Category Archives: Tas Untuk Sahabat

Laporan Program “Tas Untuk Sahabat” 2015

Bag for Malunda

 

Sahabat,

Receiving Children

Program “Tas untuk Sahabat” yang telah dilaksanakan sejak Maret 2015 dan diakhiri per Oktober 2015 lalu telah berjalan dengan baik. Kami mengucapkan terima kasih kepada sahabat yang ikut berpartisipasi. Donasi 100 ribu untuk 1 tas dari Anda telah disampaikan kepada anak-anak mitra Sahabat Anak yang menjadi target penerima – baik di area Jakarta dan sekitarnya, serta anak-anak di area terpencil nusantara.

Bags being transported

Penyaluran dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari sahabat yang sengaja traveling ke daerah yang kebetulan berdekatan dengan area tempat anak-anak tinggal, atau ada sahabat yang sedang dikirim bertugas ke sana. Bahkan ada yang dikirimkan lewat jalur laut dan bus. Semua ini sulit terlaksana tanpa kerja sama kita semua. Sekali lagi terima kasih.

Program Tas untuk Sahabat ini menjadi program ke-2 Sahabat Anak yang jangkauannya adalah area terpencil. Program Kutu Buku yang dianggap sukses tahun 2014 sebelumnya menjadi acuan kami untuk kembali melakukan program dengan karakteristik serupa, hanya bentuk yang diberikan berbeda. Dengan tujuan mendukung pendidikan maka buku dan tas menjadi pilihan. Berharap dengan adanya pemberian ini, kian memotivasi anak-anak giat belajar, menambah pengetahuan melalui buku dan dengan semangat pergi ke sekolah, membawa buku-buku tersebut di dalam tas sederhana tapi sarat makna.

IMG_1159

Total ada 725 tas dikirimkan ke 8 area terpencil: mulai dari Aceh, Mentawai, Kalimantan, Sulawesi, Lombok,  dan Jawa Timur. Selain itu, pada akhir 2015 ada penyaluran 200 tas untuk 5 area mitra Sahabat Anak.

Klender Partner

Kiranya pemberian sederhana ini boleh menjadi awal yang baik untuk menjalin hubungan jangka panjang dengan teman-teman yang juga menjalankan misi yang sama dengan Sahabat Anak di area terpencil nan jauh di sana. Dan kiranya anak-anak penerima bantuan bisa merasakan dukungan dari sahabat yang telah terlibat untuk mendukung program ini.

Adik2 di Malunda 2

Berikut adalah laporan lengkap area penerima Tas untuk Sahabat.

March – October 2015

Mar-Oct 15

December 2015 – January 2016

Dec-Jan 16

Salam Sahabat,

Simsim Hasibuan

Alat tulis di Malunda

A Story From Batu Ajung, West Kalimantan

We named our community: Love Borneo. It’s a group of young people who has grown spontaneously; doesn’t have any chairperson or board of committee, but we have one vision that unites us, that is to share love to people in need. Our three main focuses are prisons, remote regions, and schools.

Bengkayang 10

We thank Yayasan Sahabat Anak Jakarta for partnering with us in opening Rumah Baca (a reading house / a library) in a remote region of West Kalimantan. The goal of this project is to raise awareness from the local society and its children on how important education is. Sahabat Anak has also supported us in sending 80 school bags filled with stationery to the students of one Elementary School in Batu Ajung village, Dayung, Ledo, Bengkayang, West Kalimantan.

The majority of the people there is Dayak Bekatik tribe. They use their mother tongue in their daily activities and Indonesian language in a formal setting of education. There are 7 teachers in that school, including the principal. Each grade has one teacher who teaches all subjects.

Bengkayang 6

Bengkayang 9

To get to the Batu Ajung village is a long trip. From Pontianak (the capital of West Kalimantan) we will need about four hours with a motorcycle or a car to reach Ledo. Then, from Ledo we can reach Batu Ajung either with a motorcycle or a boat through a river. With a motorcycle, it can take up to 30 minutes ride on yellow soils which also hilly and bumpy. If it rains, the access will totally cut. The common access is by boat through the river that will take about 40 minutes. As soon as we arrived there, we will be greeted warmly by the local children. The village has neither electricity nor cellular signal.

We used a car from Pontianak

We used a car from Pontianak

We used this boat to carry the bags to the village

We used this boat to carry the bags to the village

Bengkayang 8

Most of the locals work as fishermen, rubber farmers, rice farmers, river miners, or laborers at the nearest palm oil plantation. The formal education available in the village is only elementary schools. The junior and senior high schools can only be reached in Ledo which takes about 40 minutes boat ride. Poverty and the challenging access have made the parents and the children (who have taken the elementary level) don’t take formal education seriously.

The village itself is somewhat dirty and filthy. The river which supposedly becomes the source of clean water for the locals has become muddy as the result of gold mining; therefore the water is not drinkable. The villagers usually use the water from the spring or the rain for their daily needs. Their animals’ faeces can also be found all over the village which make it even dirtier. This condition has also made many of the children there have health issues. There are even children who can wear the same shirts for days.

Bengkayang1

The children were lining up to get the bags

The children were lining up to get the bags

Being moved by the condition, the Love Borneo team has decided to help the villagers understand on how important to set their eyes on a better live and brighter future. We are committed to go to the village once a month (on the last weekend each month). Our team usually depart from Pontianak at 5 a.m. and continue with a boat at 10:30. During our time in the village, we give free Math and English lessons for students’ grade 3 to 6. For students’ grade 1 to 2, we teach them reading and basic counting. Some of our team members are professional nurses, and they are also willing to give a free health medication to the villagers. We stay overnight at the village and go back to Pontianak the next day because we have to work on Monday.

Group Picture

Group Picture

The children went home happy with their new bags

The children went home happy with their new bags

Batu Ajung village is only one of the many remote locations in West Kalimantan that need serious caring touch for the sake of their future. If we go through the river alongside Batu Ajung, there are still three farther villages with the same or even worse condition.

We thank Sahabat Anak for partnering with us. The children there are very happy. The support given can help them to be more excited to study and go to school. We also send our regards to the whole team of Sahabat Anak in Jakarta. We look forward to your visit here.

Love Borneo Team

Cerita dari BATU AJUNG, Kalimantan Barat

Kami memberi nama komunitas kami: Love Borneo. Sekumpulan anak muda yang bertumbuh secara organik, tidak memiliki ketua atau kepengurusan, tetapi memiliki satu visi yang menyatukan, yaitu berbagi cinta kepada orang-orang yang membutuhkan. Tiga objek fokus pelayanan kami adalah penjara, pedalaman, dan sekolah.

Bengkayang 10

Love Borneo berterima kasih kepada Yayasan Sahabat Anak Jakarta yang sudah mau bermitra dalam salah satu kegiatan membuka Rumah Baca di pedalaman Kalimantan Barat. Tujuan dari pengadaan Rumah Baca tersebut adalah untuk meningkatkan kesadaran anak-anak dan masyarakat dusun akan pentingnya pendidikan bagi anak-anak di pedalaman. Sahabat Anak telah mendukung kami menyalurkan 80 tas sekolah lengkap dengan peralatan menulis kepada murid-murid Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Batu Ajung, Desa Dayung, Kecamatan Ledo, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

Bengkayang1

Bengkayang2

Mayoritas masyarakat di sana adalah suku Dayak Bekatik. Mereka menggunakan bahasa asli mereka dalam berkomunikasi sehari-hari dan bahasa Indonesia dalam proses belajar mengajar. Jumlah guru di SD tersebut ada 7 orang (4 guru tetap dan 3 guru honorer), termasuk Kepala Sekolah. Setiap kelas memiliki 1 guru sebagai wali kelas dan mengajar semua mata pelajaran untuk kelas tersebut.

Bengkayang 6

Akses untuk sampai ke Dusun Batu Ajung cukup panjang. Dari Pontianak sampai ke Kecamatan Ledo dapat ditempuh sekitar 4 jam dengan menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat. Kemudian dari Kecamatan Ledo ke Dusun Batu Ajung bisa diakses melalui dua pilihan jalur, darat atau air. Jika melalui darat, kita hanya bisa melakukan perjalanan selama lebih kurang 30 menit dengan roda dua, karena akses jalan yang merupakan kebun sawit yang berbukit-bukit, bertanah kuning dan tidak beraspal. Apabila turun hujan, akses jalan akan benar-benar terputus. Akses lain adalah melalui air (sungai) dengan menggunakan long boat bermesin selam dengan waktu tempuh sekitar 40 menit. Sesampainya di sana, kita akan disambut hangat oleh anak-anak. Kampung tersebut belum memiliki aliran listrik negara dan belum tersedia jaringan (sinyal) telepon selular.

Paket tas dimuat di mobil terlebih dahulu

Paket tas dimuat di mobil terlebih dahulu

Paket Tas Untuk Sahabat yang dibawa dengan perahu sampan

Paket Tas Untuk Sahabat yang dibawa dengan perahu sampan

Paket Tas Untuk Sahabat dibawa dengan perahu sampan

Paket Tas Untuk Sahabat dibawa dengan perahu sampan

Mata pencaharian masyarakat di sana cukup beragam. Ada yang bekerja sebagai nelayan, penyadap pohon karet, peladang/petani, pekerja pendulang emas di sungai, atau buruh di pabrik sawit. Pendidikan formal yang tersedia di sana hanya Sekolah Dasar. Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Menengah Atas (SMA) hanya ada di Kecamatan Ledo yang membutuhkan waktu sekitar 40 menit menggunakan perahu sampan. Kondisi perekonomian yang sulit dan akses sekolah yang susah membuat anak-anak yang sudah lulus SD dan masyarakat di sana pun tidak menganggap penting pendidikan.

Bengkayang 11

Kondisi dusun itu juga sangat kotor dan kumuh. Sungai yang seharusnya bisa menjadi penyedia air bersih sudah tercemari oleh pendulangan emas, hingga berwarna coklat keruh dan tidak bisa diolah lagi menjadi air minum. Masyarakat di sana menggunakan air hujan dan mata air untuk keperluan sehari-hari. Hewan-hewan peliharaan yang berkeliaran dengan kotorannya di mana-mana juga semakin menambah kotornya dusun tersebut. Kondisi demikian juga menyebabkan banyak anak-anak memiliki masalah kesehatan. Bahkan ada anak-anak yang menggunakan pakaian yang sama selama berhari-hari sehingga berwarna hitam dekil. Sungguh kondisi yang miris.

Tergerak akan hal ini, kami dari tim Love Borneo terbeban untuk membantu mereka menumbuhkan rasa peka akan masa depan yang lebih cerah. Kami berkomitmen untuk pergi ke dusun mereka sebulan sekali; di minggu terakhir setiap bulan. Tim kami biasanya berangkat dari Pontianak pukul 5 pagi dan melanjutkan dengan perahu pukul 10:30. Di sana, kami, secara cuma-cuma, memberikan les Matematika dan Bahasa Inggris untuk siswa SD kelas 3 sampai kelas 6. Untuk siswa kelas 1 – 2 kami ajari membaca dan berhitung dasar. Selain itu, anggota tim kami ada juga yang berprofesi sebagai perawat dan bersedia memberikan pelayanan pengobatan gratis bagi warga dusun dari siang sampai sore. Esok siangnya kami sudah harus pulang kembali ke Pontianak karena di hari Senin kami harus kembali beraktifitas dan bekerja.

Bengkayang 7

Dusun Batu Ajung adalah satu dari banyak lokasi pedalaman yang membutuhkan sentuhan orang-orang yang peduli akan masa depan penduduk di sana. Hidup mereka berhak akan cita-cita yang lebih cerah. Dusun Batu Ajung hanya sebagian kecil dari potret pedalaman Kalimantan Barat yang kekurangan. Jika kita masih terus menyusuri sungai di tepian Dusun Batu Ajung, masih ada tiga dusun lagi yang lokasinya lebih dalam dan kondisinya sama, bahkan lebih memprihatinkan.

Kami mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Sahabat Anak Jakarta yang bersedia bermitra dengan kami. Anak-anak di sana sangat senang. Bantuan yang diberikan bisa meningkatkan semangat mereka untuk rajin belajar dan bersekolah. Salam sukses selalu dari kami masyarakat Kalimantan Barat kepada seluruh tim Yayasan Sahabat Anak Jakarta. Kami nantikan teman-teman Sahabat Anak bisa berkesempatan datang ke tempat kami.

Tim Love Borneo

Senangnya Minta Ampun!

Di tempat bekerja dulu, jika proyek kami berhasil mencapai keselamatan kerja, kami akan mendapatkan penghargaan berupa tas punggung. Tasnya dihiasi dengan logo perusahaan dan tulisan sudah berapa ratus jam yang berhasil kami lewati tanpa kecelakaan. Senang dan bangga rasanya. Pertama, karena tas ini adalah kenang-kenangan pencapaian bersama. Kedua, karena tidak semua orang bisa mendapatkan tas ini. Tak lama setelah tas-tas ini dibagikan, bisa dilihat banyak orang mulai memakainya pulang-pergi dari kamp ke area kerja, bahkan untuk pulang ke daerah asal mereka di berbagai penjuru Indonesia (maklum, lokasi kami bekerja dulu terletak di area terpencil di Papua). Terlihat sekali mereka senang dengan hadiah baru ini, seperti anak sekolah yang dapat tas baru 🙂

Saya juga teringat kenangan tas sekolah saya waktu sekitar kelas SD dulu. Kenapa saya masih mengingatnya? Karena itu tas pertama yang bisa saya pilih sendiri. Senangnya minta ampun! Tasnya berwarna merah di bagian tutupnya dan bergambar kucing-kucing kecil di bagian badannya. Setiap malam saya memasukkan buku dan alat tulis dengan gembira, dan tidak sabar menunggu pagi  untuk dipakai sekolah. Padahal kalau diingat-ingat lagi, tas itu hanya dibeli dari toko kelontong di depan gang rumah kami dan harganya mungkin tidak seberapa karena orangtua saya masih harus membiayai sekolah saya dan adik-adik yang masih kecil. Walaupun sampai butut dan putus talinya hingga saya dapat tas baru lagi, tas ini tetap saya pakai saking sayangnya.

Lalu saya terpikirkan, mungkin inilah yang akan dirasakan adik-adik kita calon penerima Tas Untuk Sahabatku. Tentu, tanpa tas dan alat tulis yang bagus pun mereka sudah senang bersekolah karena bisa belajar hal baru dan bertemu teman-teman. Tapi karena untuk bisa sekolah saja orang tua mereka harus bersusah payah mengusahakan biayanya per bulan, tas atau alat tulis baru menjadi barang mewah buat mereka. Jadi alangkah lebih menggembirakan lagi kalau kita bisa memompa keinginan belajar mereka dengan alat-alat yang memadai, dan memberi mereka pendorong ekstra untuk semangat ke sekolah setiap hari. Dampak yang dihasilkan bukan hanya untuk beberapa minggu atau bulan, tapi untuk bertahun-tahun ke depan dan bisa jadi membekas di hidup mereka.

Adakah Sahabat yang pernah mengalami hal yang sama waktu sekolah dulu? Jika Sahabat berminat membantu meneruskan semangat yang sama, silahkan kontak kami untuk informasi lebih lanjut.

(Gracia M. Balthazar)

flyer TUS_Bahasa Indonesia

%d blogger menyukai ini: