Monthly Archives: September 2015

A Beautiful Togetherness at Sahabat Anak Jamboree XIX

“The bond that links your true family is not one of blood, but of respect and joy in each other’s life.” – Richard Bach

 JSA XIX (1)

 

Sahabat Anak held its 19th annual Jamboree (JSA XIX) at Ragunan Camping Ground on 29 – 30 August 2015, with the theme of “I Love My Family”. The Jamboree was a 2 day-1 night camping event filled with various educational activities.

The event was also the conclusion to a campaign run by Sahabat Anak, which was driven by the fact that family is the best agent to fulfil children’s rights. Leading up to the Jamboree, Sahabat Anak, through a team of Family Mentors (KPK), had conducted socializations and provided intensive guiding to families of Jamboree participants. The team visited the families to help them find solutions to problems faced by parents, their children and other family members.

The friendship woven between the KPK team and parents during the visits, and between the mentors and the kids during the series of JSA XIX activities, has promoted the understanding of the role of family in the fulfilment of children’s rights. JSA XIX was participated in by 600 kids from 23 areas of greater Jakarta (Jabodetabek), 300 mentors, and 200 committee personnel and helping team. Together, they created a deeper meaning of togetherness during the event.

 

A different concept

JSA XIX (6)

Based on the theme “I Love My Family”, all the activities and games held during the Jamboree were about togetherness and the meaning of family, with all members of each tent taking part in every game. This was different to last year’s Jamboree – last year, all games were a competition between tents.

One of the most exciting games was Moving Mountain: a mentor is asked to get on a piece of tarpaulin, and then he/she is lifted and carried by some of the kids to the finish line. Trust, teamwork, and good cooperation are essentials in order to reach the finish line. Those are also the essentials for building a happy family.

The kids also partook in an activity called Tenda Aspiradi (Aspiradi Tent). Together with the mentors, the kids were asked to confide to each other about their families and write their thoughts down on the tree of hope. There were some touching lines written by the kids. Nur, from Grogol, wrote that she wants to get a Bachelor’s degree and get a job, so that her parents can enjoy their old age without working anymore. Adul, from Buaran, wrote that he wants his mother to quit smoking, so that she won’t get sick and will be able to take care of him. Some people who read these wishes shed a tear.

It would not be a complete Jamboree if the kids were not invited to have fun in the evening during stage performances. The Jamboree evening stage always looks like a fancy concert. All the kids and their mentors gathered in the middle of the field to dance, sing, and enjoy a funny and entertaining magic show. Some kids from several areas got a chance to show their dancing skill on stage. The spirit of togetherness and excitement was in the air that night.

Hundreds of flowers as a sign of love

Two days and one night never seem like enough for the kids and their mentors; but, a goodbye must be said. A beautiful farewell was organised by the committee as a thank you for the tent coordinators and all mentors for all their work over the past three months. All the mentors and the kids were encouraged to meet again in the tutorial areas.

JSA XIX (4)

During the closing ceremony, hundreds of flowers were secretly distributed to the kids for them to give to their tent coordinators and mentors. Many became quite emotional as they received their flowers, hugging as if they wouldn’t let their togetherness end. The atmosphere was even more moving when they were asked to embrace each other while singing a song Sahabat (Best friend) from Lumier.

“Best friend, you are the one who is always there; you are the one who is always faithful. I will be there, I will be on your side, I will be faithful. You and I, will never be apart.”

Thank you for the unforgettable 2 days of togetherness, Friends! Thank you to all the committee who have worked very hard for about six months to prepare the Jamboree; the supporting Friends who have donated money, food, gifts, equipment; and the media who have spread the spirit of the “I Love My Family” campaign.

See you all again next year!

(Dina Disi Siahaan)

Iklan

Kebersamaan yang Indah di Jambore Sahabat Anak XIX

“Ikatan keluarga sesungguhnya bukan hanya karena mereka sedarah, namun karena mereka saling menghargai dan menciptakan kebahagiaan satu sama lain.” –Richard Bach-

JSA XIX (1)

Untuk ke-19 kalinya, Yayasan Sahabat Anak kembali mengadakan Jambore Sahabat Anak (JSA) di Buperta Ragunan pada 29-30 Agustus 2015 lalu. Acara yang diisi dengan berbagai kegiatan edukatif dan camping selama 2 hari 1 malam ini mengusung kampanye bertema “Kucinta Keluargaku”. Kampanye tersebut digaungkan oleh Yayasan Sahabat Anak, karena mereka menyadari bahwa keluarga merupakan agen paling optimal untuk memenuhi hak-hak anak.

Sebelum kegiatan JSA XIX dilaksanakan, Yayasan Sahabat Anak melalui tim KPK (Kakak Pendamping Keluarga) juga telah mengadakan sosialisasi dan pendampingan intensif kepada keluarga-keluarga peserta jambore. Mereka mengunjungi keluarga tersebut untuk berbagi dan membantu mencarikan solusi terhadap masalah-masalah yang dihadapi antara orangtua dengan anak, juga anggota keluarga lainnya.

Persahabatan yang terjalin antara tim KPK dengan orangtua selama kunjungan dan kakak pendamping bersama adik ketika mengikuti rangkaian acara JSA XIX diharapkan dapat membantu mereka untuk memahami peran keluarga dalam pemenuhan hak-hak anak. JSA XIX diikuti oleh 600 adik yang berasal dari 23 area di Jabodetabek, 300 kakak pendamping, dan 200 sahabat panitia, serta tim kerja yang turut menanamkan makna kebersamaan dalam acara ini.

Konsep yang Berbeda

JSA XIX (6)Sesuai dengan tema kampanye “Kucinta Keluargaku”, seluruh kegiatan yang dilakukan di JSA XIX pun lebih menekankan pada kebersamaan dan arti sebuah keluarga bagi adik-adik peserta bersama kakak pendampingnya. Ini tentu berbeda dengan tahun sebelumnya, di mana setiap permainan dilakukan dalam bentuk kompetisi antar tenda. Kali ini, semua permainan hanya dilakukan oleh 1 tenda saja dengan melibatkan seluruh anggota timnya.

Salah satu permainan yang paling seru adalah Memindahkan Gunung. Dalam permainan ini, seorang kakak pendamping diminta untuk naik ke atas terpal, kemudian diangkat oleh beberapa adiknya dari garis start ke finish yang sudah ditentukan panitia. Rasa saling percaya, kekompakan, dan kerja sama pun dibutuhkan untuk dapat menyelesaikan permainan ini dengan baik. Sama dengan hal-hal yang dibutuhkan untuk membentuk sebuah keluarga yang bahagia.

Selain itu, ada pula kegiatan yang bernama Tenda Aspirasi. Di sini, adik-adik bersama kakak pendamping diminta untuk saling mencurahkan isi hati mengenai keluarga mereka dan menuliskannya di dalam pohon harapan. Berbagai kalimat menyentuh ditorehkan oleh adik-adik, seperti Adik Nur dari area Grogol yang ingin menjadi sarjana dan mendapat pekerjaan, sehingga ayah-ibunya bisa menikmati masa tuanya tanpa harus bekerja. Ada pula Adik Adul dari area Buaran yang ingin ibunya berhenti merokok, agar tidak sakit-sakitan dan bisa terus menjaganya. Tidak sedikit yang meneteskan air mata saat membaca harapan-harapan mereka.

Tidak lengkap rasanya kalau adik-adik tidak diajak bergembira bersama di malam panggung hiburan yang selalu tampak layaknya sebuah konser megah. Semua adik dan kakak pendamping pun berkumpul di tengah lapangan untuk bergoyang, bernyanyi, serta menikmati penampilan sulap yang lucu dan menghibur. Adik-adik dari beberapa area juga berkesempatan untuk menunjukkan kebolehan dance mereka di panggung JSA XIX ini. Semangat kebersamaan dan kegembiraan benar-benar terasa di malam itu!

 Ratusan Bunga Tanda Kasih
Waktu 2 hari 1 malam rasanya memang tidak akan cukup bagi adik-adik dan kakak pendamping untuk menikmati kebersamaan mereka, tetapi perpisahan harus terjadi. Sebuah perpisahan yang indah pun disiapkan oleh panitia sebagai ucapan terima kasih atas kerjasama para PJ Tenda, serta kakak pendamping selama 3 bulan terakhir. Namun, kakak pendamping dan adik-adik diharapkan tetap bisa bertemu dalam kegiatan belajar di setiap areanya.
Di akhir acara penutupan, ratusan bunga telah disebarkan kepada adik-adik secara tersembunyi untuk diberikan kepada PJ Tenda dan kakak pendampingnya. Keharuan pun muncul ketika mereka menerima setangkai bunga cantik dari adik-adik yang didampingi. Tidak sedikit pula adik, kakak pendamping, dan PJ Tenda yang terus berpelukan seolah tidak mau melepaskan kebersamaan mereka. Suasana pun semakin mengharukan ketika mereka diminta untuk berpelukan sambil menyanyikan lagu Sahabat dari Lumier.

Sahabat, kau yang selalu ada, kau yang selalu hadir, kau yang selalu setia. Aku kan berada, aku kan di sisi, aku kan setia, tak kan berpisah kau dan aku.”

JSA XIX (4) 

Terima kasih untuk kebersamaan yang tak terlupakan selama 2 hari ini, Sahabat! Terima kasih juga kepada Sahabat Panitia dan tim kerja yang sudah bekerja keras selama sekitar 6 bulan untuk menyiapkan semua keperluan JSA XIX; Sahabat Pendukung yang telah memenuhi semua kebutuhan dana, konsumsi, hadiah, perlengkapan, dan lainnya; Sahabat Media yang turut menyebarkan semangat kampanye “Kucinta Keluargaku”. Sampai jumpa di JSA tahun depan!

(Dina Disi Siahaan)

The Eldest is Now Becoming Independent

Sahabat Anak (SA) Prumpung was born as one of the follow-up activities of the Street Children Jamboree in 1999. The initial hope was that establishing a tutorial class in the packed slum area in East Jakarta would encourage  regular meetings between the volunteers and the children, and provide a place for knowledge transfer. At the same time, volunteers, children, as well as their parents could get to know one another better. As a result of the tutorial class, FRIENDSHIP was deeply knitted.

SA Prumpung is often called “The Eldest” because it is considered Sahabat Anak’s first tutorial area. SA Prumpung has also frequently been a pioneer in many activities. Programs and volunteers were spread and shared throughout the other tutorial areas after first being “tested” in Prumpung.

It all started with only 20 children, which gradually grew into 250 children – whose parents were street vendors, labourers, toy sellers, and street food sellers. Eventually their once-a-week tutorial schedule became more intensive with classes being held five times a week.

The tutorial programs also became more varied. During each annual evaluation new programs were initiated either by the volunteers or the kids. The kids’ thirst for education kept driving the spirit of the volunteers to transfer their knowledge and experience.

The challenge often faced by SA Prumpung was the turnover of the volunteers. Most of the volunteers were full-time professionals and the schedule of tutorial programs, which were usually held on weeknights (7 – 9 PM), was a challenge. However this did not stop their enthusiasm to meet and teach the kids. Starting with only one tutorial class, they continued establishing new programs; they had skills and language classes and they also opened a library. The library was a response to the kids’ request for access to books that were not merely school books.

The programs were mostly initiated by the SA Prumpung kids themselves. The ideas were generated through quality time spent by the kids with the volunteers. The volunteers helped and guided the kids to discover the things they really wanted. The library was one of the favourite programs of the volunteers and kids. It all started when one of the volunteers who loved to read brought some of her book collections in and started to read them to the kids. With a help from a friend they finally bought one small plastic container filled with books. It became the first collection of books at Sahabat Anak Prumpung. That one small container has now grown into one reading house with books, new and used, which were donated by many friends – schools, local communities and other organisations.

Besides the library, SA Prumpung also has a Gerobak Pintar (Smart Cart), which is a small cart filled with books that is pushed around the village to target other children who have not yet been reached by Sahabat Anak.

Throughout the 15 years of Sahabat Anak Prumpung’s existence a large number of children become role models for Sahabat Anak’s other tutorial areas. Many of us knew, deep in our minds, that one day they would become leaders. We knew that regeneration would carry on, slowly but surely. We knew that one day Sahabat Anak would hand over all the activities to the Prumpung Community to manage independently.

And now the time has finally come. SA Prumpung has grown, become an adult, and allowed the former tutorial kids to take over the administration.

Throughout the last three years, ever since the tutorial teenagers were given the opportunity to become the
administrators, the handover process has been smooth, with the main message being “keep the room clean and tidy.”

It has been a challenge for Sahabat Anak, as a “parent”, to let this “oldest kid” go in terms of the administration, funding, and other technical things. It was not easy because Sahabat Anak has a very strong bond with the kids. However, the longing to see Prumpung be independent was strong. We knew that giving the community the change to take part in raising their own kids was something that we should do.

In sum, (Sahabat Anak) Prumpung is now no longer attached, as an organisation, with Sahabat Anak. The relationship has changed – from Prumpung being a member to being a partner. However there will still be some collaboration programs between the two independent organisations. Both groups will continue to support each other.

Let’s support this small step that we have taken towards the maturing of the Prumpung Community.

Farewell, the Eldest….
Welcome, Partner!

Dear Prumpungers : Be well, do good work, and keep in touch. ~Garrison Keillor

(SIMSIM)

Si Sulung Mandiri Kini….

Sahabat Anak Prumpung lahir sebagai salah satu follow up Jambore Anak Jalanan tahun 1999. Awalnya diharapkan
melalui bimbel (bimbingan belajar) yang hadir di tengah komunitas padat Jakarta Timur itu, intensitas pertemuan antara volunter dan anak meningkat dan tersedia ruang untuk berbagi ilmu. Di saat yang sama, kedua pihak bisa
saling mengenal, juga dengan orang tua mereka. Sehingga PERSAHABATAN sungguh TERJALIN.

SA Prumpung sering disebut Si Sulung karena dianggap area pertama binaan Sahabat Anak. Karenanya Prumpung
kerap menjadi pionir dalam berbagai hal. Mulai dari program hingga volunternya yang kemudian tersebar ke area-area binaan lain setelah “digodok” di Prumpung. Berawal dari hanya 20 anak hingga mencapai 250 anak binaan
yang rata-rata orang tuanya pedagang kaki lima, buruh, penjual mainan, dan pedagang jajanan gerobak/pikulan.
Jadwal belajar yang tadinya hanya seminggu sekali menjadi intensif 5 kali seminggu.

Program belajar pun kian variatif. Setiap tahun ketika evaluasi program, ada saja program baru yang dilontarkan oleh volunter ataupun adik-adik. Kehausan mereka akan pendidikan, kian memompa semangat kakak volunter untuk terus membagikan ilmu dan pengalaman kepada adik-adik.

Tantangan klasik yang pernah dihadapi SA Prumpung adalah turn over volunter yang semuanya kaum pekerja. Program belajar yang diadakan pada hari biasa usai jam kerja, yakni pukul 7-9 malam, menjadi tantangan yang tidak serta merta menghambat niat para volunter untuk bertemu adik binaan. Dari yang awalnya hanya bimbel,
program-program terus berkembang. Ada kelas ketrampilan dan bahasa, kemudian dihadirkan perpustakaan. Ini
untuk menjawab permintaan adik-adik mendapatkan akses buku-buku selain buku sekolah.

Ide program-program SA Prumpung sebagian besar datang dari adik-adik sendiri. Ide tersebut muncul dari quality
time yang dihabiskan volunter dan adik. Kakak tinggal mengarahkan untuk bisa menemukan apa sebenarnya yang menjadi keinginan terdalam mereka. Demikian juga ceritanya dengan Perpustakaan Prumpung sebagai salah
satu program favorit kakak dan adik. Awal mulanya ketika salah satu volunter yang gemar membaca sering membawa buku-buku koleksinya dan membacakan untuk adik-adik. Atas bantuan satu temannya, dibelilah 1 kontainer kecil buku bacaan sebagai koleksi perdana SA Prumpung. Kini 1 kontainer kecil sudah berkembang
menjadi 1 rumah bacaan yang buku-bukunya berasal dari sumbangan para sahabat, entah itu buku baru atau buku
bekas yang dihibahkan dari sekolah, komunitas atau lembaga.

Selain perpustakaan yang ada di Rumah Belajar, muncul Gerobak Pintar, yakni membawa gerobak berisi buku-buku
bacaan yang dibawa keliling kampung dengan target anak-anak yang belum terjangkau.

15 tahun usia SA Prumpung, memampukannya mencetak adik-adik binaan yang menjadi teladan bagi area binaan Sahabat Anak lainnya. Sering terlintas di pikiran kami bahwa suatu saat adik-adik akan menjadi pemimpin. Bahwa
regenerasi akan terjadi, perlahan namun pasti. Bahwa suatu saat, Sahabat Anak akan menyerahkan kegiatan di Rumah Belajar Prumpung ke Komunitas Prumpung  untuk dikelola swadaya. Dalam 3 tahun terakhir, sejak adik-adik binaan usia remaja mulai diberi kesempatan menjadi Pengurus, peralihan deskripsi kerja ke mereka berjalan baik dengan pesan utama “jaga kebersihan/kerapian ruangan.”

Dan, akhirnya saat itu tiba. SA Pumpung telah dewasa dan memungkinkan anak-anak binaan mengambil alih tongkat estafet dari pengurus sebelumnya. Tantangan kedua, adalah pelepasan Si Sulung dari induknya (Sahabat Anak) sehubungan administrasi, pendanaan, dan hal-hal teknis lainnya.

Mengingat baik Sahabat Anak maupun adik-adik binaan Prumpung memiliki ikatan kuat, hal ini tidaklah gampang dilakukan. Tapi keinginan untuk melihat Prumpung mandiri, memberi kesempatan kepada komunitas itu untuk mengambil bagian mengembangkan generasi mereka sendiri di lingkungan mereka sendiri adalah hal yang harus dilakukan. Maka intinya, Sahabat Anak Prumpung tidak terikat lagi secara organisasi dengan Sahabat Anak. Hubungan yang tadinya anggota, telah berubah menjadi mitra. Masih ada beberapa program yang merupakan kerjasama kedua belah pihak secara independen. Keduanya tetap saling dukung dan saling membangun satu sama
lain.

Mari kita dukung langkah kecil menuju kedewasaan (community development) bagi Komunitas Prumpung.
Selamat jalan, Sulung….
Selamat datang, Mitra.

Dear Prumpungers : Be well, do good work, and keep in touch. ~Garrison Keillor

(SIMSIM)

%d blogger menyukai ini: