Kisah Bimbel Koran di JSA XXI

Jambore Sahabat Anak (JSA) ke-21 boleh saja sudah berlalu sebulan yang lalu. Tapi kenangannya dijamin tetap membekas di hati semua pihak yang terlibat dari panitia, pendamping hingga adik-adik peserta itu sendiri. Yuk, kita flashback sejenak ke JSA yang terselenggara tanggal 22-23 Juli yang lalu melalui kisah-kisah dari beberapa area peserta Jambore. Berikut area Bimbel Koran ingin bercerita kisah mereka di Jambore….

Perayaan peringatan Hari Anak Nasional tanggal 23 Juli 2017 seperti biasa berlangsung dengan meriah melalui Jambore Sahabat Anak yang diselenggarakan di Bumi Perkemahan Ragunan dan berlangsung selama dua hari ini yaitu dari tanggal 22 – 23 Juli 2017, dan meninggalkan kesan yang sangat menyenangkan bagi adik-adik Bimbel Koran. Jambore kali ini Bimbel Koran satu tenda dengan Bimbel Jatiasih, adapun nama tendanya adalah Tenda Tongkongan yang merupakan Rumah adat dari Toraja. Kenapa Tongkongan? Karena tema untuk setiap tenda yang ada di Jambore mengangkat tema rumah-rumah adat yang ada di Indonesia. Hal ini sangat positif karena dengan begitu secara tidak langsung kita mengajarkan kepada para peserta Jambore akan kekayaaan budaya dari Indonesia.

Hari Sabtu tanggal 22 Juli 2017 jam 05.00 WIB mobil jemputan sudah tiba di tempat penjemputan yang telah disepakati, dan adik-adik sudah sangat bersemangat untuk mengikuti kegiatan Jambore selama dua hari. Saking bersemangatnya jam 4 pagi sudah pada kumpul di bimbel dan yang lucunya malah kakak-kakak pendampingnya yang terlambat :p. Ketika semua peserta sudah berkumpul kami berangkat dengan menjemput terlebih dahulu Bimbel Budaya Mandiri, karena untuk tranportasi kali ini Bimbel Koran bergabung bersama Bimbel Budaya Mandiri. Perjalanan berjalan lancar dan seru, karena transportasi yang kami gunakan adalah mobil tentara, dan sekitar jam 07.30 WIB kami tiba di Bumi Perkemahan Ragunan.

Setibanya di lokasi kami langsung disambut oleh kakak-kakak panitia dari Jambore Sahabat Anak, setelah itu kami diarahkan di suatu tempat untuk menunggu teman-teman kami dari Bimbel Jatiasih sehingga tidak mengganggu para peserta Jambore yang lainnya. Setelah bertemu dengan teman-teman Bimbel Jatiasih kamipun dipanggil untuk melakukan foto bersama dan menyanyikan yel-yel yang selama ini sudah dipelajari. Setelah itu kami berbaris di depan panggung untuk melakukan pembukaan perayaan Jambore Sahabat Anak XXI tahun 2017 dan kami menyanyikan lagu Keluargaku Pelindungku yang merupakan tema dari kegiatan Jambore untuk tahun ini.

Setelah proses acara penyambutan sudah selesai dilakukan, para peserta Jambore pun balik ke tendanya masing-masing sesuai dengan nama tenda yang telah di berikan kepada setiap bimbel yang merupakan para peserta Jambore. Saat di tenda kami berkumpul dan berkenalan dengan teman-teman dari Bimbel Jatiasih. Pada saat perkenalan kami pun dibagikan sarapan pagi, keperluan mandi dan kaos yang merupakan seragam yang dipakai pada hari itu. Ternyata teman-teman dari Jatiasih sangat baik dan sangat ramah. Tidak hanya adik-adiknya tapi kakak-kakaknya juga, kami sangat senang sekali. Dan saat itu kakak-kakaknya juga membahas bagaimana caranya untuk menghias tenda dengan peralatan yang sudah tersedia (harap maklum selama ini koordinasinya hanya melalui online). Setelah itu kami dikumpulkan kembali untuk bermain games.

Setelah berkumpul kami pun dijelasin setiap game yang telah dipersiapkan oleh kakak-kakak panitia. Acara games-nya sangat seru sekali, kami saling menyemangati teman-teman kami yang satu tendanya pastinya agar kami bisa memenangkan setiap game yang ada. Kami berteriak sekuat tenaga dan akhirnya itu membuat suara kami serak, tapi tidak masalah karena kami sangat senang sekali. Cuaca yang terik pada hari itu pun tidak kami hiraukan. Dan kami pun memenangkan beberapa dari semua games yang ada. Acara pun berlangsung dengan tertib. Jam 12.00 kami sudah dikasih makan siang dan istirahat sebentar. Setelah acara selesai kami dikasih kesempatan untuk menghias tenda dengan peralatan yang sudah kami persiapkan. Maka dimulailah acara gunting-menggunting kertas, menempel dan menggambar, tidak lupa kami juga membuat pagar di depan tenda.

Ketika sudah sore kami mulai membersihkan diri dan ternyata kamar mandi sangat antri dan beberapa di antara kami mandi bersamaan untuk bisa menghemat waktu. Setelah itu kami makan malam. Acara di malam hari pun sangat seru sekali terutama ketika ada aktris Prilly Latuconsina. Sayang malam itu ada hujan tapi untung saja cuma sebentar. Lelah mengikuti acara dari pagi kami pun lelah dan ingin beristirahat, tapi ketika ada musik reggae kami berlari berhamburan dan bergoyang-goyang mengikuti irama dengan semangat sekali. Rasa lelah pun hilang seketika karena kami bergoyang dengan teman-teman baru yang tidak malu untuk bergoyang dan kami tertawa bersama. Setelah itu acara selesai dan kami beristirahat.

Keesokan paginya kami bangun pagi-pagi dan mengikuti senam pagi, kami mengikuti senam sembari bercanda dengan teman-teman baru. Siangnya kami dikumpulkan dan mengikuti arahan bahwa kami harus membuat baju perang beserta pedang untuk menyelematkan Kakak Apit yang telah di culik oleh algojo. Ketika kami berusaha menyelamatkan Kak Apit kami menyanyikan yel-yel : “Permisi, permisi. Kami mau lewat. Kalau nggak di kasih lewat, urusan bisa gawat” :p. Setelah menyelamatkan Kak Apit kami kumpul kembali ke tenda dan makan siang. Setelah itu kami beres-beres dan melakukan persiapan untuk pulang.

Sebelum kami pulang tiba saatnya pengumuman untuk pemenang setiap kategori yang telah di persiapakan oleh kakak-kakak panitia. Dan Tenda Tongkongan memenangkan dua kategori yaitu sebagai Tenda Terdisiplin dan Tenda Terbaik. Kami sangat senang sekali dan bangga karena untuk pertama kalinya kami bisa memenangkan kategori Tenda Terbaik selama mengikuti Jambore ini dari tahun 2011.

Berikut beberapa kesan-kesan dari adik-adik selama mengikuti acara Jambore Sahabat Anak XXI :

  • Najwa, Kelas V: “Saya sangat senang mengikuti Jambore Sahabat Anak karena saya mendapat pengalaman dan ilmu yang sangat banyak. Dan memiliki kesempatan untuk bermain dan berkumpul dengan teman-teman baru.”
  • Widodo, Kelas IV: “Saya senang sekali karena pada saat Jambore saya bisa bermain dengan teman-teman, baik itu teman-teman yang lama maupun teman-teman yang baru.”
  • Nur Fatiha, kelas IV: “Saya ikut Jambore Sahabat Anak untuk yang kedua kalinya dan acara yang berkesan pada waktu menyebarkan serbuk berwarna ke teman-teman seru banget, seperti film India. O iya, ketika pengumuman bahwa kami sebagai Tenda Terbaik juga sangat berkesan. Sangat bangga sekali. Saya juga kagum dengan penampilan adik-adik yang pentas. Mereka bergoyang enerjik sekali, terbersit dalam hati saya pengen seperti mereka.”
  • Iqbal, Kelas VI: “Jambore kali ini saya mendapat teman baru namanya Jaka, Hendrik, Ahmad, Taufik dan lain-lain. Kami bermain, bergoyang dan menghias tenda bersama.”
  • Edo Kelas VI: “Saya senang bisa ketemu dengan artist Prilly Lantucosina, dia cantik sekali. O iya, acara sulapnya juga keren sekali, saya sampai heran kok bisa yah. Musik reggae-nya juga seru banget, saya dan teman-teman bergoyang bersama dan tertawa bersama, pokoknya seru banget. Pada saat pulang dapat souvenir tas yang bagus. Senang sekali dengan Jambore kali ini.”
  • Mia Kelas VII: “Saya orangnya pemalu tapi ketika setenda dengan teman-teman dari Jatiasih saya sangat senang sekali karena adik-adik dan kakak-kakaknya sangat ramah sekali, mereka ajak saya foto dan membantu saya juga untuk menghias tenda. Saya ketawa terbahak-bahak mendengar cerita Kak Awam. Tapi yang paling hits dan heboh ketika tenda Tongkongan di nobatkan sebagai tenda terbaik membuat saya bangga dan terharu.”

Berikut Kesan dari Adel sebagai Koordinator pendamping Bimbel Koran:

Jambore kali ini adalah Jambore pertama kali yang saya ikuti. Pertama kali menjadi pendamping dan pertama kali yang mengkoordinir remaja-remaja Bimbel Koran untuk menjadi pendamping. Terus terang saya sangat kuatir ketika kak Donna mempercayakan semuanya kepada saya karena semuanya ini adalah pertama yang saya ikuti. Tapi alhamdullilah segala kepercayaan yang diberikan terbayar dengan menangnya tenda Tongkongan sebagai tenda terdisiplin dan tenda terbaik rasanya bangga, terharu dan bahagia sekali.

JSA1_3

Bimbel Koran di JSA XXI

 

 

Iklan

International Day of Friendship (30th July 2017)

“We’ll be Friends Forever, won’t we, Pooh?” asked Piglet.

“Even longer,” Pooh answered.

― A.A. MilneWinnie-the-Pooh

In honor of Friendship Day in 1998, Nane Annan wife of UN Secretary-General  Kofi Annan, named Winnie the Pooh as the world’s Ambassador of Friendship at the United Nations. In 2011 the United Nations declared July 30th to be the International Day of Friendship, which signifies the unification of all people regardless of gender, race, religion, political views or geological positioning. Friendship between peoples, countries and cultures can inspire peace efforts and build bridges between communities.

As adults we all remember our first childhood friend. The one we woke up excited to see inside the school gates. Play dates filled with adventure, confidences and laughter.  As it remains, our friends are a hugely important part of our lives, from sharing problems, asking for advice, uncontrollable laughter and good times, sharing our life events and proudest moments, our friends help each of us define who we are.

For children, making friends is a vital part of growing up and an essential part of their social and emotional development. Attributes such as social competence, altruism, self-esteem and self-confidence have all been found to be positively correlated to having friends. Studies have found that friendships enable children to learn more about themselves and develop their own identity. And, as children mature, friends are able to help reduce stress and navigate challenging developmental experiences, especially during teenage years.

Today, our world faces many challenges, crises and forces of division, such as poverty, violence and human rights abuses, among many others. These undermine peace, security, development and social harmony among the world’s peoples.

To confront those crises and challenges, their root causes must be addressed by promoting and defending a shared spirit of human solidarity that takes many forms; the simplest of which is friendship.

Through friendship, by accumulating binds of camaraderie and developing strong ties of trust, we can contribute to the fundamental shifts that are urgently needed to achieve lasting stability, weave a safety net that will protect us all, and generate passion for a better world where all are united for the greater good.

Young people, as our future leaders, have the opportunity be actively involved in creating a more inclusive, understanding and respectful societies by championing diversity and by welcoming friends from all walks of life into their lives and inviting diversity into their communities, cities and countries.

-Keshia Peters-

Hari Sahabat Anak (23 Juli 2017)

Di Indonesia, Hari Anak Nasional sudah ditetapkan dan diperingati oleh pemerintah sejak tahun 1984. Pemerintah sudah mempeberikan perhatian pada masalah anak-anak dari 33 tahun yang lalu. Bahkan, untuk memberikan perlindungan pada anak-anak Indonesia, dibentuklah lembaga perlindungan anak independen, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Tidak cukup dengan itu, di era pemerintahan Presiden Joko Widodo, dibentuklah kementrian khusus yang bertanggung jawab terhadap permasalahan anak, Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Tapi, apakah dengan kehadiran dua lembaga tersebut permasalahan yang terjadi pada anak-anak Indonesia sudah selesai? Jawabannya jelas tidak.

Masalah tidak meratanya akses pada pendidikan, eksploitasi tenaga anak di bawah umur, pencabulan, dan tindak kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh anak-anak sendiri maupun orangtua masih saja terus terjadi.

Yang terbaru, yang mengusik rasa keprihatinan adalah kasus kekerasan yang melibatkan anak seusia SD dan SMP, yang terjadi di kawasan Thamrin City, Jakarta. Terhadap kasus itu, masyarakat masih dengan gampangnya menyebarkan video kekerasan tersebut lewat media social sehingga menjadi viral. Itu membuktikan, bahwa pemahaman masyarakat bagaimana seharusnya bersikap terhadap permasalahan perlindungan anak masih banyak yang kurang bijak.

Semangat partisipasif, kebersamaan dari semua elemen masyarakat inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Komunitas Sahabat Anak. Komunitas yang mempersatukan relawan-relawan dari beragam umur, dengan latar belakang yang juga beragam, untuk bergerak bersama-sama melakukan tindakan nyata dengan melakukan pendampingan, perlindungan, dan pendidikan yang layak bagi anak-anak jalanan dan kurang mampu di wilayah Jakarta. Sekali lagi, perlindungan tehadap anak-anak tidak bisa hanya dibebankan kepada satu orang atau lembaga tertentu saja. Permasalahan anak-anak mestinya menjadi tanggung jawab kita bersama.

Pertanyaannya, apa yang dilakukan oleh Sahabat Anak untuk anak-anak Indonesia?

Selain menjalankan Bimbingan Belajar (Bimbel) di enam area di Jakarta dan satu Pusat Kegiatan Anak, yang melibatkan lebih dari 600 adik binaan, Sahabat Anak juga rutin mengadakan Jambore Sahabat Anak secara rutin setiap tahun.

Sejak pertama kali menyelenggarakan Jambore Anak Jalanan di tahun 1997, yang menjadi embrio lahirnya Komunitas Sahabat Anak, setiap bulan Juli Sahabat anak terus menggelar acara ini dengan tujuan merayakan Hari Anak Nasional dan mempertemukan anak-anak jalanan, anak-anak marjinal dengan orang-orang yang peduli dengan mereka.

Di tahun 2017 ini, setelah 20 tahun, Sahabat Anak pun kembali menghadirkan Jambore Sahabat Anak yang jatuh tepat pada Hari Anak Nasional, 23 Juli 2017. Kalau di jambore pertama di tahun 1997 hanya melibatkan 200 anak, di Jambore Sahabat Anak XXI ini melibatkan 800 anak-anak di wilayah Jabodetabek dan 400 kakak pendamping dari berbagai daerah yang akan berkumpul bersama di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta, mulai dari 22 Juli 2017. Tema yang diusung untuk tahun ini mengangkat isu salah satu hak anak untuk mendapatkan perlindungan, “Keluargaku Pelindungku”.

Berbagai aktivitas seru akan dilakukan dan dirasakan oleh adik bersama kakak pendamping di Jambore Sahabat Anak XXI yang berlangsung selama dua hari penuh tersebut. Mulai dari bermain bersama, hingga memberikan ruang bagi anak-anak tersebut untuk unjuk kemampuan di panggung yang menjadikan mereka sebagai tokoh utamanya. Jambore ini, akan menjadi momen yang tak akan mereka lupa.

Bagi para sahabat yang ingin berpartisipasi lebih lanjut dalam Jambore Sahabat Anak  dapat mendukung dengan cara menjadi sahabat donatur untuk membantu pemenuhan kebutuhan dana dan pengadaan sarana/prasarana kegiatan Jambore Sahabat Anak XXI. Untuk keterangan lebih lanjut silakan hubungi:

Aty
Sekretariat Sahabat Anak
Telp: 021-3918505
Email: info@sahabatanak.com

Sampai jumpa di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta, untuk merayakan Hari Anak Nasional 2017 bersama Jambore Sahabat Anak XXI!

-Gracia M. B. & Sri Sadono-

Hari Tanpa Tembakau Sedunia (31 Mei 2017)

No Tobacco Day 1

Asbak rokok dengan bunga segar menjadi simbol umum untuk Hari Tanpa Tembakau Sedunia

 

Hari Tanpa Tembakau Sedunia diperingati setiap tahunnya pada tanggal 31 Mei sejak tahun 1987. Tujuannya adalah untuk mendorong berpantang segala bentuk konsumsi tembakau dalam kurun 24 jam di seluruh penjuru dunia. Hari itu juga ditujukan untuk menarik perhatian terhadap menyebarnya penggunaan tembakau dan efek negatifnya. Merokok mengakibatkan kematian hingga 6 juta jiwa per tahunnya, termasuk di dalamnya 600,000 jiwa perokok pasif akibat turut menghirup asap rokok dan bahan-bahan kimia di dalamnya.

Untuk tahun ini, tema Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah “Tembakau – Ancaman terhadap Pertumbuhan”. Salah satu hal yang ingin diangkat oleh tema ini adalah menunjukkan adanya ancaman oleh industri tembakau terhadap perkembangan negara, termasuk kesehatan dan kesejahteraan ekonomi warga negaranya. Dalam hal ini kami tertarik melihatnya dalam sudut pandang kepentingan anak.

Dalam sebuah keluarga yang anggota dewasanya merokok, setidaknya sang anak terancam dalam tiga hal. Yang pertama, dia menjadi perokok pasif sejak dini. Jika sang ayah/ibu merokok di luar rumah pun, asap rokok, bahan kimia, dan tar nikotin yang menempel pada baju dan barang-barang yang dipakai tetap menjadi ancaman kesehatan dan pertumbuhan bagi anak. Kedua, orang tua yang merokok menjadi teladan buruk bagi sang anak hingga dia cenderung akan menjadi perokok aktif nantinya. Ketiga, uang yang seharusnya bisa dipergunakan untuk kepentingan rumah tangga dan anak menjadi potensi yang terbuang demi rokok.

Sesuai dengan tema Sahabat Anak tahun ini, “Keluargaku Pelindungku”, kami ingin kembali mengajak Sahabat menjadi pelindung bagi anak-anak. Jika sahabat seorang perokok aktif, mari coba berpantang rokok seharian sambil mempertimbangkan bahayanya bagi anak di sekitar Anda. Jika Sahabat bukan perokok, mari terus mempertahankannya, dan tolong terus bagikan kepada orang lain bahayanya bagi anak.

No Tobacco Day 2

-Gracia M.B.-

Hari Bawa Bekal Nasional (12 April 2017)

Hari ini tgl 12 April 2017 serentak Indonesia merayakan Hari Bawa Bekal Nasional. Hari Nasional yang dideklarasikan sejak tanggal 12 April 2013 ini meski belum terlalu populer di kalangan masyarakat Indonesia, tapi sesungguhnya mendapat sambutan yang sangat positif di berbagai kalangan.

Pencanangan Hari Bawa Bekal Nasional sendiri sebenarnya merupakan himbauan dan ajakan untuk hidup sehat dalam keluarga. Salah satu caranya adalah dengan rajin membawa bekal makanan sendiri dari rumah. Makanan yang kita siapkan sendiri dari rumah jelas lebih terjamin higienitas dan nutrisinya serta bonus tambahan saat kita membawa bekal sendiri adalah kita bisa menjadi lebih hemat. Hemat karena biaya membuat makanan sendiri bisa lebih murah daripada jajan di luar rumah.

Kebiasaan Bawa Bekal sesungguhnya sejalan dengan Kampanye Sahabat Anak tahun ini yaitu “Keluargaku Pelindungku”. Dengan membawa bekal dari rumah berarti Orangtua melakukan aksi nyata untuk melindungi sang buah hati. Menurut penelitian yang pernah dilakukan, ditemukan 59-70% jajanan di lingkungan sekolah tidak higienis dan mengandung zat berbahaya bagi tubuh. Bekal yang dibawa dari rumah tentu memiliki higienitas yang lebih baik. Bahan-bahan makanan yang disiapkan pasti juga sudah terpilih nutrisinya dan tentunya lepas dari bahan pengawet, atau pewarna makanan yang berbahaya.

Mari jadikan Hari Bawa Bekal Nasional ini sebagai gerakan nyata dengan selalu meluangkan waktu menyiapkan bekal bagi sang buah hati. Dengan demikian para orangtua telah berperan aktif melakukan tindakan perlindungan anak karena memang sepatutnya Keluargaku Pelindungku. Selamat Hari Bawa Bekal Nasional

 ♣ Dina Karolina ♣

Hari Buku Anak Sedunia

Di tanggal 2 April lalu kita memperingati hari yang dekat di hati bagi pemerhati anak sekaligus pencinta buku. Tanggal tersebut dipilih untuk menghargai hari lahirnya Hans Christian Andersen, sastrawan Denmark yang terkenal dengan dongeng-dongengnya seperti Putri Duyung, Itik Buruk Rupa dan Serdadu Timah yang terkenal di berbagai penjuru dunia. Selain buku karangannya, apakah sahabat punya buku anak yang dulu sangat berkesan hingga sekarang ingin dibagikan ceritanya kepada anak-anak yang sahabat kenal?

Saya masih ingat buku pertama yang dihadiahkan ibu saya, karangan Annie M.G. Schmidt berjudul Jip en Janneke, atau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia Tono dan Tini. Ceritanya tentang dua orang anak laki-laki dan perempuan yang bersahabat dan bertualang bersama di sekitar rumah mereka. Kumpulan ceritanya lucu dan menarik, serta bahasanya sangat sederhana sehingga anak kelas 1 SD pun bisa menikmatinya, baik dibacakan orang tua maupun dibaca sendiri.

Keponakan saya sendiri suka buku ensiklopedia anak yang penuh gambar. Agak di luar perkiraan saya sebenarnya, karena saya kira yang dia suka justru cerita dongeng. 🙂 Ternyata alasannya adalah karena ada bagian di buku itu yang menjelaskan tentang ambulans dan suster, yang untuk saat ini adalah cita-citanya ketika besar nanti.

Selagi anak belajar membaca, buku juga membantu mereka berimajinasi, serta membuka wawasan mereka akan hal-hal di luar lingkup diri mereka sendiri, keluarga dan sekolah. Buku anak yang baik juga dapat memupuk kecintaan membaca anak hingga nanti, dan dibantu dengan diskusi bersama orang dewasa dapat menumbuhkan empati dan pikiran yang kritis.

Jadi, buku anak apa yang ingin sahabat rekomendasikan kepada anak-anak di sekitar kita? Silahkan bagikan di komen di bawah. Jangan lupa, luangkan waktu sahabat di hari ini untuk membaca buku bersama mereka. 🙂

 

-Gracia M. B.-

International Women’s Day

International Women’s Day is celebrated in many countries around the world. It is a day when women are recognized for their achievements without regard to divisions, whether national, ethnic, linguistic, cultural, economic or political. International Women’s Day first emerged from the activities of labour movements at the turn of the twentieth century in North America and across Europe. A time of great expansion and turbulence in the industrialized world that saw booming population growth and the rise of radical ideologies.

The early 1900s were a time of great turmoil for everyone, especially women. With massive changes in industry, economy and policy, women around the world seized the opportunity to rally for their rights in pursuit of a better, equitable and just future.

International Women’s Day was marked for the first time on March 19th 1911, to honour the movement for women’s rights and to build support for achieving universal suffrage for women. In addition to the right to vote and to hold public office, they demanded women’s rights to work, to vocational training and to put an end to workplace discrimination. More then 1 million women and men attended rallies across, Austria, Denmark, Germany and Switzerland.

Since those early years, International Women’s Day has assumed a new global dimension for women in developed and developing countries alike. The growing international women’s movement, which has been strengthened by four global United Nations women’s conferences, has helped make the commemoration a rallying point to build support for women’s rights and participation in the political and economic arenas.

This year in commemoration of International Women’s Day, Australian Volunteers International (AVI) alongside Komnas Perempuan will host a public discussion that will focus on the issue of public involvement and support for the elimination of sexual violence.

Violence against women is a serious problem in Indonesia and unfortunately it is on the rise. Komnas Perempuan noted that in 2015, 321,752 cases of violence against women were recorded across the country. Sexual violence is a major issue in Indonesia, with studies showing that on average, each day 35 women fall the victim of this kind of abuse. There is not doubt that serious change is needed to address the issue. We believe change must come from both law makers, and enforcers of the nation as well as civil society itself.

International Women’s Day serves as the perfect opportunity to reaffirm and increase commitment to eliminating sexual violence and gender based violence from the local and international community.

As celebrations and numerous events are held simultaneously across the globe, we recognise how many battles have been won in the fight for women’s rights and justice globally, however, we also recognise that we must continue our fight and campaign against intolerance, segregation, oppression and inequality.

In the wise words of Gloria Steinhem, “The story of women’s struggle for equality belongs to no single feminist nor to any one organization but to the collective efforts of all who care about human rights.”

As modern day Suffragettes both female and male let us continue the work and spirit of the almighty Suffragettes, fighting the good fight. And let us recognize, honour and celebrate the important and impressive achievements of women globally.

4B: Bergizi, Beragam, Berimbang, Bersih

Syukur kepada Tuhan YME yang selalu hadir menyertai, mencukupkan, dan memampukan setiap detil perjalanan kampanye Hari Sahabat Anak (HSA) sepanjang tahun 2016. Tema mengenai gizi sendiri awalnya terasa sebagai ‘makanan asing’ yang perlu kami promosikan kepada masyarakat, anak-anak dan orangtua di Indonesia, khususnya yang berlatar-belakang sosial ekonomi menengah ke bawah atau marginal. Mengapa asing? Hal ini dikarenakan panitia inti yang terbentuk di awal tidak memiliki pengalaman dan bahkan tidak punya pengetahuan yang memadai tentang gizi. Namun melihat fenomena yang terjadi di masyarakat, rasanya pesan ini penting untuk dikemas menjadi sesuatu yang enak dan mudah dicerna bagi yang menerimanya.

Bergizi. Proses kampanye ini dari awal persiapan hingga akhir bisa dikatakan adalah sebuah menu makanan yang bergizi. Bergizi salah satu indikasinya adalah makanan yang dimakan membuat tubuh fit dan dapat beraktivitas dengan optimal. Awalnya sempat ragu dengan target yang ditetapkan tapi ternyata setiap ‘suapan’ atau proses yang dilakukan tidak membuat orang-orang yang mengerjakannya jatuh sakit dan bahkan sebaliknya, bisa tetap memiliki tenaga dan ide-ide serta semangat hingga akhir.

Beragam. Keberlangsungan program ini benar-benar berkat campur tangan berbagai pihak dengan latar belakang yang beragam. Di internal kepanitiaan sendiri, keterbatasan yang awalnya dirasakan karena minimnya wawasan tentang gizi kemudian terisi oleh teman-teman pakar gizi dan kesehatan yang secara sukarela membagikan ilmunya dan menyusun materi kampanye. Pun pihak yang mendukung program ini bervariasi, mulai dari perusahaan, komunitas, sekelompok teman bermain, keluarga, hingga individu turut serta ambil bagiannya masing-masing sesuai kapasitasnya. Tentunya citarasa paling kuat dan menjadi tidak bosan untuk dinikmati adalah karena kerjasama yang diberikan terutama oleh kakak-kakak pengurus dan juga teman-teman panitia HSA 2016.

Berimbang. Bersyukur sekali karena kerinduan untuk menyebarkan pesan ini tidak hanya dirasakan oleh komunitas binaan SA atau mitra-mitra di Jabodetabek melainkan dapat disebarkan dan dinikmati juga oleh anak-anak dan masyarakat di 31 area di Indonesia, mulai dari Sumatera Utara, Palangkaraya, Jawa, Sumbawa, hingga ke Papua. Meski sudah memiliki materi pokok, tetapi bentuk kegiatan dan materi yang disampaikan sedapat mungkin porsinya disesuaikan dengan karakteristik area yang didatangi agar benar-benar tepat sasaran.

Bersih. Tulisan yang dibuat dalam laporan ini adalah bentuk pertanggung-jawaban kami kepada Yayasan Sahabat Anak, masyarakat, serta pihak-pihak yang selama setahun kemarin telah bersama-sama mengupayakan pemenuhan hak anak untuk mendapatkan makanan yang sehat dan bergizi. Ada beberapa area yang memang tidak sempat didokumentasikan ke dalam bentuk tulisan tetapi semoga hal-hal yang disampaikan dalam laporan ini memberikan gambaran yang jelas tentang apa yang sudah dikerjakan lewat program kampanye ini. Kami juga bersyukur karena sekalipun kampanye ini sudah selesai, beberapa area lokal berinisiatif melanjutkan gerakan ini di tempatnya guna memenuhi hak anak untuk mendapatkan makanan yang sehat dan bergizi.

KEPANITIAAN HSA 2016

Pembina                             : Alles Saragi

Steering Committee       :

–        Dian Novita

–        Simbur Hasibuan

–        Hanna Tresya

–        Frisca Hutagalung

–        Theresia Tobing

–        Francisca Tuning

Koordinator                        : Saskia Rosita Indasari

Wakil koord. Sekretaris  : Fadhillah Falaah

Bendahara                            : Mery (Staf Keuangan SA)

Humas                                   : Ari Muci dan Sri Haryati (Staf Humas SA)

Publikasi                               : Vidia Paramitha

Acara                                      : Indriyaningsih, Nurayu

Tim Materi                            :

–        M. Renandra Ichansyah

–        Yunita

–        Imelda C Purba

–        Sari

–        Ezria Adyas

–        Sandra

panitia

Enter a caption

“There’s no an instruction manual on how to deal with success, so you just have to rely on having great friends and a good team.”

-Bryan Adams

 

Rangkaian Kegiatan HSA 2016

(Februari 2016 – Januari 2017)

I.  PRA KEGIATAN

roadshow

Setelah tema “Gizi untuk Prestasi” disampaikan kepada panitia yang terbentuk, kami mencoba melakukan Brain Storming mengenai materi gizi apa yang tepat untuk diberikan kepada peserta Hari Sahabat Anak. Setelah berdiskusi cukup panjang selama kurang lebih 2 bulan (Februari – Maret), akhirnya konsep 4B (Bergizi, Berimbang, Beragam, dan Bersih) yang dipilih untuk merepresentasikan kampanye Gizi Untuk Prestasi sepanjang tahun 2016 bagi anak-anak Indonesia, khususnya yang berlatar belakang dari keluarga marginal.

Isi konten dari materi Gizi Untuk Prestasi kemudian disusun oleh satu tim yang beranggotakan teman-teman dengan latar belakang Ilmu Gizi dan Kesehatan Masyarakat, yaitu: M Renandra, Ezria Adyas, Imelda, Sari, dan Yunita. Selain materi, theme song 4B yang dinyanyikan oleh Aditya Aziz dan dibuat oleh Imam Saloso, permainan edukasi berupa kartu-kartu permainan dan ular tangga 4B (terlampir), lalu ada juga booklet untuk dibagikan ke orang tua yang didesain sedemikian menarik untuk mengisi rangkaian kegiatan roadshow.

Pada proses persiapan, panitia juga mengundang 2 orang perwakilan dari setiap area yang sudah dipilih untuk ditawarkan program kampanye “Gizi untuk Pestasi” ini. Sosialisasi pun dilakukan kepada area-area yang diundang dan momen tersebut juga dimanfaatkan untuk memberikan form data karakteristik area yang perlu diisi. Panitia juga mencari informasi ke setiap area yang akan didatangi untuk mendapatkan gambaran isu atau permasalahan sehingga diharapkan materi yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan area tersebut. Seluruh area, baik komunitas binaan Sahabat Anak maupun mitra patut diapresiasi karena sangat kooperatif dalam proses persiapan dan juga pelaksanaan hari H. Sumber daya yang terlibat baik untuk pemandu acara (MC) dan juga fasilitator sedapat mungkin turut melibatkan peran serta volunter area yang bersangkutan.

II.  ROADSHOW

Kegiatan kampanye “Gizi untuk Prestasi” yang menyasar baik anak-anak marginal usia (pra) sekolah hingga remaja dan juga orang tua sebagai peserta telah dilakukan di 31 area di beberapa wilayah di Indonesia seperti di Sumatera Utara (8 area), Jakarta (9 area), Bekasi (3 area), Bogor, Cirebon, Tasikmalaya, Kudus, Yogyakarta (2 area), Malang (2 area), Sumbawa, Palangkaraya, dan Timika Papua.

peta.jpg

Ket: Peta penyebaran roadshow “Gizi untuk Prestasi” di Indonesia sepanjang tahun 2016

Berikut gambaran area yang berpartisipasi dalam program ini beserta gambaran jumlah peserta baik anak-anak orang tua/wali, guru atau pendamping (volunter) yang telah mendapatkan edukasi “Gizi untuk Prestasi”:

untitled

KESIMPULAN

Dengan dilakukannya program kampanye pemenuhan hak anak untuk mendapat makanan yang sehat dan bergizi lewat “Gizi untuk Prestasi’ di sepanjang tahun 2016, edukasi telah dilakukan kepada lebih dari 3.000 anak dan lebih dari 500 orang tua dari masyarakat marginal di beberapa wilayah di Indonesia. Keterlibatan orang tua sebagai peserta dan menerima pemahaman tentang pentingnya makanan bergizi merupakan upaya optimalisasi peran orang tua dalam pemenuhan hak anak. Pelibatan masyarakat luas juga diwujudkan lewat pelibatan komunitas-komunitas lokal dan pendamping lokal untuk menyelenggarakan kampanye “Gizi untuk Prestasi” di areanya masing-masing, pelibatan masyarakat luas dalam mendonasikan kalorinya lewat program Fitbar Donor Kalori dan juga program donasi Rp 50.000 untuk satu set kotak makan dan botol minum, ataupun pelibatan dalam bentuk pikiran dan juga tenaga dengan menjadi fasilitator ketika kegiatan berlangsung.

 panitia2

Ket:  Bersama Kakak-kakak lokal usai Sosialisasi hasil roadshow tahap 1

Panitia HSA 2016 mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada:

Tuhan Yang Maha Esa atas setiap anugerah dan penyertaanNya

Kakak-kakak Pengurus, Pembina, dan Staf operasional SA

PT Sanghiang Perkasa (Kalbe Nutritionals) lewat program Fitbar Donor Kalori

Bain Indonesia, Lions Club, Indokasih.com, KokikuTV

Kakak-kakak lokal: RBS, Sobat Missil3, KDM, SA Manggarai, SA Grogol & Cengkareng, SA Cijantung, Terminal Hujan, Bimbel Jati Asih, Hore, SA Kota Tua, SA Gambir, Gubuk baca Lentera Negeri (GBLN) Malang, Lebah Ceria Community Jogja, Persatuan Bonapasogit, Perkumpulan Batak Kuala Kencana (PBKK), Komunitas Payung Hati Anak Tasikmalaya, KI Babagan Cirebon, Klinik Natalie Palangkaraya, Pengurus Yayasan RA Matholi’Ul Hija Kudus (Kak Ibus dan keluarga), Kak Aditi Sumbawa, Yayasan Al-Kahfi Bekasi, SA Rusunawa Cakung, dan SA Tanah Abang

Tim Kesehatan, Tim Humas Sahabat Anak & Panitia JSA XX

 Teman-teman Ahli Gizi (alumni IPB, UGM) sebagai Tim Materi, pembuat alat peraga, booklet juga sebagai Pemateri (Sari, Yunita, Andra, Imelda, Sandra, Ezria)

Koh Philip Triana & Cik Julie Tane untuk video animasi 4B yang berdetak!

Vina Puspita untuk logo “Gizi untuk Prestasi”

Yunita Kosen untuk design poster, banner, spanduk 4B

Michelle Panggabean untuk desain Ular Tangga 4B

Imam Saloso & Aditya Aziz untuk Lagu 4B

Kak Sam & Kak Disi untuk Tepuk 4b, gerakan lagu 4B dan MC langganan di roadshow

Seluruh kakak-kakak volunter, masyarakat yang sudah berpartisipasi baik langsung maupun tidak langsung lewat dukungan semangat, tenaga, doa, ide, dan juga materil; serta para peserta (kepala sekolah, guru, orang tua, adik-adik) yang bersemangat, mau berbagi, dan sama-sama mau belajar tentang hidup yang lebih sehat.

Terima kasih. Kiranya semua selalu diberkati dan dicukupkan dengan makanan yang bergizi, berimbang, beragam dan bersih setiap hari.

Salam 4B!

Keluargaku selalu mengajarkan 4B

Bergizi, beragam, berimbang, dan juga bersih

Ayo kawan kita terapkan hidup 4B

Agar tubuh kita bersih dan sehat selalu, Hey!

-Kutipan lirik lagu 4B-

 

Demikian report sederhana ini kami buat. Selamat menikmati!

 

 

Salam 4B untuk anak Indonesia yang berprestasi,

Saskia Rosita Indasari

-Koordinator HSA 2016-

%d blogger menyukai ini: