Monthly Archives: September 2013

Treble The Learning Through Selfless Acts of Giving

On every Saturday you will find about 15 children from Pusat Kegiatan Anak (PKA) meeting in a small park and then walking down the shady backstreets of Pramuka. Where are they going? To attend music lessons and their lessons are free.

They are learning Suwe Ora Jamu, a traditional folk song on the pianika, a small keyboard powered by air. Their instructor has been hosting these lessons in his home for nearly a year, providing lunch and a drink for them also. The children are all identified as street children, without access to main stream education.

Felix, the instructor, along with his sister Cika and his friend, Adi give their time and money to help these children learn skills they wouldn’t have access to normally. The children recently performed at the Sahabat Anak Jamboree in front of over 1500 people.

While they arrive and their teacher gets ready, one boy picks up a guitar, strumming softly and singing. It is obvious; some of them have talent already.

RizkyTheir first attempt at this song means the room breaks into a cacophony of competing noise that spills out onto the street. The sound is somewhat like an orchestra warming up in the pit before a performance but the setting and the players are vastly different. The noise clashes in the tiny room but the lesson progresses as they begin to get the timing right.

They learn, one bar at a time until by the end of the lesson, they as a group are producing a half decent rendition of the folk song. Along the way the teacher adds in the bass chords on the keyboard which throws them all into chaos for a little while but soon they are back in unison.

Over the past year, they have been taught guitar and vocals as well.

There are so many children in this country that need the opportunity and guidance of adults around them, to provide them with good examples in life. Many are caught in the cycle of begging that can flow from one generation to the next. And that is no life.

The Saturday’s that Felix, his family and friends dedicate to helping those less fortunate is an admirable action one that will serve these children well, not just in knowing how to play music but in the act of giving, compassion and education.

Jakarta should give Felix and friends a standing ovation for caring for her marginalised children.


Makna Mendalam dalam Kelas Musik

Setiap hari Sabtu, sahabat dapat melihat sekitar  15 adik dari Pusat Kegiatan Anak (PKA) berkumpul di taman kecil dan berjalan menyusuri  jalan Pramuka yang teduh. Kemanakah mereka akan pergi? Mereka akan mengikuti kelas musik.

Kali ini mereka mempelajari lagu  Suwe Ora Jamu dan memainkannya dengan pianika. Pelatih musik mereka adalah seorang voluntir yang hampir satu tahun telah mengajarkan musik di rumahnya. Bukan hanya memberikan pelatihan musik, tetapi juga menyediakan makan siang  dan minuman untuk adik-adik PKA.

Felix, seorang pelatih, bersama dengan adiknya Cika dan temannya, Adi memberikan waktu dan uang mereka untuk mengajarkan musik adik-adik PKA yang tidak memiliki akses pendidikan secara formal ini. Pada Jambore Sahabat Anak 2013 lalu, adik-adik PKA mendapat kesempatan untuk tampil di depan lebih dari 1500 orang.

RizkySementara para guru mempersiapkan diri untuk memulai kelas, salah seorang adik laki-laki mengambil gitar, memetiknya  dengan lembut, dan bernyanyi. Hal ini terlihat bahwa  beberapa dari mereka sudah memiliki talenta dalam bermusik.

Ada begitu banyak anak marjinal di negeri ini yang memerlukan kesempatan dan bimbingan dari orang–orang di sekitar mereka, untuk memberikan mereka contoh yang baik dalam hidup.  Banyak dari mereka yang terjebak dalam siklus mengemis dan hal tersebut dapat terus berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Hari Sabtu  yang di dedikasikan oleh Felix, keluarga dan teman-temannya untuk melayani adik-adik dengan baik, bukan hanya untuk mengetahui bagaimana memainkan musik, tetapi juga dalam tindakan memberi, kasih sayang dan pendidikan.

Jakarta seharusnya memberikan sambutan yang baik kepada Felix dan teman-temannya atas kepeduliannya kepada anak-anak marjinal.

Help Yourself While Helping Others

Does your conscience ever get you thinking about helping those less fortunate than yourself? Wishing you could do more but juggling family and work commitments as well as dealing with the travel issues of Jakarta take up all your time.

But, what if you don’t have to do anything different? Maybe, just doing what you always do but with one different choice. Would you? What if it was as simple as getting your air conditioner serviced?

Sahabat Mandiri

The grime of city living means you should be servicing them regularly. If it isn’t on your list of regular household maintenance, all you have to do is see the filters before they get cleaned.

Sahabat Anak is a name synonymous with helping street children. In 2011 we established a small business for some of the older street children to run themselves giving them an avenue for employment and a better future.

This organization is known as Sahabat Mandiri and their business in in repairs, maintenance, cleaning, servicing, installation and spare parts of air conditioners.

If you are time poor but want to help a little this is the perfect solution—helping with social problems while looking after your own needs. Offering a 30 day service guarantee, Ujang and Septian are standing by ready to take your call.

Contact them through or call 021 -3271 7111



Sejukkan Ruangan dan Menolong Sesama

Sahabat, apakah hati nurani mu tergerak untuk dapat menolong orang-orang yang kurang beruntung? Berharap untuk dapat memberikan sesuatu yang berguna namun terbatasi oleh komitmen kerja dan keluarga serta masalah perkotaan di Jakarta seperti kemacetan yang menyita banyak waktu mu?.

Bagaimana jika Sahabat dapat memberikan sesuatu bagi orang-orang yang kurang beruntung tersebut, tanpa perlu untuk mengalokasikan waktu dan komitmen khusus. Maukah Sahabat? Bagaimana jika sahabat dapat membantu hanya dengan memanggil orang untuk merawat alat penyejuk ruangan (air conditioner / AC) sahabat?

Salah satu dampak dari panasnya udara kota Jakarta adalah penggunaan AC yang tanpa henti. Oleh karena itu, penting untuk merawat AC secara rutin agar dapat tetap berfungsi dengan baik.  Jika perawatan AC tidak termasuk dalam anggaran rutin rumah tangga para sahabat, yang anda perlu dilakukan adalah memeriksa filter AC untuk memastikan apakah AC perlu dibersihkan atau tidak.

Sahabat Mandiri

Sahabat Anak adalah suatu gerakan sosial yang telah konsisten membantu anak-anak jalanan. Pada tahun 2011, kami mendirikan suatu bidang usaha dan lapangan kerja bagi adik-adik binaan yang telah tumbuh dewasa,agar mereka dapat menghidupi diri mereka sendiri dan memperoleh masa depan yang lebih baik

Salah satu bidang usaha tersebut dikenal dengan nama Sahabat Mandiri, bidang usaha ini melayani untuk memperbaiki, merawat, memasang dan membersihkan AC.

Jika para sahabat tidak memiliki cukup waktu untuk terlibat langsung dalam menolong adik-adik binaan ini, maka ini adalah kesempatan baik bagi para sahabat untuk dapat berpartisipasi. Dengan menggunakan jasa dari Sahabat Mandiri, sahabat dapat menolong mengentaskan masalah sosial di Jakarta sekaligus merawat AC sahabat.

Sahabat Mandiri dapat dihubungi melalui atau telepon ke 021 -3271 7111, Ujang dan Septian akan siap membantu!

Two Boys’ Journey Finally Leads Them Back To The Right Track


Life for children in Jakarta can end up off track very easily. The systems in place for birth certificates and education means a lot of children fall through the cracks and end up with neither by the time they reach adulthood. This robs them of their rights and entitlements to education, identity and participation.

Recently, two boys who had received scholarships to attend PKA (Pusat Kegiatan Anak – or Children’s Activity Centre) an informal school run by Sahabat Anak, have been successful in returning to the schooling system after years of being out.

The boys have different stories, different backgrounds and different families. For about a year these two boys travelled the same path sharing the same family that would eventually lead them back to the road of education—the place where they belong at their age.

They have a right to their privacy so let’s just call them R and G.

R is a shy, good looking boy, not one for the spotlight. While other kids in his hometown chose crime as a path he didn’t, they played soccer, so he didn’t. Sticking to his morals and values meant he became a bit of a social outcast.

The eldest child in the family, he lost parental attention when three younger siblings came along and his schooling fell by the wayside. His finished school in Grade 5 and was expected to looking after his siblings.

In his hometown he went to the local Sahabat Anak bimbel on Sundays and quickly came to the attention of one of the volunteers. He is a studious and serious boy who needed and deserved a chance at life.

R was given a scholarship to attend PKA  Sahabat Anak’s informal school near Manggarai. He attended daily lapping up the structure and commitment required. He arrived early and left late. He was encouraged to follow his dream and believe in himself. He dreams of being a mechanic.

His third attempt at the package exam, through testing by the school rather than online, found him with an offer to return to school and finish his last three years of education. R is 14.

Then there is G. A totally different child, aged 13. He has a natural ability to be an entertainer. He is easy and confident and has a smile that charms and eyes that twinkle.

Growing up in West Java his family moved to Jakarta when he was in Grade 4. His family didn’t collect his school progress report before leaving and this became a hurdle for his reentry to school in Jakarta.

Like R he had younger siblings so the attention for what he needed waned. His family moved to Klender, an area surrounded by shady dealings, drugs and prostitution in East Jakarta. Not the idea family environment.

A friend convinced G to go singing on the streets for money. His father was conscious of the neighborhood and how it could ruin G’s future if he ended up on the wrong tracks so he was against G singing for money. G was stuck in the middle, being mocked and pressured by his friend and his father being angry because he cared.

G made the right decision. He obeyed his father and stayed home to look after the younger children.  G attended bimbel Koran and was recommended for a scholarship to PKA.

This is where the boys’ paths merged and they become part of a different family, together for about a year.

While at PKA, G took dance classes. He is dedicated and enjoys dance and this is where he sees his future. With his natural talent for entertainment this will be a solid path to follow.

His reentry to the school system is through SMP Ibu Pertiwi. Through here he will sit his final certificates with other schools.

Both of these boys could have had very different outcomes in their lives but they are finally on a track that leads to a better future.

The hard work of organizations such as Sahabat Anak and SMP Ibu Pertiwi give children who have fallen through the cracks a shot at being the best they can be with access to the things they deserve as children.

Perjalanan Dua Anak Untuk Kembali ke Sekolah


Hidup bagi anak-anak di Jakarta sangatlah riskan, mudah bagi mereka untuk kehilangan masa depannya. Kelemahan dari  sistem yang mengurusi akte kelahiran dan pendidikan berdampak pada cukup banyaknya  anak-anak yang tersisih dan berakhir tanpa akte lahir dan pendidikan . Kondisi ini merebut hak mereka atas pendidikan, identitas, dan partisipasi.

Akhir-akhir ini terdapat dua anak yang mendapatkan beasiswa PKA (Pusat Kegiatan Anak), sebuah sekolah informal yang dikelola oleh Sahabat Anak. PKA telah berhasil mengembalikan anak-anak yang putus sekolah untuk dapat kembali menerima pendidikan.

Kedua anak ini memiliki kisah, latar belakang, dan keluarga yang berbeda. Selama kurang lebih satu tahun, kedua anak ini menjalani kisah yang sama, berbagi seperti keluarga. Semuanya ini akan membimbing kedua anak ini ke tempat mereka yang seharusnya, yaitu ke sekolah.

Untuk menghargai privasi mereka sebut saja dua adik-adik ini sebagai R dan G.

R adalah seorang yang pemalu, cukup tampan, namun tidak menarik perhatian. Sementara anak-anak sebaya di lingkungannya memilih untuk melakukan tindakan kriminalitas sebagai jalan hidup mereka, namun tidak sama halnya dengan R. Ketika anak-anak lainnya bermain sepak bola, R tetap berpegang teguh dengan pendirian dan  nilai-nilainya, hal ini menjadikan R tersisihkan secara sosial dari lingkungannya.

R merupakan anak sulung, memiliki tiga adik, keadaan ini mejadikan orang tua R kurang memberikan perhatian pada R, dan sebagai dampaknya pendidikan R terbengkalai.  Pendidikan R terhenti di kelas 5 SD dan semenjak itu R mulai mengasuh adik-adiknya.

R sering mengikuti bimbel di Sahabat Anak Manggarai pada hari minggu, dan kondisnya mendapatkan perhatian dari salah satu voluntir. Kemudian diketahuilah bahwa R adalah anak yang serius dan rajin belajar serta layak untuk mendapatkan kesempatan kedua dalam pendidikan. R mendapatkan beasiswa untuk mengikuti PKA Sahabat Anak, sebuah sekolah informal di Manggarai. R menunjukan komitmennya dan tidak pernah membolos, dia datang lebih awal dan pulang lebih larut. R didorong untuk lebih percaya diri dalam mewujudkan cita-cita dan mimpinya menjadi seorang mekanik.

Di upaya ketiganya dalam mengikuti ujian penyetaraan, R mendapatkan tawaran untuk dapat kembali bersekolah dan menyelesaikan tiga tahun pendidikan selanjutnya. R sekarang ini berumur 14 tahunSedangkan G, adalah anak yang memiliki sifat yang jauh berbeda dari R. G berumur 13 tahun, dia memiliki bakat untuk menjadi seorang entertainer. G adalah anak yang gampang bergaul dan percaya diri, dia anak yang ramah senyum dan memiliki mata yang berbinar-binar.

G tumbuh besar di Jawa Barat, dan masih berada di kelas 4 ketika keluarganya pindah ke Jakarta. Keluarga G tidak membawa rapor G di sekolah sebelumnya ke Jakarta dan hal ini menjadi penghambat bagi G untuk melanjutkan pendidikannya.

Seperti halnya R, G juga memiliki adik-adik, sehingga perhatian orang tua kepadanya tidaklah terpenuhi. G berserta keluarga tinggal di Klender, Jakarta Timur yang tidak ideal untuk keluarga.  Karena terkenal kumuh dan rawan kejahatan.

Teman-teman di lingkungannya membujuk G untuk menjadi pengamen jalanan. Namun Ayah G menyadari bahwa lingkungan dapat membawa dampak yang buruk bagi masa depan G, sehingga Ayah G melarang G untuk mengamen. Diantara dua pilihan ini, G terjebak di tengah-tengah, teman-temannya menekan dan menghinanya serta ayahnya keras padanya karena peduli.

Akhirnya G membuat keputusan yang benar, dia turut pada perintah ayahnya dan diam dirumah mengasuh adik-adiknya. G mengikuti Bimbel Koran di area Klender dan mendapat rekomendasi mendapatkan beasiswa di PKA.

Disinilah kisah kedua anak ini bertemu dan mereka menjadi bagian dari sebuah keluarga baru, dan selama satu tahun mereka menjalaninya secara bersama-sama.

Di PKA, G mengambil kelas menari. G memiliki dedikasi dan menikmati dalam menari, dan dengan menarilah G melihat masa depannya. Dibekali dengan bakat alaminya, menjadi penari akan menjadi jalan yang pantas ditempuh oleh G.

G kembali mengikui pendidikan di SMP Ibu Pertiwi. Di sekolah inilah G akan mendapatkan ijasah untuk melajutkan pendidikan selanjutnya.

Nasib dari kedua anak ini bisa saja berbeda, namun kini mereka berada di jalan yang benar untuk membimbing mereka ke masa depan yang lebih baik.

Kerja keras dari badan-badan sosial seperti Sahabat Anak dan SMP Ibu Pertiwi memberikan kesempatan bagi anak-anak yang terhilang dan tersisihkan untuk mengembangkan bakat mereka dan mendapatkan akses pendidikan yang layak mereka dapatkan.


%d blogger menyukai ini: