Monthly Archives: Januari 2014

Flood Help Centers established

IMG-20140118-WA0001

In preparation for this year’s floods in Jakarta, we have already established two centers for donations.

The street children and their families in areas nearby each center have already been affected.

Each center is looking for different donations to help those in need. Financial donations are also accepted.

The head office of Sahabat Anak in Jalan Tambak 2 no. 23, Pegangsaan, in Central Jakarta is one of the centers.

Contact people for donations are Ellen and Yuli on (021) 3918505

Donations being sought are for blankets, medicine, underwear for children and adults, nappies, women’s sanitary napkins, baby formula, tarpaulins, and food staples like uncooked rice, cooking oil, eggs, and canned food such as sardines.

The other center is Rumah Karya near Grogol in West Jakarta. Full address is Jalan Alpukat 7 no. 29, Tanjung Duren Utara, West Jakarta.

Contact people at this center are Ida (085210287607) and Guntoro (081210853372).

Donations requested for here are takeaway meals (nasi bungkus) for morning, noon and night meals, fresh water, nappies, snacks, baby formula and tarpaulins.

Monetary contributions can be deposited to either:

Bank BCA
Account number: 230 344 4432
Account name: Yayasan Komunitas Sahabat Anak Jkt

or

Bank  Mandiri
Account number: 12 00 0601581 5
Account name: Yayasan Komunitas Sahabat Anak Jkt

Please label deposits as “flood donation” for ease of distributing funds.

Thanks in advance for your support.

Iklan

Posko Bantuan Banjir Sahabat Anak

IMG-20140118-WA0001

Dalam menyikapi bencana banjir Jakarta tahun ini, Sahabat Anak membuka dua posko untuk bantuan banjir. Masing-masing posko mencari bantuan yang sesuai dengan kebutuhan para korban banjir tersebut.

 Posko pertama, Sekretariat Sahabat Anak terletak di Jalan Tambak 2  RT 06/ RW 03 No.23 Kelurahan Pegangsaan, Jakarta Pusat.

Kontak yang bisa dihubungi 021-3918505 dengan Ellen atau Yuli.

Donasi bisa berupa selimut, obat-obatan, pakaian dalam anak-anak dan dewasa, popok bayi, pembalut wanita, susu formula, terpal, sembako (beras, minyak goring, telur, makanan kaleng seperti sarden).

Posko lainnya, Rumah karya Grogol yang berada di Jalan Alpukat 7 no. 29, Tanjung Duren Utara, Jakarat Barat.

Kontak yang bisa dihubungi 085210287607 dengan Ida  dan 081210853372 dengan Guntoro.

Donasi yang saat ini dibutuhkan berupa makanan berat seperti nasi bungkus untuk makan pagi, siang, dan malam, air mineral, popok bayi, makanan ringan, susu bayi dan terpal.

Dukungan dana dapat dikirim melalui rekening

Bank BCA  230 344 4432

Atas nama Yayasan Komunitas Sahabat Anak Jkt

atau

Bank  Mandiri 12 00 0601581 5

Atas nama Yayasan Komunitas Sahabat Anak Jkt

Dengan memberikan keterangan “donasi banjir” pada saat mengirimkannya.

Footy in the backstreets of Central Jakarta

20131129101008 2

On a Friday morning in a shaded park on the backstreets of Pegangsaan, Central Jakarta the kids from the Children’s Activity Centre or Pusat Kegiatan Anak (PKA) had their first try at Australian Rules Football (AFL). More frequently referred to as footy the sport has been in Jakarta since 1995. Indonesia has four clubs across the archipelago, two in Jakarta, one in Bali and one in Balikpapan.

The kids learnt about hand-balling, kicking and marks—all terms for the way the ball is handled during play.

While it is reasonably common to see kids kicking around a soccer ball in limited spaces the arrival of the oval shaped football at PKA immediately raised questions on how to handle it. When you kick it does it bounce everywhere?

Jakarta is deprived of wide open grassy spaces for children to run around in. Sporting grounds are limited, nowhere near the capacity that a population this size would demand.

The little park in Pegangsaan, Taman Amir Hamzah, is the best available in the vicinity. It is surrounded by roads, paved as a volleyball court and nowhere near the length of a sporting field but the children were still able to engage in some drill exercises there.

One of the rights of children is to be able to play. Unicef defines this by stating “Every child has the right to relax, play and meet with other groups of children as long as this does not harm others or stop others from enjoying their rights.”

Play using ball sports has additional benefits. Ball sports aid in the development of balance and hand-eye coordination. Awareness of posture, improved motor skills, increased self-confidence, muscle and bone development and spatial awareness through judging distances are all additional benefits of ball sports.

The next time you see a child on a street corner begging or busking for money remember that this is considered as work. This is not play and they are being deprived of natural play time by having to work. It is their parents, those that should care for them the most who push them out on the streets to earn a living. Don’t hand over your money. If you do it only keeps them there on the streets.

Campaign with us to stop giving money. Campaign with us for their right to play.

Tweet about children’s rights, be our friend on our Sahabat Anak f acebook page or visit our website at sahabatanak.org to find ways you can help support our organization and others that actively stand up for the rights of children.

Bermain Footy dan Hak untuk Berekreasi

Sudah merupakan hal yang umum diketahui bahwa Jakarta kekurangan lapangan hijau dimana anak-anak dapat berlarian bermain. Lapangan olahraga umum di Jakarta sangatlah terbatas dan tidak dapat memenuhi kebutuhan populasi di Jakarta.

20131129101008 2

Akan tetapi, pada suatu jumat pagi di sebuah taman teduh yang terletak di suatu gang di daerah Pegangsaan, Jakarta Pusat, adik-adik dari Pusat Kegiatan Anak (PKA) sedang menikmati pengalaman pertama mereka bermain Australian Rules Football (AFL) atau biasa disebut sebagai footy. Olahraga ini sudah ada di Jakarta sejak tahun 1995; sekarang ini secara nasional, Indonesia memiliki empat klub olahraga footy, dua berada di Jakarta, satu di Bali, dan satu lagi di Balikpapan. Taman teduh yang kecil tersebut bernama Taman Amir Hamzah. Taman ini merupakan taman terbaik di wilayahnya, dikelilingi oleh jalan, dengan lantai yang diperuntukan sebagai lapangan voli, dan walaupun panjangnya tidaklah mencapai  standar panjang lapangan olahraga, adik-adik dapat melakukan kegiatan berolahraga di sana.

Pada Jumat pagi itu, adik-adik dapat belajar tentang teknik dan aturan bermain footy. Bagi adik-adik yang sudah terbiasa menendang bola sepak dan bermain di lapangan berbentuk persegi, maka bola footy yang berbentuk oval cukup membingungkan adik-adik.

Salah satu hak anak adalah untuk dapat bebas bermain. UNICEF mendefiniskan hal ini dengan pernyataan “Setiap anak memililiki hak untuk berekreasi, bermain, dan bertemu dangan anak-anak lainnya asalkan hak untuk berekreasi dari masing-masing anak tidak terganggu”. Berolahraga footy memiliki manfaat positif bagi anak-anak. Olahraga membantu pertumbuhan saraf sensorik dan motorik yang bertanggung jawab atas keseimbangan dan koordinasi mata dan tangan, juga membantu pertumbuhan tulang dan otot, selain itu berolahraga dapat meningkatkan rasa percaya diri.

Jadi ketika anda menemui seorang anak yang meminta-minta uang di jalanan, maka ingatlah bahwa hal yang dilakukan si anak tersebut bukanlah sebuah permainan melainkan sebuah perkerjaan. Hal ini merampas hak mereka untuk berekreasi; adalah orang tua mereka yang seharusnya mencari penghasilan dan memenuhi kebutuhan mereka. Oleh karena itu janganlah memberikan uang pada mereka, sebab apabila anda memberikan uang, keputusan anda hanya akan memberikan alasan bagi mereka untuk tetap berada di jalanan.

Bergabunglah dengan kami untuk berhenti memberikan uang kepada anak jalanan, dan dukung hak mereka untuk berekreasi.

Untuk mengetahui hak-hak anak lebih dalam, kunjungi fanpage Sahabat Anak atau klik sahabatanak.org untuk turut serta mendukung Sahabat Anak membela hak-hak anak.

Sustainable Corporate Social Responsibility can change lives

20131115150005

The term Corporate Social Responsibility (CSR) came into use in the late 1960s and has grown in acceptance as more corporations recognize the link between the sustainability of their business and its obligation to the world. Business is no longer about just making a profit but about recognizing the impacts it has on the community and environment around it. In real terms a mining company may concentrate its efforts on environmental sustainability, nurturing and supporting relationships in the local community through educational forums, job opportunities and re-vegetation projects.

This engagement can align with personal values so companies can attract employees with similar values and inversely prospective employees can make judgments on possible future employers based on their CSR goals, engagement and values.

Many consumers and investors expect corporations to act in a socially responsible manner and corporations respond to this. The extent to which a company implements comprehensive and sustainably CSR activity can influence consumer and investor decisions.

The aforementioned, respect for human rights can be portrayed by the CSR projects companies chose to engage in. While the primary responsibility for the enforcement of international human rights standards lies with national governments, there is a growing acceptance that corporations also have an important role to play.

Recently, different areas of Sahabat Anak have had a variety of opportunities to be recipients of corporate CSR projects from companies like:

  • Bank Mizuho
  • Accenture
  • Yahoo
  • Sari Pan Pacific Jakarta
  • Skyteam (the CSR program of Aeroflot)

Through these CSR projects street and marginalized children had a variety of opportunities to be involved in an activity not accessible in their usual lifestyle.

Some had an outing to Kebun Raya in Bogor to learn about the plants in the world renowned gardens and then on to the Fishing Village for a spot of fishing. Others are having monthly cooking demonstrations, while more had training in making presentations when they became finalists in this year’s KADO project.

From learning to make origami to having a tribe of helpers to clean the non-formal school CSR projects like these bring businesses in touch with the less fortunate residents of their society.

If your organization, no matter how big or how small, is planning on a CSR project, Sahabat Anak can always find a way to accommodate you. Bringing the children into contact with a wide variety of people not only raises their confidence but also their awareness. Contact Alles Saragi at alles@sahabatanak.com or on (021) 391 8505 to offer you support.

 

Corporate Social Responsibility yang berkelanjutan dapat mengubah kehidupan

20131115150005

Istilah Corporate Social Responsibility (CSR) mulai digunakan pada akhir tahun 1960 kemudian lebih diterima oleh perusahaan sebagai sebuah hubungan antara keberlanjutan bisnis mereka dan kewajiban mereka terhadap dunia. Bisnis tidak lagi hanya bagaimana mencari keuntungan tetapi juga mengenali Bisnis tidak lagi bagaimana menghasilkan keuntungan tetapi juga mengenali dampaknya bagi masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. Secara riil perusahaan pertambangan dapat berkonsentrasi pada upaya kelestarian lingkungan, memelihara dan mendukung hubungan dalam masyarakat setempat melalui forum pendidikan, kesempatan kerja dan proyek-proyek re-vegetasi.

Keterlibatan sosial dapat sejalan dengan nilai-nilai individu, sehingga perusahaan-perusahaan dapat menarik karyawannya dengan nilai-nilai yang sama sehingga calon karyawan terbaik bisa ditentukan kegiatan CSR yang mereka ikuti, keterlibatan dan nilai-nilai.

Banyak konsumen dan investor mengharapkan perusahaan untuk melakukan tanggung jawab sosial dan perusahaan pun merespon hal ini. Sejauh mana perusahaan menerapkan kegiatan yang komprehensif dan berkelanjutan CSR dapat mempengaruhi keputusan konsumen dan investor.

Hal tersebut merupakan suatu  penghormatan terhadap hak asasi manusia (HAM) yang dapat diperankan melalui proyek-proyek CSR perusahaan untuk terlibat langsung.  Sementara itu, tanggung jawab utama bagi pemberlakuan standar HAM internasional terletak pada pemerintah nasional, ada penerimaan yang berkembang bahwa perusahaan juga memiliki peran penting untuk bermain.

Baru-baru ini, beberapa area binaan Sahabat Anak mendapatkan berbagai kesempatan untuk menjadi penerima proyek CSR perusahaan dari perusahaan seperti:

  • Bank Mizuho
  • Accenture
  • Yahoo
  • Sari Pan Pacific Jakarta
  • Skyteam (the CSR program of Aeroflot)

Melalui proyek CSR ini adik-adik binaan memiliki berbagai kesempatan untuk terlibat dalam suatu kegiatan yang tidak dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Beberapa kegiatan yang mereka lakukan diantaranya yaitu, jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor untuk mengenal tanaman-tanaman kebun terkenal di dunia, Fishing Village untuk memancing, mengajarkan adik-adik untuk memasak setiap bulan sekali, dan sementara yang lainnya lebih memilih untuk melakukan pelatihan dalam membuat presentasi ketika mereka menjadi finalis dalam proyek KADO.

Jika organisasi anda, tidak peduli seberapa besar atau kecilnya, berencana melakukan proyek CSR, Sahabat Anak selalu akan mencari cara untuk mengakomodasinya. Mengajak anak-anak mengenal berbagai macam orang tidak hanya meningkatkan rasa percaya diri mereka, tetapi juga kesadaran mereka. Hubungi Alles Saragi di alles@sahabatanak.com atau di (021) 391 8505 untuk memberikan dukungan Anda.

Attendance, diligence and effort – star qualities

In Manggarai on the afternoon of Mother’s Day, 22 December, on a quiet street in a public hall there is a lot of noise. It is rowdy with the noise of marginalized children preparing for a bazaar and performances for their end of year celebration.

Mother’s Day goes largely unnoticed in Indonesia. There is no equivalent day for fathers. The children of Manggarai are aware of it has been their learning theme for December — mother. They have drawn pictures, created pieces of glittery artwork, written stories and poems during the month which are on display for the patrons of the afternoon to view.DSC02156 1During the year the children from two venues in Manggarai have accumulated points for attendance, diligence and effort in the classes they attend with Sahabat Anak. Friday night classes are for English lessons only and are held in a multipurpose room the other side of the train station.

Sunday and Monday classes have a range of subjects for the children. All the children have points to spend. The points are represented by stars.

There are over 30 dedicated volunteers, young professionals, helping out the children and the young families of this community. Some of the volunteers are the same age as the parents of these children. A visual representation of life path differences.

The children get to cash in their points for items at the bazaar. A backpack is worth 13 stars. There is much excitement as the children go in class groups to select their rewards.

The volunteer teachers start the performance session of the afternoon’s activities with a dance. The kids are riveted watching their teachers. This display gives them confidence to get up in front of an audience to perform when it is their turn. There are nine performances to follow.

The Friday night classes that focus on English put on two of those performances. The first is from the class of smaller children singing ‘You are my sunshine’ and the larger children recite a poem called Mother and sing a song also.

There is a mask wearing dance performance from the Orange Class, and the Banana Class is a set of 13 girls dressed as pink dancing mice. A choir of little cherubs sings also. After all of the children’s performance the teachers head back to the dance floor singing a song especially for the children and hand out flowers.

Some children hadn’t spent all their star points so more shopping had to be finalized before the event was finished.

One of the children in the audience was an older boy, maybe 14 or 15. He is a boy that has been through this system going to the same weekend classes as the children that now attend. A couple of years ago, he was sponsored to attend Sahabat Anak’s non-formal school in Pegangsaan. He wasn’t attending school as he was needed to help out with a growing family. He had been out of the school system for five years.

 From the non-formal school he made his way back to the formal schooling system with the assistance of Sahabat Anak. Getting back into the school system is a significant milestone but not the end of the road.

He still comes from a marginalized family with younger siblings who now attend the tutorial lessons. He still attends extra curricula activities that he enrolled in with SahabatAnak before getting back into school. So, he is still a part of the Sahabat Anak family, under their care until such time as he secures the job he can get as an adult with the skills he has accumulated or he no longer needs the assistance.

He sits and cheers on the children with their recitals and performances. He encourages his younger siblings, you can do that too.

His presence is a layer of reassurance and confirmation that things can work out for the best when you have star qualities such as diligence and effort.

 

Kehadiran, ketekunan dan usaha – kualitas bintang

Suatu siang di Manggarai, pada tanggal 22 Desember lalu, bertepatan dengan Hari Ibu, Karang Taruna Manggarai dipenuhi banyak suara. Adik-adik Sahabat Anak (SA) Manggarai sedang mempersiapkan bazar dan pertunjukan untuk perayaan akhir tahun mereka.

Tidak ada peringatan sejenis bagi para ayah, seperti Hari Ibu. Tema belajar adik-adik selama bulan Desember adalah “Ibu”. Mereka menggambar, membuat aneka kerajinan tangan dengan kilau gliter, menulis cerita dan puisi,dan kemudian dipajang untuk para pengunjung sore itu.

DSC02156 1

Selama satu tahun, adik-adik yang belajar di dua lokasi SA Manggarai ini telah mengumpulkan poin untuk kehadiran dalam bimbingan belajar (bimbel), kerajinan, dan kerja keras mereka. Kelas Jumat malam adalah kelas bahasa Inggris, yang diadakan di Karang Taruna Manggarai, dekat stasiun kereta.

Kelas Minggu dan Senin diisi berbagai mata pelajaran untuk adik-adik. Semua adik memiliki poin untuk dipakai saat bazar. Poin ini ditandai dalam bentuk bintang.

Ada sekitar 30 kakak voluntir, profesional muda yang berdedikasi untuk membantu adik-adik dan keluarga muda di komunitas ini. Beberapa dari voluntir usianya sama dengan orang tua adik-adik binaan, sebuah bentuk nyata perbedaan jalan hidup.

Poin kehadiran adik-adik ditukar dengan barang-barang yang dijual di bazar. Sebuah tas ransel harganya 13 bintang. Adik-adik sangat bergembira ketika mereka memilih hadiah.

Kakak-kakak voluntir memulai kegiatan sore itu dengan menampilkan tarian. Adik-adik terpaku melihat kakak-kakaknya. Penampilan itu membuat adik-adik merasa lebih percaya diri ketika tiba saatnya mereka tampil. Ada sembilan pertunjukkan yang ditampilkan.

Adik-adik kelas Jumat, yang fokus pada pelajaran Bahasa Inggris, menampilkan dua pertunjukkan. Penampilan pertama dari kelas adik-adik yang lebih kecil, mereka bernyanyi “You are my sunshinedan adik-adik yang lebih besar membacakan puisi ‘Ibu’ dan juga bernyanyi.

Ada pertunjukan tari topeng dari Kelas Orange dan Kelas Banana, ada 13 adik perempuan menari dengan kostum tikus berwarna pink. Sebuah paduan suara malaikat kecil juga bernyanyi. Setelah semua pertunjukan ditampilkan, para pengajar kembali ke depan dan menyanyikan sebuah lagu khusus untuk adik-adik dan memberikan mereka bunga.

Belum semua anak menghabiskan bintangnya, sehingga “belanja” dilanjutkan sebelum kegiata selesai.

Seorang adik laki-laki yang juga ikut menonton acara ini, usianya sekitar 14-15 tahun. Ia adalah seorang adik yang juga mengikuti kegiatan bimbel Manggarai setiap akhir pekan. Beberapa tahun yang lalu, ia mengikuti sekolah non-formal  SA, Pusat Kegiatan Anak (PKA)  di Pegangsaan. Ia tidak bisa mengikuti sekolah formal karena harus membantu perekonomian keluarga. Ia telah putus sekolah selama lima tahun.

Melalui sekolah non-formal SA, ia mampu kembali ke sekolah formal. Hal ini adalah langkah besar yang penting, tetapi bukan akhir dari perjalanannya.

Ia berasal dari keluarga marjinal dan adik-adiknya saat ini juga mengikuti kegiatan bimbel SA. Ia masih menghadiri kegiatan ekstrakurikuler SA yang sebelumnya sudah diikuti saat masih bersekolah di sana. Ia masih bagian dari keluarga Sahabat Anak, yang mendapat perhatian sampai dewasa dan mendapat pekerjaan atau ketika ia tidak lagi membutuhkan dukungan khusus.

Ia duduk dan ikut bersorak-sorai melihat penampilan adik-adik. Ia juga ikut mendukung adik-adiknya sendiri.

Kehadirannya merupakan jaminan kepastian bahwa hasil terbaik diperoleh ketika kita memiliki kualitas bintang untuk tekun dan bekerja keras.

%d blogger menyukai ini: