun yang bekerja (child labour). Angka kematian bayi dan balita masih jauh dari target MDG (Millenium Development Goals) – yakni 34 kematian bayi dan 44 kematian balita per 1.000 kelahiran. Belum lagi anak korban trafficking, malnutrisi, tidak memiliki identitas (akta lahir), dan data-data memilukan lainnya.

Ada satu kalimat yang mengatakan bahwa butuh warga sekampung untuk membesarkan seorang anak. Sangat bisa diterima jika status kalimat itu dinaikkan, menjadi “Butuh satu bangsa untuk membesarkan anak-anak.” Dalam usaha kami sebagai bagian dari bangsa, Sahabat Anak tahun ini mengerjakannya dengan program “Gizi Untuk Prestasi”. Kegiatan program ini tidak bisa berjalan baik tanpa peran serta berbagai komunitas dan unsur masyarakat serta keluarga.

Beberapa hal yang telah dijalankan tahun ini adalah Roadshow keliling Jawa dan daerah-daerah lainnya di Indonesia, bekerja sama dengan Fitbar Donor Kalori. Setelah Fitbar, saat ini kami sedang bekerja sama dengan Berbagi.com dan Indokasih untuk terus menggencarkan Program Gizi tahun ini.

Kami berusaha menyatakan kemerdekaan ini dengan berbagi, mengerjakan apa yang kami bisa dengan apa yang kami punya. Maukah Sahabat melakukan hal yang sama? 🙂

Dirgahayu Indonesia, dirgahayukan juga anak-anak kita!

%d blogger menyukai ini: